www.mfat.govt.nz www.safetravel.govt.nz
Go to home page - New Zealand Ministry of Foreign Affairs & Trade.

You are here: MFAT blogs > David Taylor > Blossoming Democracy – the Bali Democracy Forum Contribution/Demokrasi yang Berkembang – Sumbangan Forum Demokrasi Bali

Blossoming Democracy – the Bali Democracy Forum Contribution/Demokrasi yang Berkembang – Sumbangan Forum Demokrasi Bali

21st December 2011 by David Taylor, Jakarta | 3 Comments

Democracy remains the Holy Grail for political systems around the planet. The winds of freedom blowing through the Middle East over the past year and in Myanmar highlight this.

Indonesia, which itself has gone through remarkable democratic transition over the past twelve years, has for four years now hosted the Bali Democracy Forum to allow countries to share their experiences and concerns about democracy and the democratic process.

This year’s meeting on 8-9 December brought 82 countries together in Bali.   At the leader level, the President of Indonesia and Prime Minister of Bangladesh co-chaired proceedings (Australia, Japan, and Korea have been previous co-chairs).  The Sultan of Brunei, President of Sri Lanka, the Prime Ministers of Qatar, Timor-Leste and Mongolia, the Vice-President of the Philippines and the Deputy Prime Minister of Turkey were the star attendees this year. Minister Jonathan Coleman represented New Zealand and was a lead discussant for one of the two interactive panel sessions.

The President of Indonesia and Prime Minister of Bangladesh co-chaired proceedings

Clearly a good number of the participating countries are not democracies as we know them, but their presence provided opportunities to learn from the experience of others and to engage.

The focus this year was on responding to democratic voices, with panels digging into the ability of the state to listen to such voices and how to ensure space for civil society participation. Dr Coleman was a lead discussant on the first panel.

In setting the tone and scope for the dialogue, President Yudhoyono made it clear that governments must respond to democratic voices. The issues were difficult and there was no guarantee of success. But it was essential for governments to seek to bring about progress and to try and deliver a sense of benefit from change for people.

It is always a challenge to identify highlights in meetings of this sort, but I was particularly impressed by interventions from Mongolia, which highlighted remarkable transparency around the development of laws (drafts available on the internet for public comment); Tunisia, which spoke about the recent revolutionary experience driven by its people; and Papua New Guinea which talked about the challenges of democratic institutions in a country with 800 different cultural groups, most of which were not much aware of constitutional issues.

There was a rich discussion about how States might respond to democratic voices, identifying speed of change (like the Arab Spring) and powerful new communications tools as factors to bear in mind. Accessible and transparent channels were required to enable people to express their aspirations and concerns. Tools and mechanisms like consultation processes, referenda, freedom of information processes and decision review mechanisms were highlighted as having value. The participation of civil society, which discussants recognised as not an homogeneous entity, and the need to listen to criticism were also flagged.

Minister Coleman was a lead discussant on the first panel.

This was a worthwhile forum, with fulsome credit to Indonesia for being hosts and creating an environment for dialogue and sharing. This year involved more interactive discussions than last year. But it can be even better. Dr Coleman suggested more workshops in future which might involve outside experts (eg a Facebook, Yahoo or Google senior executive) to spark debate about the role of social media. Former Australian Deputy Prime Minister Tim Fischer came back to at least one discussant with questions highlighting some of the complexities, implicitly inviting participants to consider whether there might be better ways of doing things. Others suggested a civil society presence in some of the deliberations. I hope some of these good ideas and precedents get traction.

Like good relationships, good democracy takes time to build and there are many routes to successful and productive outcomes. Processes like the Bali Democracy Forum provide a friendly environment for sharing and learning.

Demokrasi yang Berkembang – Sumbangan Forum Demokrasi Bali

Demokrasi tetap menjadi Cawan Suci untuk sistem-sistem politik di seantero bumi. Angin-angin kebebasan yang bertiup melalui Timur Tengah selama setahun belakangan ini dan di Myanmar menekankan hal ini.

Indonesia, yang juga telah melalui transisi demokratis yang menakjubkan selama 12 tahun terakhir ini, telah selama empat tahun belakangan ini menjadi tuan ruman Forum Demokrasi Bali untuk memungkinkan negara-negara untuk berbagi pengalaman-pengalaman dan perhatian-perhatian mereka tentang demokrasi dan proses demokrasi.

Minister Coleman and Indonesian Foreign Minister Marty Natalegawa.

Pertemuan tahun ini pada tanggal 8-9 Desember membawa 82 negara berkumpul di Bali . Pada tingkat pimpinan, Presiden Indonesia dan Perdana Menteri Bangladesh memimpin secara bersama acara-acara( Australia , Jepang, dan Korea telah sebelumnya menjadi ketua bersama). Sultan Brunei, Presiden Sri Lanka, Perdana Menteri Qatar, Perdana Menteri Timor Leste, Perdana Menteri Mongolia, Wakil Presiden Filipina, dan Wakil Perdana Menteri Turki adalah para peserta bintang tahun ini. Menteri Jonathan Coleman mewakili Selandia Baru dan menjadi seorang pembicara utama untuk satu dari dua sesi panel interaktif.

