www.mfat.govt.nz www.safetravel.govt.nz
Go to home page - New Zealand Ministry of Foreign Affairs & Trade.

You are here: MFAT blogs > David Taylor > ASEAN Secretariat: A regional engine – changing gears /Sekretariat ASEAN: Sebuah mesin kawasan – menaikkan tuas kecepatan

ASEAN Secretariat: A regional engine – changing gears /Sekretariat ASEAN: Sebuah mesin kawasan – menaikkan tuas kecepatan

16th January 2013 by David Taylor, Jakarta | No Comments

Incoming ASEAN Secreatary General Le Luong Minh

Outgoing ASEAN Secretary General Surin Pitsuwan

The ASEAN Secretariat (ASEC) plays an essential but often unheralded role in regional affairs. To pick up the car metaphor so often used in relation to ASEAN (“ASEAN in the driver’s seat”), I see ASEC as the engine. It’s what will get the organisation to the destination identified by those sitting in the vehicle.

Based in Jakarta, the Secretariat was founded in 1976. Its mission is to support ASEAN realise its ambitions as reflected in the ASEAN Charter (2008) and identified by Leaders in their annual meetings.

In practice, it supports the huge number of ASEAN meetings held each year (about 1200 in 2012); manages ASEAN technical work, implements projects and activities, monitors agreements and undertakings, including around development assistance and other cooperation programmes, and deals with governments, business and civil society. ASEC is also home to the Committee of Permanent Representatives (CPR), who are the day-to-day point of connection between each ASEAN member country and the organisation, and it is an essential link in the chain for ASEAN’s foreign partners.

Expectations of ASEC are always high. The workload and its complexity continues to increase because of ASEAN’s ambition; the growth of new sub-regional bodies and processes and other internally driven work, particularly around the ASEAN Economic Community. It also has to cope with growing external activity, like the East Asia Summit (EAS) linking ASEAN to eight major partners, other ASEAN plus engagements, and growing wider international interest in the organisation and region.

ASEC’s own vision is that by 2015 it will be “the nerve centre of a strong and confident ASEAN Community that is globally respected for acting in full compliance with its Charter and in the best interest of its people”.

ASEC currently has a staff of about 300 people organised into four departments: political, security and external relations; economics; socio-cultural and community and corporate affairs. There are close to 30 entities associated with ASEAN and another dozen or so ASEAN centres and facilities, all with their own resources.

While there is no doubt that ASEC works hard to keep pace with the work plans and ambitions of ASEAN Leaders and Ministers and to engage with member countries and partners, there is recognition that in order to remain effective as a regional engine it must adapt and develop.

In 2011, ASEAN Secretary General Surin Pitsuwan initiated an analysis of ASEC that produced a report to ASEAN Leaders at their 20th Summit meeting in Phnom Penh in April. The gist of Surin’s message was that ASEC needed to change with the times to deliver for the membership. He sensibly didn’t argue the case for any particular outcome, noting that there were a variety of pathways forward for the organisation, depending on what Leaders wanted. Leaders sought the input of the CPR who reported back to them at their 21st Summit in November 2012.

I think Surin asked exactly the right questions: he opened the door for a conversation about the kind of support ASEAN needs as it continues its ambitious integration effort and other plans and programmes, both internal and external; he provided an opportunity for a rethink about how best to resource and deploy ASEC; and he did it in time for any changes to be taken into account when the ASEAN Charter is reviewed in 2013.

The way forward for ASEC is not yet clear.

On 9 January 2013 Secretary-General Surin stepped down at the conclusion of a highly successful five year term in which his personal dynamism heightened awareness of the ASEAN brand within the region and around the globe and many important initiatives were taken. He was succeeded by experienced Vietnamese diplomat Le Luong Minh. Minh will now be responsible for shaping ASEC to meet ASEAN’s needs and to achieve its vision.

Core questions for Minh and his leadership team will include the extent to which ASEC should drive work itself or outsource; how best to build capability to handle more complex work as well as the capacity to address the breadth of the agenda ; the sort of relationship ASEAN should have with subsidiary processes, entities and centres; the nature of ASEC engagement with non-ASEAN partners, including how best to implement directions from the EAS and other ASEAN-plus processes; and whether the current proliferation of processes and bodies is fit for purpose in the longer term. This will involve asking some hard questions and thinking not just about the here and now, but the ASEAN’s needs a decade and more into the future. Whatever decisions are taken, it’s clear from the agenda and work programme that ASEC needs to be enabled to change gears to meet expected future demands.

