www.mfat.govt.nz www.safetravel.govt.nz
Go to home page - New Zealand Ministry of Foreign Affairs & Trade.

You are here: MFAT blogs > David Taylor > ASEAN – Indonesia at the helm / ASEAN – Indonesia Sebagai Pemimpin

ASEAN – Indonesia at the helm / ASEAN – Indonesia Sebagai Pemimpin

2nd February 2011 by David Taylor, Jakarta | No Comments

ASEAN Indonesia 2011 logo

ASEAN Indonesia 2011

Indonesia has just taken up the chairmanship of the Association of South East Asian Nations (ASEAN). Under ASEAN’s rotational arrangements, it will hold this important responsibility for all of 2011. Cambodia will be chair in 2012.

ASEAN continues to evolve and develop. The main priorities at present are achieving the ambitious economic integration agenda leaders have set, running through till 2015 when they expect an ASEAN economic community to be a reality (involving freer trade, easier movement of people across borders etc), and bedding in the newly expanded East Asia Summit (EAS), with new members the Russian Federation and the United States making their formal appearance at leader’s level at this year’s meeting.

The integration work poses huge challenges. Vastly divergent stages of development, issues of size and scale, and cultural and language differences are going to take time to consider and work through, but those are nothing new. Since its establishment in 1967, ASEAN has had to deal with similar issues. Increased membership has complicated the picture, but the ASEAN nations have consistently demonstrated tenacity in their internal and external engagement and there is a strong political consensus in support of integration. I’m confident ASEAN will find ways to take account of the various challenges they will encounter and that the ASEAN community will become more advanced and stronger over time.

The expanded EAS has already had a lot of air-time with commentators speculating on the direction of this grouping with an expanded membership. With the addition of the United States and the Russian Federation, there is no doubt: the dynamic will change. Political issues will be in sharper focus and there will be fresh impetus to advance concrete streams of work in a systemic fashion. There will likely be a settling in period as ASEAN, which “sits in the driver’s seat” (to use the term most often used to describe their leadership role in the EAS), works out how best to accommodate new pressures and interests.

What does chairmanship mean in practice for Indonesia? The Republic will take the lead in setting the agenda for ASEAN, in consultation of course with its partners and working closely with the ASEAN Secretariat which supports members and initiatives. It will be an opportunity to shape the direction and speed for the ASEAN ship and to create new initiatives and priorities. Indonesia will also take the lead in reporting publicly on ASEAN initiatives and meetings. As host, something like 300 meetings will be held in Indonesia, providing opportunities for Indonesian people to learn about ASEAN and for visitors to learn more about Indonesia. There will also be useful economic spin-offs for the cities and businesses involved.

The ASEAN Foreign Ministers held their first retreat of 2011 in Lombok recently. Indonesia came prepared with ideas and suggestions. Foreign Minister Natalegawa and his officials will be sharpening up their thinking over coming weeks before a meeting of ASEAN Senior Officials and a further Foreign Ministers retreat, both to be held in March. By the time ASEAN Leaders meet in May, for the first of their two meetings in 2011, I expect some of the new ideas will be coming together. Indonesia will be driving for tangible outcomes on its ASEAN initiatives and progress on current regional problems. A well-run year as chair will burnish Indonesia’s credentials further, just as Viet Nam earned kudos for its management of ASEAN last year.

So far as New Zealand is concerned, ASEAN is the entry point for our engagement with the wider Asia-Pacific region. We’ve worked hard for decades to build strong links with ASEAN, both as a collective and through engagement with individual members. We value our standing as one of ASEAN’s first dialogue partners; our place at the EAS table and in other ASEAN-led bodies like the ASEAN Regional Forum; and the extensive and deepening ties we have with the ASEAN region.

In the coming year, we will be working hard to implement the ASEAN Australia New Zealand Free Trade Agreement (AANZFTA) which has the potential to bring the Australian and New Zealand economies closer to the integrating ASEAN family. We will also be implementing the new five year programme of cooperation approved by Ministers last year, including flagship projects in education, agriculture cooperation, disaster management and business leadership links. Throughout the year we will stay in close contact with Indonesia and our other ASEAN partners about their agenda and work programme and we look forward to participating in the newly expanded EAS later in the year.

