www.mfat.govt.nz www.safetravel.govt.nz
Go to home page - New Zealand Ministry of Foreign Affairs & Trade.

You are here: MFAT blogs > David Taylor > ASEAN leads push for world’s second largest FTA / ASEAN pimpin upaya mendorong tercapainya FTA terbesar dunia

ASEAN leads push for world’s second largest FTA / ASEAN pimpin upaya mendorong tercapainya FTA terbesar dunia

13th September 2012 by David Taylor, Jakarta | No Comments

The new kid on the trade negotiation block is RCEP, the Regional Comprehensive Economic Partnership. This is an initiative by ASEAN to develop a new trade agreement between the ten countries of ASEAN and the partners with which they’ve already signed Free Trade Agreements (FTAs): Australia/New Zealand, China, India, Japan, and Korea.

RCEP would be a super-sized FTA. It seeks to create an integrated market covering over 3 billion people with a combined gross domestic product (GDP) of over US$17 trillion. On current growth trajectories, RCEP will be bigger than the NAFTA (currently the world’s largest integrated market) between the United States, Canada and Mexico with combined GDP of almost US$18 trillion. Our figures suggest that RCEP and the Trans-Pacific Partnership (TPP) – see further below – are neck-and-neck in GDP terms.

The RCEP took an important step forward in Siem Reap recently when Trade Ministers from the 16 countries agreed to recommend that leaders agree to initiate a negotiation when they meet in Phnom Penh in November. If leaders sign-off, the idea is that the negotiation would begin in 2013 with a target completion date of 2015 (the year ASEAN’s Economic Community will take effect).

The RCEP concept was an ASEAN initiative in 2011 after talks about how best to integrate the economies of ASEAN and its closest partners had produced two competing visions: an ASEAN plus three (China, Japan, Korea) pact or the Comprehensive Economic Partnership for East Asia (CEPEA, involving ASEAN plus its six FTA partners). RCEP puts ASEAN squarely at the core of the discussion about regional economic integration and back in the driver’s seat.

ASEAN has worked hard to develop the RCEP vision and now has its six FTA partners on board as a result of the Siem Reap Ministerial process, chaired by Cambodia’s Commerce Minister Cham Prasidh. Separate working groups on trade in goods, services and investment are identifying the possible parameters for the negotiation.

An RCEP would be an important step towards the Free Trade Area of the Asia Pacific which has been a dream for the APEC (Asia Pacific Economic Community) group for some years.

It arrives just as the TPP negotiation is working towards its end game.

Some ask whether there is space for both RCEP and TPP or see these as competing initiatives. The New Zealand response is essentially that there’s room for both initiatives. There is some overlap and the two agreements have the potential to complement rather than compete.

One of the reasons for this is membership. Both negotiations involve Australia, Brunei, Malaysia, New Zealand, Singapore and Viet Nam. RCEP adds China, India, Japan, Korea and the rest of ASEAN, while the TPP features Canada, Chile, Mexico, Peru and the US. Another reason is that the spread of FTAs through the region has already resulted in common understandings on a range of issues.

How hard will it be to conclude an RCEP? This is not going to be an easy negotiation. While there is a noodle-bowl of existing trade deals among the participants, they differ in terms of coverage and ambition. Getting 16 countries with different development levels and trade interests to the same ambitious point within a tight negotiating timeframe will be challenging, especially with all the other demands on negotiators. The signals that leaders give in Phnom Penh in November will be critical in setting the path for the negotiation.

As New Zealand Trade Minister Tim Groser observed after the Siem Reap meeting, only the first step in a “complex undertaking” has been taken. But the step “sends an unmistakable message about the region’s commitment to working together and to improving market conditions for business”. There’s no doubt that New Zealand will be an active participant in the journey ahead.

Trade and Economic Ministers from ASEAN, New Zealand and Australia exchange greetings at their annual Consultations

ASEAN pimpin upaya mendorong tercapainya FTA terbesar dunia

Anak baru di blok negosiasi perdagangan adalah RCEP, Kemitraan Ekonomi yang Luas dari Kawasan. Ini adalah inisiatif oleh ASEAN untuk mengembangkan sebuah perjanjian perdagangan baru antara kesepuluh negara ASEAN dan para mitranya yang sudah menandatangani berbagai perjanjian perdagangan bebas (FTAs): Australia/Selandia Baru, China, India, Jepang, dan Korea.

