www.mfat.govt.nz www.safetravel.govt.nz
Go to home page - New Zealand Ministry of Foreign Affairs & Trade.

You are here: MFAT blogs > David Taylor > ASEAN and Australia/New Zealand : Learning Together / ASEAN dan Australia/Selandia Baru: Belajar Bersama

ASEAN and Australia/New Zealand : Learning Together / ASEAN dan Australia/Selandia Baru: Belajar Bersama

20th July 2011 by David Taylor, Jakarta | No Comments

For those that follow developments in ASEAN (the Association of South East Asia Nations), integration is one of the big buzz words of the moment.

ASEAN aims to become an economic community by 2015. This means making ASEAN a single market and production base that is more productive and competitive with free movement of goods, services, investment, skilled labour and freer flows of capital.

Datuk Dr Rebecca Fatima Sta. Maria (Secretary-General of Malaysia's Ministry of International Trade and Industry) (left), Simon Murdoch (former CE of New Zealand's Department of Prime Minister and Cabinet, and former Secretary of Foreign Affairs and Trade) (right), and HE David Taylor (Ambassador to ASEAN and to Indonesia) (centre), discuss the IPF.

It’s a bold integration plan and one that there’s political commitment to deliver. As with any plan, however, the devil is in the detail. ASEAN has a lot of work to do to implement the actions identified in the ASEAN Economic Community Blueprint.

That’s perhaps where Australia and New Zealand can be of some help. We have been through a very lengthy, and very challenging, process of economic integration ourselves. The Closer Economic Relations (CER) process began in 1983 and continues to this day.

Mr Ramon Vicentre T Kabigting (Assistant Secretary for International Trade, Dept of Trade and Industry, The Philippines), Mrs Srirat Rastapana (Director General, Departments of Trade Negotiations, Ministry of Commerce, Thailand), and Mr Steve McCombie (MFAT New Zealand) listen to speakers during the IPF.

Through discussions with our ASEAN partners, the Integration Partnership Forum (IPF) was conceived as a way of sharing with our friends in Southeast Asia what the CER experience has taught us over the last thirty years.

The first IPF was held in Malaysia on 25 June. Speakers were drawn from policy circles, business and academia. Some 85 ASEAN officials attended.

Some of the key messages included:

· Differences between ASEAN and CER mean that integration paths will not be identical, but sharing experiences is valuable

· Strong and visionary political leadership is vital to keep the economic integration process moving forward

· Strong support and engagement at official level, in the business community and in the academic world are key drivers and enablers

· Pragmatic approaches deal most effectively with the challenges of regional economic integration

· Deep integration can be achieved without excessive institutionalisation

· A focus on shared outcomes is required, rather than harmonisation of laws which may not deliver appropriate results when implemented

· The greatest gains for business are achieved when the focus shifts from at-the-border measures to behind-the border integration

· Sovereignty and national identity are fundamental, but integration does not necessarily imply a sacrifice of these

· Australia-New Zealand integration has been both inward and outward looking, enhancing the two economies but also improving the global competitiveness of both markets.

The IPF is intended to be a two way conversation, with CER offering some insights, but learning also from ASEAN experiences in shaping the ASEAN Economic Community. At the conclusion of the seminar both sides agreed to hold several more IPF events focused on aspects of integration of deep interest to ASEAN countries. Consultations about what those topics might be will proceed over the next few months.

Professor Christopher Finlayson (Acting Executive Dean, Faculty of the Professions, University of Adelaide, Australia) speaks at the IPF.

As one of the co-chairs of the IPF, I thought this was a creative way to engage ASEAN and CER officials. There was real interest on the ASEAN side in hearing the CER story “warts and all” and the presentations provided a good introduction to a complex process. (Follow this link for copies of the papers presented). It was clear that more interaction between experts on each side should be a goal for future meetings and some more time would be useful too.

ASEAN dan Australia/Selandia Baru: Belajar Bersama

Bagi mereka yang mengikuti berbagai perkembangan di ASEAN (the Association of South East Asia Nations), integrasi adalah salah satu kata popular saat ini.

ASEAN bertujuan untuk menjadi sebuah komunitas ekonomi pada tahun 2015. Ini berarti menjadikan ASEAN sebuah pasar dan basis produksi tunggal yang lebih produktif dan kompetitif dengan pergerakan bebas dari barang-barang, jasa-jasa, investasi, tenaga kerja terampil dan arus modal yang lebih bebas.

ASEAN, New Zealand, and Australian delegates arrive at the NZ High Commission residence for a dinner following the IPF (man in front centre is Mr Gusmardi Bustami, Director General, Ministry of Trade, Indonesia).