I wish Indonesia every success as chair this year. I’m fully confident that the ASEAN process will continue to advance the shared interests of ASEAN member countries and that Indonesian diplomacy will secure new impetus in several areas (including the focus of the EAS; progress on a foreign policy platform for ASEAN and the whole integration agenda; and higher public awareness of ASEAN). This ongoing effort to sustain ASEAN as a prosperous, stable and outwardly engaged collective will benefit the region and close partners like New Zealand.

ASEAN – Indonesia Sebagai Pemimpin

Indonesia baru saja mengambil alih kepemimpinan Persatuan Bangsa-bangsa Asia Tenggara (Association of South East Asian Nations-ASEAN). Sesuai dengan ketentuan penggiliran jabatan ketua, Indonesia akan memegang tanggungjawab penting ini selama tahun 2011. Kamboja kemudian akan menggantikan sebagai ketua untuk 2012.

ASEAN terus berubah dan berkembang. Prioritas utamanya sekarang adalah untuk mencapai ambisi integrasi ekonomi di wilayah ini sebagaimana yang telah dicanangkan oleh para pemimpinnya. Hal tersebut akan berlanjut sampai tahun 2015 saat perekonomian di wilayah ini diharapkan telah sepenuhnya menyatu (meliputi perdagangan yang lebih bebas, pergerakan yang lebih mudah bagi orang-orang melewati perbatasan, dll) dan memberikan dasar bagi Pertemuan Tingkat Tinggi Asia Timur (East Asia Summit-EAS) yang baru saja berkembang, dengan anggota-anggota barunya Federasi Rusia dan Amerika Serikat yang hadir secara formal pada pertemuan para pemimpin Negara di tahun ini.

Usaha untuk integrasi ini diikuti oleh tantangan-tantangan besar. Perbedaan-perbedaan besar dalam hal taraf pembangunan yang terkait dengan ukuran dan tingkatan, serta perbedaan budaya dan bahasa harus dipertimbangkan dan diatasi dalam jangka waktu yang tidak singkat. Namun demikian, hal-hal tersebut bukanlah sesuatu yang baru. Semenjak pendiriannya di tahun 1967, ASEAN telah berurusan dengan ha-hal serupa. Jumlah keanggotaan yang bertambah membuat situasi semakin rumit, namun negara-negara anggota ASEAN telah secara konsisten menunjukkan kegigihan mereka dalam hal mengatasi masalah di dalam maupun di luar organisasi, serta menunjukkan kesepakatan politik yang kuat demi mendukung integrasi. Saya yakin bahwa ASEAN akan menemukan cara untuk mengatasi tantangan-tantangan yang akan dihadapi dan bahwa masyarakatnya akan menjadi lebih berkembang dan lebih kuat di masa mendatang.

EAS yang telah berkembang sudah mengalami masa sulit saat menghadapi komentar-komentar yang berspekulasi tentang arah kelompok ini dengan jumlah keanggotaan yang semakin banyak. Dengan bergabungnya Amerika Serikat dan Federasi Rusia, tidak diragukan lagi bahwa dinamika organisasi tersebut akan berubah. Isu-isu politik akan berada pada fokus yang lebih tajam dan akan ada dorongan baru untuk lebih memajukan arus kerja yang konkrit dalam cara yang sistemik. Akan ada kecenderungan pada saat tertentu bagi ASEAN untuk (menggunakan istilah yang sering digunakan untuk menggambarkan peran pimpinan di EAS) “mengemudi”, dengan mencari cara terbaik untuk mengakomodasi tekanan-tekanan sekaligus kepentingan-kepentingan baru.

