www.mfat.govt.nz www.safetravel.govt.nz
Go to home page - New Zealand Ministry of Foreign Affairs & Trade.

You are here: MFAT blogs > David Taylor > ASEAN:at a crossroads? /ASEAN: di persimpangan jalan?

ASEAN:at a crossroads? /ASEAN: di persimpangan jalan?

1st August 2012 by David Taylor, Jakarta | No Comments

For the first time in 45 years, ASEAN failed to reach consensus on a communique.

This outcome from the meeting of ASEAN foreign ministers in Phnom Penh a fortnight ago produced strong statements of disappointment from many ASEAN Ministers. Some gloom merchants have gone further. I say let’s keep this in perspective.

ASEAN is like a car embarked on a long journey. This episode was akin to getting a flat tyre somewhere along the way. Disappointing and even annoying, but it does not spell the end of the road.

I’ve spent a lot of time in multi-lateral meetings and have learned that consensus cannot always be found when major issues are at play, or when someone is reluctant to have an outcome. The ASEAN car is still fit for purpose; the ten occupants still know where they’re going, though as ever there are different perspectives on the best route to take to get there.

Why the remarkable events in Phnom Penh? For the most part, it was business as usual for ASEAN foreign ministers, addressing the wide range of issues that occupy the agenda when they meet. But one matter loomed larger than usual: progressing the Code of Conduct in the South China Sea.

For many years now, ASEAN claimant states (Brunei, Malaysia, Philippines and Viet Nam) and China have been trying to figure out how to manage their respective claims to the resource rich South China Sea. Ten years ago, ASEAN and China agreed to negotiate a Code of Conduct that would enable them to develop the disputed areas peacefully. It’s been a slow process, but a breakthrough was achieved in 2011 with the conclusion of the Guidelines for the Implementation of the Declaration on the Conduct of Parties in the South China Sea. This gave rise to an expectation that the Code itself was within reach; some even hoped this could be knocked off in 2012.

The ASEAN states have spent the first half of the year negotiating agreed elements for discussing with China. They see these as covering the framework and content for the Code. They aimed to share these elements with China at a first negotiating meeting in September. A meeting with China in Phnom Penh apparently went quite well, but things came unstuck around the communique language.

As I understand it, the problem was largely about how to deal with recent problems around the Scarborough Shoal. One ASEAN Minister told me there was consensus about the need for a reference, but finding the right form of words proved impossible. As the media have reported, the United States made a last minute attempt to help find a solution, but they were unable to broker an outcome at that time.

Why such difficulty? I think this issue is one of the most difficult challenges ASEAN faces. They’re negotiating how best to deal with real assets, which are claimed by a few, not by all, and some are already facing strong pressure over access to the disputed area. Quite beyond the legal issues, there are important national interests and politics at play. None of the claimants wants to back down; each is compelled to negotiate hard given the billions of dollars’ worth of oil, gas and other resources at stake.

This negotiation will take time. It’s not going to be over quickly. The atmosphere is highly charged.

This is why at both the East Asia Summit Ministerial meeting and the ASEAN regional forum the countries not involved in the negotiation, along with many that are, called for all to show restraint and to observe the provisions of the United Nations Convention on the Law of the Sea. This was the thrust of New Zealand Foreign Minister Murray McCully’s intervention. Our wish is to see a just outcome and a peaceful region where there is freedom of navigation and effective tools for managing opportunities and risks in the South China Sea.

Will this issue be advanced quickly now? Indonesian foreign minister Marty Natalegawa has undertaken some very effective shuttle diplomacy around ASEAN capitals, which has produced agreed elements and has no doubt been an occasion to underline the importance of trying to begin negotiations with China soon and of maintaining an ASEAN consensus.

Whatever position ASEAN countries adopt, China will need to be engaged also. There will be additional pressure on all as ASEAN Leaders will meet again in Phnom Penh in November, then again for the East Asia Summit with eight leading regional partners. The South China Sea issue will be prominent in every leader’s briefing book.

ASEAN is not at a crossroads. But this experience shows that on some particularly tough issues consensus may take longer to achieve. The important point and the focus must surely be on finding a way to take this issue forward with China soon and that the negotiations themselves produce an outcome that is fair and enables peaceful management in the South China Sea.

 

ASEAN: di persimpangan jalan?

Untuk pertama kalinya dalam 45 tahun, ASEAN gagal untuk meraih konsensus tentang sebuah komunike.

Hasil dari pertemuan para menteri luar negeri ASEAN di Phnom Penh dua minggu yang lalu menghasilkan berbagai pernyataan keras tentang kekecewaan dari banyak Menteri ASEAN. Beberapa pihak yang mengutarakan kesuraman telah bergerak lebih jauh. Menurut saya marilah kita menjaga hal ini dalam perspektif.

ASEAN adalah seperti sebuah mobil yang melakukan sebuah perjalanan yang jauh. Episode ini seperti mengalami ban kempis di dalam perjalanan tersebut.

Mengecewakan dan bahkan menganggu, tetapi ini bukan berarti akhir dari perjalanan.

Saya telah menghabiskan banyak waktu dalam berbagai pertemuan multilateral dan telah belajar bahwa konsensus tidak selalu dapat ditemukan ketika isu-isu besar sedang berlangsung atau ketika seseorang enggan untuk mendapatkan sebuah hasil.

Mobil ASEAN ini masih layak untuk mencapai tujuannya; kesepuluh penumpang masih mengetahui kemana mereka sedang menuju walaupun terdapat berbagai pandangan tentang rute terbaik yang harus diambil untuk mencapai tujuan tersebut.