Ini adalah sebuah rencana integrasi yang berani dan satu rencana di mana terdapat komitmen politik untuk mewujudkannya. Seperti layaknya sebuah rencana, tantangannya terdapat pada rincian dari rencana ini. ASEAN mempunyai banyak pekerjaan untuk menerapkan berbagai tindakan yang diidentifikasi di dalam cetak biru Komunitas Ekonomi ASEAN.

Ini mungkin di mana Australia dan Selandia Baru dapat membantu. Kami sendiri telah melalui sebuah proses integrasi ekonomi yang panjang dan menantang. Proses Hubungan Ekonomi Yang Lebih Dekat (Closer Economic Relations (CER)) ini bermula pada tahun 1983 dan berlanjut hingga kini.

Melalui berbagai pembicaraan dengan mitra-mitra ASEAN, Forum Kemitraan Integrasi (IPF) direncanakan sebagai sebuah jalan untuk berbagi dengan kawan-kawan kami di Asia Tenggara tentang pengalaman CER selama lebih dari 30 tahun terakhir ini.

Mr John Larkin (left) from Australia's DFAT talking to two ASEAN representatives during a dinner at the NZ High Commissioners Residence following the IPF.

IPF pertama diadakan di Malaysia pada tanggal 25 Juni. Para pembicara terdiri dari lingkaran kebijakan, dunia usaha, dan akademik. Kira-kira 85 pejabat ASEAN menghadiri acara ini.

Beberapa dari pesan utama:

· Berbagai perbedaan antara ASEAN dan CER berarti bahwa integrasi tidak akan sama persis, tetapi berbagi pengalaman sangatlah berharga.

· Kepemimpinan yang kuat dan visioner sangatlah penting untuk tetap menjaga agar proses integrasi terus berjalan.

· Hubungan dan dukungan yang kuat pada tingkat resmi, di dalam dunia usaha, dan di dalam dunia akademik adalah penyokong-penyokong utama.

· Pendekatan-pendekatan pragmatis akan efektif dalam menangani integrasi ekonomi regional.

· Integrasi yang dalam dapat dicapai tanpa institusionalisasi yang berlebihan.

· Fokus kepada hasil-hasil yang dinikmati bersama sangatlah diperlukan, ketimbang harmonisasi dari undang-undang yang mungkin tidak akan menghadirkan hasil-hasil yang tepat ketika diterapkan.

· Keuntungan-keuntungan untuk bisnis dicapai ketika fokus bergeser dari tindakan-tindakan pada perbatasan ke tindakan-tindakan di belakang perbatasan.

· Kedaulatan dan identitas nasional adalah mendasar, tetapi integrasi tidak selalu berarti sebuah pengorbanan atas kedua hal tersebut.

· Integrasi Australia-Selandia Baru selama ini memandang ke dalam dan ke luar, meningkatkan kedua ekonomi dan juga memperbaiki daya saing global dari kedua pasar.

IPF ditujukan untuk menjadi perbincangan dua arah, dengan CER menawarkan beberapa pengetahuan mendalam, tetapi juga CER belajar dari pengalaman-pengalaman ASEAN dalam membentuk Komunitas Ekonomi ASEAN. Pada penutupan dari seminar ini, kedua belah pihak sepakat untuk mengadakan beberapa acara IPF yang difokuskan pada berbagai aspek dari integrasi yang menjadi ketertarikan negara-negara ASEAN. Konsultasi-konsultasi tentang topik-topik apa kiranya yang akan dibahas akan diadakan dalam beberapa bulan ke depan.

Sebagai salah satu ketua bersama dari IPF, saya pikir hal ini dalah sebuah jalan yang kreatif untuk mempertemukan para pejabat ASEAN dan CER. Terdapat ketertarikan yang dalam dari pihak ASEAN dalam mendengarkan cerita CER, termasuk berbagai kekurangannya, dan berbagai presentasi yang disediakan menghadirkan sebuah pengenalan pemahaman yang baik untuk sebuah proses yang rumit. (Lihat link berikut untuk kopi-kopi dari makalah-makalah yang dipresentasikan). Adalah jelas bahwa interaksi yang besar antara para ahli dari kedua belah pihak seharusnya menjadi sebuah tujuan dari pertemuan-pertemuan di masa yang akan datang dan waktu yang lebih panjang akan berguna juga.

David Pine (NZ High Commissioner to Malaysia and Brunei) welcomes guests to a dinner at his residence following the IPF.

  
 
 
 

 
 
 
 
 

 

Comments are moderated. Please read our terms and conditions before posting.

Leave a Reply

Our terms and conditions