www.mfat.govt.nz www.safetravel.govt.nz
Go to home page - New Zealand Ministry of Foreign Affairs & Trade.

You are here: MFAT blogs > David Taylor > An Indonesian Movie Star with a Kiwi Background / Seorang Bintang Film Indonesia dengan Latar Belakang Selandia Baru

An Indonesian Movie Star with a Kiwi Background / Seorang Bintang Film Indonesia dengan Latar Belakang Selandia Baru

7th April 2011 by David Taylor, Jakarta | No Comments

I had the pleasure recently to meet up and coming Indonesian actor, Ario Bayu. He’s made a name for himself as a star in highly regarded films, including “Kala” and “Pintu Terlarang” (Forbidden Door) by one of Indonesia ’s top film-makers Joko Anwar. “Kala” was picked by Sight and Sound, a British film magazine published by the British Film Institute, as one of the world’s best films in 2007. The film also won the Best Film Award at the 2008 Berlin Asia Hot Shots Film Festival and the Best Visual Achievement Award at the 2008 New York Asian Film Festival. The following year, “Pintu Terlarang” won the Best Movie Award at the Puchon International Fantastic Film Festival. His next film, being post-produced now, is “Catatan (Harian) si Boy”  (Boy’s Diary), a remake of an Indonesian blockbuster movie from the 1980s.

Bayu also starred in the critically acclaimed box office movie “Laskar Pelangi” (Rainbow Warriors). The film, which conveys strong education and multicultural messages, managed to attract 4.6 million movie goers when it was screened in Indonesia’s movie theatres in 2008.

Bayu spent much of his youth in New Zealand, where he enjoyed rugby, motocross bikes and punk music. He speaks English with a great kiwi accent and still takes a close interest in what’s happening in his second country.

His family moved to Hamilton where his father has built a successful food business. His sister is studying at Victoria University in Wellington.

We had a great conversation about film, music, as well as youth in Indonesia and New Zealand.

Bayu spoke very positively about his years in New Zealand – he obviously loved the environment and made great friendships there. He hopes more Indonesians will travel to or study in New Zealand and was pleased to hear about the Embassy’s efforts to try and make that happen.

Bayu said he would be happy to support efforts to strengthen relations between our two countries. I plan to take him up on that. It’s great to have relationship Ambassadors like Bayu; people with a foot in both countries, an understanding and affection for both and a willingness to share their thoughts and experiences. I wish him well in his acting career and look forward to seeing “Boy’s Diary” in mid-2011.

Seorang Bintang Film Indonesia dengan Latar Belakang Selandia Baru

Saya bahagia baru-baru ini bisa berjumpa dengan seorang aktor Indonesia yang mulai bersinar, Ario Bayu. Dia telah membintangi beberapa film yang mendapat apresiasi tinggi, termasuk “Kala” dan “Pintu Terlarang” (Forbidden Door) yang disutradarai oleh salah satu pembuat film terbaik di Indonesia Joko Anwar. “Kala” dipilih oleh Sight and Sound, sebuah majalah film Inggris yang diterbitkan oleh Institut Film Inggris, sebagai salah satu film terbaik dunia di tahun 2007. Film tersebut juga memenangkan Penghargaan Film Terbaik di Festival Film Berlin Asia Hot Shots 2008 dan Penghargaan Pencapaian Visual Terbaik di Festival Film New York Asia 2008. Tahun berikutnya, ” Pintu Terlarang ” memenangkan Penghargaan Film Terbaik di Festival Film Fantastis Internasional Puchon. Film Bayu yang berikutnya, yang sekarang sedang diproduksi, adalah “Catatan (Harian) si Boy” (Boy’s Diary), sebuah film daur ulang dari sebuah film Indonesia yang sangat popular di tahun 1980an.

Bayu juga membintangi film laris berkualitas tinggi “Laskar Pelangi” (Rainbow Warriors). Film ini, yang membawa pesan-pesan pendidikan dan multikultural yang kuat, mampu menyedot 4.6 juta penonton ketika diputar di bioskop-bioskop Indonesia pada tahun 2008.

Bayu menghabiskan sebagian besar masa mudanya di Selandia Baru, di mana dia menikmati rugby, motorcross, dan musik punk. Dia berbahasa Inggris dengan aksen Kiwi yang kental dan tetap memperhatikan dengan seksama apa yang sedang terjadi di negara keduanya tersebut.

Keluarganya pindah ke Hamilton di mana ayahnya telah membangun sebuah usaha makanan. Saudara perempuannya sekarang sedang belajar di Universitas Victoria di Wellington.

Kita berdiskusi tentang film, musik, dan juga anak muda di Indonesia dan Selandia Baru.

Bayu bercerita dengan sangat positif tentang tahun-tahunnya di Selandia Baru – jelas dia mencintai lingkungannya di sana dan mempunyai banyak sahabat di sana. Dia berharap lebih banyak orang Indonesia yang berkunjung atau belajar di Selandia Baru, dan dia sangat senang ketika mendengar tentang upaya-upaya Kedutaan Besar untuk berusaha mencapai hal-hal tersebut.

Bayu berkata bahwa dia akan sangat senang untuk mendukung upaya-upaya untuk mempererat hubungan antara kedua negara. Saya berencana untuk menyertakan dia dalam hal ini. Sangatlah menggembirakan untuk mempunyai Duta-Duta Besar Hubungan seperti Bayu; orang dengan kaki di kedua negara, dengan pemahaman dan rasa sayang untuk kedua negara, dan dengan sebuah kesediaan untuk berbagi pemikiran dan pengalaman. Saya doakan yang terbaik untuk karir filmnya dan tak sabar untuk melihat dia dalam Catatan Si Boy di pertengahan 2011.

Comments are moderated. Please read our terms and conditions before posting.

Leave a Reply

Our terms and conditions