Mengapa terdapat berbagai kejadian menakjubkan di Phnom Penh? Sebagian besar, itu adalah kegiatan seperti biasaya untuk para menteri luar negeri ASEAN, menghadapi berbagai isu permasalahan yang sangat luas yang memenuhi agenda ketika mereka bertemu. Tetapi satu permasalahan berkembang lebih luas dibanding biasanya: melanjutkan pembahasan Pedoman Perilaku di Laut China Selatan.

Selama bertahun-tahun lamanya, negara-negara ASEAN yang mengklaim Laut China Selatan (Brunei, Malaysia, Philippines dan Viet Nam) dan China telah berusaha untuk memikirkan bagaimana caranya untuk mengelola klaim masing-masing atas Laut China Selatan yang kaya sumber daya. Sepuluh tahun yang lalu, ASEAN dan China setuju untuk menegosiasikan sebuah Pedoman Perilaku yang memungkinkan mereka untuk mengembangkan wilayah-wilayah yang dipersengketakan secara damai. Ini adalah sebuah proses yang lamban, tetapi sebuah terobosan dicapai pada tahun 2011 dengan disetujuinya Petunjuk untuk Pelaksanaan dari Deklarasi tentang Perilaku para Pihak di Laut China Selatan. Ini menghadirkan sebuah harapan bahwa Pedoman itu sendiri sudah dalam jangkauan; beberapa pihak bahkan berharap ini dapat diselesaikan pada tahun 2012.

Para negara ASEAN telah menghabiskan paruh awal tahun ini untuk menegosiasikan beberapa elemen yang disepakati untuk didiskusikan dengan China. Mereka memandang ini sebagai pencakupan atas kerangka kerjasama dan isi untuk Pedoman tersebut. Mereka bertujuan untuk berbagi berbagai elemen ini dengan China pada pertemuan negosiasi pertama pada bulan September. Sebuah pertemuan dengan China di Phnom Penh kelihatannya berjalan cukup baik, tetap beberapa hal tidak dapat disepakati di sekitar bahasa komunike.

Sebagaimana yang saya mengerti, masalah ini utamanya adalah bagaimana untuk menangani berbagai masalah terkini di sekitar the Scarborough Shoal. Seorang Menteri ASEAN berkata kepada saya bahwa terdapat konsensus tentang dibutuhkannya sebuah rujukan, tetapi menemukan kata-kata yang terpat terbukti sulit. Seperti yang telah diberitakan oleh media, Amerika Serikat melakukan percobaan menit terakhir untuk membantu menemukan sebuah penyelesaian, tetapi mereka tidak mampu untuk menjembatani sebuah hasil pada saat itu.

Mengapa terdapat kesulitan tersebut? Saya pikir isu ini adalah salah satu tantangan tersulit yang ASEAN hadapi. Mereka sedang bernegosiasi tentang bagaimana sebaiknya menangani berbagai aset nyata, yang diklaim oleh sebagian dan tidak oleh semuanya, dan beberapa sekarang sudah menghadapi tekanan yang kuat terkait akses ke wilayah yang dipersengketakan. Melampaui isu-isu legal, terdapat berbagai kepentingan dan politik nasional yang penting. Tidak satupun dari pihak yang bertikai ingin mundur; masing-masing terdorong untuk bernegosiasi dengan kuat mengingat nilai milyaran dollar dari minyak, gas, dan sumber-sumber daya lain yang dipertaruhkan.

Negosiasi ini akan memakan waktu. Ini tidak akan berakhir dengan cepat. Suasananya meningkat.

Inilah mengapa pada pertemuan Tingkat Menteri dari Pertemuan Tingkat Tinggi Asia Timur dan forum regional ASEAN negara-negara yang tidak terlibat dalam negosiasi ini, bersama dengan banyak negara yang terlibat, menyerukan agar semua menahan diri dan mengobservasi berbagi ketentuan dari Konvensi Perserikatan Bangsa Bangsa tentang Hukum Laut. Ini adalah saran dari intervensi Menteri Luar Negeri Selandia Baru. Harapan kami adalah untuk melihat sebuah hasil yang adil dan sebuah wilayah yang damai di mana terdapat kebebasan untuk berlayar dan berbagai perangkat efektif untuk mengelola berbagai peluang dan resiko di Laut China Selatan.

Akankah masalah ini ditindaklanjuti dengan cepat sekarang? Menteri Luar Negeri Indonesia telah melakukan beberapa kunjungan diplomasi yang sangat efektif ke berbagai ibukota negara-negara ASEAN, yang telah menghasilkan berbagai elemen yang disepakati dan merupakan sebuah kesempatan untuk menekankan pentingnya mencoba untuk memulai negosiasi dengan China secepatnya dan pentingnya mempertahankan sebuah konsensus ASEAN. Sikap apapun yang negara-negara ASEAN ambil, China akan perlu untuk didekati pula. Akan terdapat tekanan tambahan atas semua sejalan dengan bertemunya para Pimpinan ASEAN di Phnom Penh pada bulan November, lalu mereka akan bertemu lagi untuk Pertemuan Tingkat Tinggi Asia Timur dengan delapan mitra regional utama. Masalah Laut China Selatan akan sangat penting di dalam setiap buku briefing pimpinan tersebut.

ASEAN tidak sedang berada pada persimpangan jalan. Tetapi pengalaman ini menunjukkan bahwa pada beberapa isu khusus yang berat, konsensus mungkin akan lebih lama untuk dicapai. Poin dan fokus penting haruslah tentang mencari sebuah jalan untuk membawa isu ini ke depan bersama dengan China secepatnya dan tentang berbagai negosiasi ini menghasilkan sebuah hasil yang adil dan memungkinkan tata kelola yang damai di Laut China Selatan.

 

Comments are moderated. Please read our terms and conditions before posting.

Leave a Reply

Our terms and conditions