www.mfat.govt.nz www.safetravel.govt.nz
Go to home page - New Zealand Ministry of Foreign Affairs & Trade.

You are here: MFAT blogs > David Taylor > 4th Bali Process Ministerial Meeting on People Smuggling, Trafficking and Related Transnational Crimes

4th Bali Process Ministerial Meeting on People Smuggling, Trafficking and Related Transnational Crimes

20th April 2011 by David Taylor, Jakarta | No Comments

 Indonesia hosted the 4th Bali Process Ministerial Meeting on People Smuggling, Trafficking and Related Transnational Crimes on 30 March. Indonesian Foreign Minister Marty Natalegawa and Australian Foreign Minister Kevin Rudd co-chaired the event, and Immigration Minister Jonathan Coleman represented New Zealand. Some 40 countries participated in the meeting.

The long title belies the importance and complexity of the issues the Bali Process addresses. IOM (International Organization for Migration) head Ambassador Swing said that trans-national crime was worth about US$650 million per year and that people smuggling and trafficking made up the third largest illegal trade after drugs and arms.

The issues are complex and difficult to address. The source countries face war or poverty or both. The transiting countries have to deal with criminal elements and the people they traffic. Destination countries face unwanted arrivals and often have to deal with accidents and the welfare of irregular migrants for extended periods. Those involved in smuggling are sophisticated, have access to substantial amounts of money and increasingly large vessels.

Globally, there are 15 regional programmes working to find ways to deal with the scourge of people smuggling, but the Asia-Pacific region is the first to make substantive progress towards a formal framework. The recent Bali meeting approved a regional cooperation framework which will enable countries to better cooperate to address the various challenges associated with smuggling, trafficking and connected problems. Ministers also agreed to find a way for the Bali Process to link with some of the other multilateral and regional programmes.

That’s an important start – it means that all 40 participating countries have agreed about the need to address the problem; have opened the door for specific initiatives between member countries to deal with particular problems; and will regularly check on progress and improve cooperation.

The idea of establishing a new regional centre in any particular country was not discussed at the meeting. I don’t know whether this will go forward or not. But I am sure that there will be ongoing dialogue among the key players about how to make progress on the core issues – especially on finding ways to disrupt the people smugglers’ business model and punish those who seek to exploit vulnerable migrants. The Bali Process will also facilitate cooperation on people trafficking – especially to identify and prosecute criminals who exploit women and children for sex and labour.

New Zealand has not yet experienced major problems related to people smuggling. But we are a potential destination country and – as Australia and Canada have experienced – we may wake up one morning to find a vessel has reached our shores or got into trouble in our search and rescue zone. We’re better, as Prime Minister Key has said, to seek to be “part of the solution”, than to hope the boats will never reach us or to leave it to others to try and find robust solutions.

Pertemuan Tingkat Menteri Proses Bali ke 4 tentang Penyelundupan Manusia, Perdagangan Manusia, dan Kejahatan-Kejahatan Internasional Terkait Lainnya

Indonesia menjadi tuan rumah Pertemuan Tingkat Menteri Proses Bali ke 4 tentang Penyelundupan Manusia, Perdagangan Manusia, dan Kejahatan-Kejahatan Internasional Terkait Lainnya pada tanggal 30 Maret. Menteri Luar Negeri Indonesia Marty Natalegawa dan Menteri Luar Negeri Australia Kevin Rudd memimpin bersama acara ini, dan Menteri Imigrasi Jonathan Coleman mewakili Selandia Baru. Sekitar 40 negara berpartisipasi dalam pertemuan tersebut.

Judul yang panjang di atas merepresentasikan pentingnya dan rumitnya masalah-masalah yang Proses Bali berusaha pecahkan. Kepala IOM Duta Besar Swing menyatakan bahwa kejahatan transnasional bernilai sekitar US$650 juta per tahun dan bahwa penyelundupan dan perdagangan manusia menempati posisi perdagangan ilegal nomer tiga terbesar setelah obat-obatan terlarang dan persenjataan.

Masalah-masalah ini sangat rumit dan susah untuk dipecahkan. Negara-negara asal menghadapi peperangan atau kemiskinan atau keduanya. Negara-negara yang menjadi tempat transit harus menghadapai berbagai elemen kejahatan dan orang-orang yang diperdagangkan. Negara-negara tujuan menghadapi kedatangan-kedatangan yang tidak diharapkan dan seringkali harus berurusan dengan berbagai kecelakaan dan kesejahteraan dari para pendatang haram untuk waktu-waktu yang panjang. Mereka yang terlibat dalam penyelundupan sangatlah canggih dan memiliki akses ke jumlah uang yang sangat besar dan kapal-kapal yang besar.

Di dunia, terdapat 15 program regional yang bekerja untuk mencari jalan-jalan untuk menghadapi sumber permasalahan dari penyelundupan manusia, tetapi wilayah Asia Pasifik adalah wilayah pertama yang mencapai kemajuan yang berarti menuju sebuah kerangka kerja yang formal. Pertemuan Bali baru-baru ini menyetujui sebuah kerangka kerja kerjasama yang membuat negara-negara dapat bekerja sama dengan lebih baik untuk memecahkan berbagai tantangan yang terkait dengan penyelundupan, perdagangan, dan masalah-masalah terkait lainnya. Para Menteri juga setuju untuk mencari jalan bagi Proses Bali untuk berhubungan dengan berbagai program multilateral dan regional lainnya.

Ini adalah sebuah awal yang penting – ini berarti bahwa 40 negara yang berpartisipasi telah setuju tentang kebutuhan untuk memecahkan masalah ini; telah membuka pintu untuk berbagai inisiatif khusus antarnegara-negara anggota untuk memecahkan masalah-masalah tertentu; dan akan secara berkala memonitor perkembangan dan memperbaiki kerjasama.

Ide untuk membentuk sebuah pusat regional baru di sebuah negara tertentu tidak dibahas pada pertemuan tersebut. Saya tidak tahu apakah hal ini akan dilanjutkan atau tidak. Tetapi saya yakin bahwa akan ada dialog di antara para pemain kunci tentang bagaimana untuk mencapai kemajuan pada berbagai isu utama – terutama pada pencarian jalan-jalan untuk mengacaukan model bisnis para penyelundup manusia dan untuk menghukum mereka yang berusaha untuk mengeksploitasi para migran yang rentan. Proses Bali akan memfasilitasi juga kerjasama tentang perdagangan manusia – utamanya untuk mengidentifikasi dan menuntut secara hukum para perjahat yang mengeksploitasi para perempuan dan anak-anak untuk seks dan tenaga kerja.

Selandia Baru belum pernah mengalami masalah-masalah besar terkait penyelundupan manusia. Tetapi kami adalah sebuah negara tujuan potensial dan – seperti yang Australia dan Kanada telah alami – kami mungkin suatu hari nanti akan mendapati sebuah kapal telah mencapai pantai kami atau sebuah kapal telah mengalami masalah di wilayah search and rescue kami. Kami lebih baik, seperti yang Perdana Menteri Key telah nyatakan, berusaha untuk menjadi “bagian dari pemecahan masalah”, ketimbang berharap bahwa kapal-kapal tersebut tidak akan pernah sampai di Selandia Baru atau ketimbang menyerahkan masalah ini ke pihak-pihak lain untuk dicarikan pemecahan-pemecahan yang kuat.

More photos are available on the NZ Embassy Facebook page.

Comments are moderated. Please read our terms and conditions before posting.

Leave a Reply

Our terms and conditions