New Zealand has had a long and fruitful connection with ASEC. We value the access and conversations we have at all levels. We work well with various divisions to advance our agreed cooperation programmes and, with Australia, we have helped to fund the FTA Implementation Unit. We’ve also worked with subsidiary entities, like the ASEAN Humanitarian Assistance Centre, in support of ASEAN priorities. And we seconded an incoming Embassy officer to the Secretariat two years ago in what I hope will be an ongoing programme of attachments that benefit both sides. Interaction with ASEC and the CPR breathes life into our relationship and we support the ongoing effort to ensure that ASEC can fulfil its mission and the expectations of it.

During Secretary General Surin’s tenure, the ASEC engine was revved up, now it’s time for changing up gears to meet growing demands now and into the future. I wish incoming Secretary General Minh every success in his mission in relation to ASEC and the many other responsibilities that he has now taken on.

Incoming ASEAN Secretary General Le Luong Minh, Indonesian Foreign Minister Marty Natalegawa, and outgoing ASEAN Secretary General Surin Pitsuwan

 

Sekretariat ASEAN: Sebuah mesin kawasan – menaikkan tuas kecepatan

Sekretariat ASEAN (ASEC) memainkan sebuah peran yang penting tapi sering kali tidak terberitakan dalam berbagi isu-isu kawasan. Menggunakan metafora kendaraan yang sering kali digunakan dalam kaitan ke ASEAN (“ASEAN di kursi pengemudi”), saya melihat ASEC sebagai sebuah mesin. Mesin ini adalah sesuatu yang akan membawa organisasi ini ke tujuan yang diidentifikasi oleh mereka yang duduk di dalam kendaraan tersebut.

Berbasi di Jakarta, Sekretariat ini didirikan pada tahun 1976. Misinya adalah untuk mendukung ASEAN dalam mewujudkan berbagai ambisinya seperti yang tercermin di dalam Piagam ASEAN (2008) dan diidentifikasi oleh para Pemimpin dalam berbagai pertemuan tahunan mereka.

Dalam prakteknya, Sekretariat ini mendukung berbagai pertemuan ASEAN yang banyak yang diadakan setiap tahun (sekitar 1200 pertemuan pada tahun 2012), mengelola pekerjaan teknis ASEAN, mengimplementasikan berbagai proyek dan kegiatan, memantau berbagai perjanjian dan pekerjaan, termasuk di sekitar berbagai program bantuan pembangunan dan kerjasama lainnya; bernegosiasi dengan para pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat madani. ASEC juga juga menjadi rumah dari Komite Perwakilan Tetap (CPR), yang menjadi titik temu sehari-hari antara setiap anggota ASEAN dan organisasi ini, dan ia adalah sebuah kaitan penting dalam rantai untuk mitra asing ASEAN.

Berbagai harapan atas ASEC selalu tinggi. Beban kerja dan kompleksitas berlanjut untuk meningkat karena ambisi ASEAN; pertumbuhan dari berbagai badan sub-kawasan dan berbagai proses dan pekerjaan internal yang didorong dari dalam lainnya, terutama di sekitar Komunitas Ekonomi ASEAN. Ia juga harus menghadapi aktifitas eksternal yang berkembang, seperti Pertemuan Tingkat Tinggi Asia Timur (EAS) yang menghubungkan ASEAN dengan delapan mitra utama, berbagai hubungan ASEAN plus lainnya, dan meningkatnya ketertarikan internasional yang lebih luas terhadap organisasi dan kawasan ini.

Visi ASEC adalah pada tahun 2015 “ia akan menjadi pusat syaraf dari Komunitas ASEAN yang kuat dan dan percaya diri yang dihormati secara global karena bertindak sesuai dengan Piagamnya dan untuk kepentingan terbaik dari masyarakatnya”.

ASEC sekarang ini memiliki kurang lebih 300 anggota staf yang dibagi ke empat departemen: politik, keamanan dan hubungan eksternal; ekonomi; sosial budaya dan masyarakat; dan berbagai urusan organisasi. Terdapat kira-kira 30 badan yang diasosiasikan dengan ASEAN dan kurang lebih selusin pusat dan fasilitas ASEAN lainnya, semuanya dengan masing-masing sumber daya mereka sendiri.

Meskipun tidak diragukan bahwa ASEC bekerja keras untuk menyesuaikan langkah dengan berbagai rencana kerja dan ambisi dari para Pemimpin dan Menteri ASEAN dan untuk berhubungan dengan para anggota dan mitra, terdapat pengakuan bahwa agar dapat tetap efektif sebagai sebuah mesin kawasan ia harus beradaptasi dan berkembang.