Apa sebenarnya makna dari kepemimpinan bagi Indonesia? Republik ini akan memimpin penetapan agenda bagi ASEAN, tentunya setelah dirundingkan dengan para rekannya dan bekerjasama erat dengan Sekretariat ASEAN yang mendukung para anggotanya serta gagasan dan prakarsa baru. Hal tersebut akan menjadi kesempatan untuk menetapkan arah dan kecepatan kapal ASEAN sekaligus untuk menciptakan prakarsa dan prioritas baru. Indonesia juga akan memimpin dalam hal melaporkan kepada publik tentang prakarsa dan pertemuan-pertemuan ASEAN. Sebagai tuan rumah, Indonesia akan menjadi tempat bagi sekitar 300 pertemuan. Hal tersebut akan memberikan kesempatan bagi bangsa Indonesia untuk belajar lebih banyak tentang ASEAN dan bagi para tamu untuk belajar lebih banyak tentang Indonesia. Selain itu, akan juga ada kesempatan untuk datangnya keuntungan secara ekonomi bagi kota-kota dan bisnis yang terlibat.

Menteri-menteri luar negeri ASEAN baru-baru ini melangsungkan pertemuan pertama mereka di tahun 2011 di Lombok. Indonesia hadir dengan penuh persiapan dengan gagasan dan saran-saran. Menteri Luar Negeri Natalegawa beserta stafnya akan mempertajam pemikiran mereka dalam beberapa pekan kedepan sebelum berlangsungnya pertemuan Pejabat Tinggi ASEAN dan pertemuan Menteri Luar Negeri berikutnya – keduanya akan berlangsung di bulan Maret. Pada saat Pertemuan Para Pemimpin ASEAN di bulan Mei, sebagai pertemuan pertama mereka pada tahun 2011, saya berharap akan ada gagasan-gagasan baru. Indonesia akan menentukan arah bagi hasil-hasil nyata untuk prakarsa dan kemajuan ASEAN dalam mengatasi permasalahan terbaru di wilayah ini. Kepemimpinan yang baik selama satu tahun ini akan lebih memantapkan prestasi Indonesia, sebagaimana Viet Nam yang mendapatkan pujian saat mengelola ASEAN tahun lalu.

Sejauh pengamatan Selandia Baru, ASEAN adalah pintu masuk bagi kerjasama kami dengan wilayah Asia-Pasifik. Kami telah bekerja keras selama berpuluh-puluh tahun untuk mempererat kerjasama dengan ASEAN, secara kolektif maupun dengan masing-masing negara anggota. Kami menjunjung tinggi posisi kami sebagai salah satu rekan awal diskusi ASEAN; tempat kami di meja EAS dan badan-badan lain dibawah kepemimpinan ASEAN seperti Forum Regional ASEAN; serta ikatan kuat dan mendalam yang kami miliki dengan wilayah ASEAN.

Di tahun-tahun mendatang, kami akan bekerja keras untuk merealisasikan Kerjasama ASEAN dengan Australia dan Selandia Baru (ASEAN Australia New Zealand Free Trade Agreement-AANZFTA) yang akan membawa ekonomi Australia dan Selandia Baru lebih dekat dengan keluarga ASEAN yang terpadu. Kami juga akan merealisasikan program kerjasama lima tahun yang telah disepakati oleh para Menteri tahun lalu, termasuk proyek-proyek utama di bidang pendidikan, kerjasama pertanian, pengelolaan bencana dan kerjasama kepemimpinan. Selama tahun ini kami akan membina hubungan yang dekat dengan Indonesia dan rekan kami lainnya di ASEAN, terkait dengan agenda dan program kerja. Di tahun ini juga kami menantikan untuk turut serta dalam EAS yang baru berkembang.

Saya mengucapkan semoga berhasil bagi kepemimpinan Indonesia tahun ini. Saya sangat yakin bahwa ASEAN akan terus memajukan kepentingan bersama negara-negara anggotanya dan bahwa diplomasi Indonesia akan mendorong kemajuan di beberapa bidang (termasuk fokus terhadap EAS, kemajuan dalam hal landasan kebijakan luar negeri bagi ASEAN dan seluruh agenda integrasi; serta kesadaran publik yang lebih tinggi tentang ASEAN). Upaya ini terus berlangsung untuk membuat ASEAN terus menjadi kelompok yang berjaya, stabil dan turut aktif di luar organisasinya,-yang akan menguntungkan bagi wilayahnya serta rekan-rekan dekatnya seperti Selandia Baru.

Comments are moderated. Please read our terms and conditions before posting.

Leave a Reply

Our terms and conditions