Jelas bahwa sejumlah negara yang berpartipasi bukanlah negara demokrasi seperti yang kita pahami, tetapi kehadiran mereka menyediakan berbagai kesempatan untuk saling belajar dari pengalaman negara-negara lain dan untuk berinteraksi.

Fokus tahun ini adalah tentang menanggapi suara-suara demokratis, dengan panel-panel menggali tentang kemampuan negara untuk mendengarkan suara-suara semacam itu dan bagaimana untuk menjamin tersedianya ruang untuk partisipasi masyarakat madani. Dr Coleman adalah pembicara utama dalam panel pertama ini.

Dalam upaya menetapkan intonasi dan cakupan untuk dialog ini, Presiden Yudhoyono menyampaikan dengan jelas bahwa pemerintah-pemerintah harus menanggapi suara-suara demokratis. Masalah-masalah yang ada sulit dan tidak ada jaminan untuk keberhasilan. Tetapi sangatlah penting bagi pemerintah-pemerintah untuk berusaha untuk mancapai kemajuan dan untuk mencoba menyampaikan rasa adanya manfaat dari perubahan untuk masyarakat.

Selalu menantang untuk mengidentifikasi hal-hal penting dalam pertemuan-pertemuan sejenis ini, tetapi saya kagum atas intervensi-intervensi dari Mongolia, yang menekankan keterbukaan yang mengagumkan di sekitar pengembangan hukum-hukum (drafnya tersedia di internet untuk komentar publik); Tunisia yang berbicara tentang pengalaman revolusioner baru-baru ini; dan Papua New Guinea yang berbicara tentang berbagai tantangan dari lembaga-lembaga demokratis di sebuah negara dengan 800 kelompok budaya yang berbeda, yang sebagian besar tidak sadar akan soal-soal konstitusional.

Terdapat sebuah diskusi yang kaya tentang bagaimana negara-negara dapat menanggapi suara-suara demokratis, mengidentifikasi kecepatan perubahan (seperti the Arab Spring) dan berbagai alat komunikasi baru yang sangat kuat sebagai faktor-faktor yang perlu diingat. Saluran-saluran yang bisa diakses dan tranparan diperlukan untuk memungkinkan masyarakat untuk menyampaikan cita-cita dan perhatian-perhatian mereka. Alat-alat dan mekanisme-mekanisme seperti proses konsultasi, referendum, proses kebebasan informasi, dan mekanisme evaluasi keputusan ditekankan memiliki nilai. Partisipasi masyarakat madani, yang para pembicara akui sebagai sebuah kesatuan yang tidak homogen, dan perlunya untuk mendengarkan kritik juga mencuat.

Ini adalah sebuah forum yang berharga, dengan pujian yang banyak untuk Indonesia yang telah menjadi tuan rumah dan menciptakan sebuah lingkungan untuk dialog dan berbagi. Tahun ini melibatkan lebih banyak diskusi interaktif ketimbang tahun lalu. Tetapi ini dapat menjadi lebih baik lagi. Dr Coleman menyarankan agar terdapat lebih banyak lokakarya di masa depan yang melibatkan para ahli dari luar (seperti direksi senior Facebook, Yahoo atau Google) untuk memulai debat tentang peran dari media sosial. Mantan Wakil Perdana Menteri Australia menanyakan berbagai pertanyaan ke salah satu pembicara yang menekankan beberapa kompleksitas yang ada, secara implisit mengundang para peserta untuk memikirkan apakah mungkin ada jalan-jalan yang lebih baik. Beberapa menyarankan kehadiran masyarakat madani di beberapa diskusi. Saya harap beberapa ide dan preseden bagus akan mandapatkan tanggapan.

Seperti hubungan-hubungan yang baik, demokrasi yang baik membutuhkan waktu untuk berkembang dan terdapat banyak rute untuk hasil-hasil yang sukses dan produktif. Proses-proses seperti Forum Demokrasi Bali menyediakan sebuah lingkungan yang bersahabat untuk berbagai dan belajar.

Minister Jonathan Coleman was a lead discussant for one of the two interactive panel sessions.

3 Responses to “Blossoming Democracy – the Bali Democracy Forum Contribution/Demokrasi yang Berkembang – Sumbangan Forum Demokrasi Bali”

  1. Aprie Aprie says:

    I start reading all the posts. Do you make the Indonesian version by your self,Mr.Ambassador?
    I have bookmarked your blog. Look forward to the newest post. Regards from Sumatera Island.

  2. David Taylor David Taylor says:

    Thanks for your support and for your question. While I write the blogs, my Indonesian language skills are not up to translation. One of our very able Indonesian staff members at the Embassy translates the blogs for me.

  3. Aprie Aprie says:

    I google the keyword “Indonesian ambassador blog”, what a surprise!! I found your name on the first page, check this link

    https://www.google.co.id/search?q=indonesian+ambassador+blog&ie=utf-8&oe=utf-8&aq=t&rls=org.mozilla:en-US:official&client=firefox-a

    This is a great step to start open information for the public. well done,Sir!

Comments are moderated. Please read our terms and conditions before posting.

Leave a Reply

Our terms and conditions