Pada tahun 2011, Sekretaris Jenderal ASEAN Surin Pitsuwan memulai sebuah analisis tentang ASEC yang menghasilkan sebuah laporan untuk para Pemimpin ASEAN pada Pertemuan Tingkat Tinggi mereka ke 20 mereka di Phnom Penh pada bulan April. Inti dari pesan Surin adalah ASEC perlu berubah seiring waktu untuk memberikan hasil bagi anggotanya. Secara masuk akal ia tidak memberikan argumen untuk sebuah hasil tertentu, memperhatikan bahwa terdapat berbagai jalan ke depan untuk organisasi ini, tergantung dari apa yang para Pemimpin inginkan.Para Pemimpin mencari masukan dari CPR yang melaporkan balik ke mereka pada Pertemuan Tingkat Tinggi ke 21 mereka pada November 2012.

Saya pikir Surin menanyakan berbagai pertanyaan yang tepat: ia membuka pintu untuk sebuah pembicaraan tentang jenis dukungan yang ASEAN butuhkan sejalan dengan diteruskannya upaya integrasi ASEAN yang ambisius dan berbagai perencanaan dan program lainnya, internal maupun eksternal; ia menyediakan sebuah peluang untuk pemikiran kembali tentang bagaimana sebaiknya memberikan sumber daya dan memanfaatkan ASEC; dan ia melakukannya pada waktu yang tepat bagi berbagai perubahan yang akan dilakukan ketika Piagam ASEAN ditinjau ulang pada tahun 2013.

Jalan ke depan untuk ASEC belum jelas

Pada tanggal 9 January 2013 Sekretaris Jenderal Surin turun dari jabatannya pada penutupan dari sebuah periode lima tahun yang sangat berhasil di mana dinamisme personalnya meningkatkan kesadaran atas merk ASEAN di dalam kawasan dan di seluruh dunia dan banyak inisiatif penting yang diambil. Ia digantikan oleh diplomat berpengalaman Vietnam Le Luong Minh. Minh sekarang akan bertanggung jawab untuk membentuk ASEC untuk memenuhi kebutuhan ASEAN dan untuk mencapai visinya.

Berbagai pertanyaan untuk Minh dan tim kepemimpinannya akan termasuk seberapa jauh ASEC harus mengerjakan pekerjaan itu sendiri atau mengalih dayakan; bagaimana sebaiknya untuk membangun kapabilitas untuk menangani pekerjaan yang semakin rumit dan juga kapasitas untuk menghadapi luasnya agenda; jenis hubungan yang ASEAN harus miliki dengan berbagai proses, badan, dan pusat subsidernya; sifat dari hubungan ASEC dengan berbagai mitra non-ASEANnya, termasuk bagaimana sebaiknya mengimplementasikan berbagai arahan dari EAS dan berbagai proses SEAN-plus lainnya; dan apakah penyebaran dari berbagai proses dan badan saat ini sesuai dengan tujuan di masa yang lebih panjang. Ini akan termasuk menanyakan berbagai pertanyaan dan pemikirian sulit tidak saja untuk sekarang, tetapi berbagai kebutuhan ASEAN selama satu dekade lebih ke masa depan. Apapun keputusan-keputusan yang diambil, telihat jelas dari agenda dan program kerja bahwa ASEC perlu untuk dimungkinkan untuk menaikkan tuas kecepatan untuk memenuhi berbagai permintaan masa depan yang diharapkan.

Selandia Baru telah memiliki sebuah keterkaitan yang lama dan menghasilkan dengan ASEC. Kami menghargai akses dan berbagai pembicaraan yang kita miliki pada semua tingkatan. Kami bekerja dengan baik dengan berbagai divisi untuk memajukan berbagai program kerja sama kami yang sudah disepakati dan, dengan Australia, kami telah membantu untuk mendanai Unit Pelaksanaan FTA. Kami juga telah bekerja dengan berbagai badan subside, seperti the ASEAN Humanitarian Assistance Centre, dalam mendukung berbagai prioritas ASEAN. Dan kami menugaskan seorang pejabat Kedutaan Besar Selandia Baru ke Sekretariat ASEAN dua tahun yang lalu yang saya harap akan menjadi sebuah program penempatan yang menguntungkan kedua belah pihak. Interaksi dengan ASEC dan CPR meniupkan kehidupan ke dalam hubungan kita dan kami mendukung upaya yang sedang berlangsung untuk memastikan bahwa ASEC dapat memenuhi misi dan berbagai harapan atas dirinya.

Selama masa kepemimpinan Sekretaris Jenderal Surin, mesin ASEC digas dalam gigi yang sama, sekarang adalah waktunya untuk menaikkan tuas kecepatan untuk memenuhi berbagai permintaan yang berkembang sekarang dan di masa depan. Saya doakan Sekretaris Jenderal Minh segala sukses dalam misinya yang berkaitan dengan ASEC dan berbagai tanggung jawab lainnya yang banyak yang sekarang telah ia emban.

NZ Ambassador to Indonesia and ASEAN David Taylor and former ASEAN Secretary-General Surin Pitsuwan

Comments are moderated. Please read our terms and conditions before posting.

Leave a Reply

Our terms and conditions