RCEP akan menjadi FTA dengan ukuran super besar. Ia berusaha untuk menciptakan sebuah pasar terintegrasi yang mencakup lebih dari 3 milyar manusia dengan pendapatan domestik bruto (PDB) gabungan sebesar lebih dari US$17 trilyun. Berdasarkan perkiraan-perkiraan pertumbuhan saat ini, RCEP akan lebih besar dari NAFTA (yang saat ini merupakan pasar terintegrasi yang paling besar di dunia) antara Amerika Serikat, Kanada dan Meksiko dengan PDB gabungan sebesar lebih dari US$18 trilyun. Angka-angka kami menunjukkan bahwa RCEP dan Kemitraan Trans-Pacific Partnership (TPP) – lihat lebih lanjut di bawah ini – tidak berbeda jauh dari sudut pandang PDB.

RCEP mengambil sebuah langkap penting ke depan di Siem Reap baru-baru ini ketika para Menteri Perdagangan dari ke 16 negara setuju untuk merekomendasikan bahwa para pemimpin setuju untuk memulai sebuah negosiasi ketika mereka bertemu di Phnom Penh pada bulan November. Jika para pemimpin menyetujui, idenya adalah negosiasi akan dimulai pada tahun 2013 dengan pencapaian target pada tahun 2015 (tahun di mana Komunias Ekonomi ASEAN akan mulai berlaku).

Konsep RCEP adalah sebuah inisiatif ASEAN pada tahun 2011 setelah berbagai pembicaraan tentang jalan terbaik apa untuk mengintegrasikan berbagai perekonomian ASEAN dengan para mitra terdekatnya telah menghasilkan dua visi yang saling bersaing: sebuah pakta ASEAN plus tiga (China, Jepang, dan Korea) atau Kemitraan Ekonomi yang Luas untuk Asia Timur (CEPEA, yang mencakup ASEAN plus enam mitra FTAnya). RCEP meletakkan ASEAN di pusat diskusi tentang integrasi ekonomi kawasan dan meletakkannya kembali di belakang kemudi.

ASEAN telah bekerja keras untuk membangun sebuah visi RCEP dan sekarang telah melibatkan keenam mitra FTAnya sebagai hasil dari proses tingkat menteri di Siem Reap, yang diketuai oleh Menteri Perdagangan Cham Prasidh. Beberapa kelompok kerja yang terpisah tentang perdagangan barang, jasa, dan investasi sekarang sedang mengidentifikasi berbagai parameter untuk negosiasi.

Sebuah RCEP akan menjadi sebuah langkah ke arah Area Perdagangan Bebas Asia Pasifik yang merupakan sebuah impian untuk kelompok APEC (Komunitas Ekonomi Asia Pasifik) selama beberapa tahun belakangan ini.

Ia hadir ketika negosiasi TPP sedang menuju akhir dari permainannya.

Beberapa pihak bertanya apakah ada ruang untuk RCEP dan TPP atau melihat keduanya sebagai dua inisiatif yang saling bersaing. Tanggapan Selandia Baru pada dasarnya adalah terdapat ruang untuk kedua inisiatif tersebut. Terdapat beberapa tumpang tindih dan kedua perjanjian ini memiliki potensi untuk saling melengkapi ketimbang bersaing.

Salah satu alasan untuk ini adalah keanggotaan. Kedua negosiasi melibatkan Australia, Brunei, Malaysia, Selandia Baru, Singapura, dan Viet Nam. RCEP menambahkan China, India, Jepang, Korea dan seluruh anggota ASEAN, sementara TPP menampilkan Kanada, Chile, Meksiko, Peru dan Amerika Serikat. Alasan lainnya adalah penyebaran FTAs di kawasan ini telah berujung pada kesamaan pandangan tentang berbagai isu. Seberapa susahkan menyetujui RCEP ini? Ini tidak akan menjadi sebuah negosiasi yang mudah. Walaupun terdapat berbagai perjanjian perdagangan di antara para peserta, mereka berbeda dalam hal cakupan dan ambisi. Menyatukan 16 negara dengan tingkat pembangunan dan kepentingan perdagangan yang berbeda dalam rentang waktu negosiasi yang sempit akan sangat menantang, terutama dengan segala tuntutan lainnya atas para perunding. Sinyal-sinyal yang para pemimpin berikan di Phnom Penh pada bulan November akan sangat penting dalam menentukan arah dari negosiasi.

Seperti yang Menteri Perdagangan Selandia Baru Tim Groser utarakan setelah pertemuan Siem Reap ini, baru langkah awal di “perhelatan rumit” ini yang telah diambil. Tetapi langkah ini mengirim “pesan yang kuat tentang komitmen kawasan ini untuk bekerja bersama dan untuk memperbaiki kondisi pasar untuk berbisnis.” Tidak ada keraguan bahwa Selandia Baru akan menjadi peserta aktif dalam perjalanan ke depan.

New Zealand Minister of Trade Hon Tim Groser and delegation members hard at work at the ASEAN Economic Ministers’ consultations with FTA and ASEAN Dialogue partners.

Comments are moderated. Please read our terms and conditions before posting.

Leave a Reply

Our terms and conditions