www.mfat.govt.nz www.safetravel.govt.nz
Go to home page - New Zealand Ministry of Foreign Affairs & Trade.

You are here: MFAT blogs > David Taylor > Boxing Day Tsunami: Eight Years On / Boxing Day Tsunami: Delapan Tahun Berlalu

Boxing Day Tsunami: Eight Years On / Boxing Day Tsunami: Delapan Tahun Berlalu

22nd January 2013 by David Taylor, Jakarta | No Comments

I began to write this blog on Boxing Day 2012, remembering with great sadness the tsunami that swept through Indonesia, Thailand, Malaysia, Sri Lanka and various other countries in 2004.

I was living in Seoul at the time and remember with my daughters tracking the progress of the tsunami on the internet and being appalled at the devastation it was causing and the speed it travelled at. Over the days and weeks afterward, I recall the stories of loss, the grief, the bravery and feeling a sense of hopelessness about the enormity of the recovery process.

Indonesia was the country hardest hit by the disaster with around 220, 000 deaths, around half a million people homeless, a loss of livelihood for 750 000 people, and massive damage.

Aceh was the province that bore the brunt of the blow – the scale of the impacts is almost unimaginable. During the past year, I have visited Aceh, participated in a conference there about the joint Indonesian and donor effort to recover from and rebuild, and attended a subsequent conference in Jakarta during which the Multi Donor Fund for Aceh and Nias was wound up.

By some accounts, the Indonesian government spent close to US$7 billion in the recovery and reconstruction phase. The Multi Donor Fund disbursed around US680 million from 15 donors, including New Zealand (our direct contribution was NZ$12 million) across outcome areas dealing with community recovery, rehabilitation and reconstruction of infrastructure and transport, strengthening governance and capacity building, sustaining the environment, enhancing the overall recovery process, and economic development and livelihoods.

The recovery effort has been remarkable. The Indonesian Government and the World Bank, which ran the Fund and its projects, have rebuilt Banda Aceh, improved infrastructure in the province and created new employment opportunities. Before and after photographs highlight the transformation that has taken place. The world is still learning how to recover from big disasters and the lessons from 8 years of recovery in Indonesia are compelling and applicable in both developing and developed countries – particularly in relation to Government leadership and community engagement.

There is an impressive new museum dedicated to the tragedy – the facilities will double as a safe haven should there ever be another tsunami in Banda Aceh – and school-children practice tsunami and earthquake drills.

But the impacts of the disaster run far wider. The tsunami enabled the government, with the support of Finland, to negotiate a peace settlement with the Free Aceh movement, bringing to an end a long running insurgency. Partai Aceh (the main political vehicle of ex-GAM members) is now the legitimate elected government in the province.

New approaches to transparency and anti-corruption trialled in the rebuild of Aceh have been extended to other agencies.

Indonesia has also revamped the way it will handle disasters in future, by creating two new government driven multi donor trust funds, one with World Bank support, the other managed by UNDP. New Zealand was the first and so far only donor to contribute to both these new funds on the basis of actively supporting Government arrangements and building institutional capacity for future events – thereby reducing dependence on external parties.

The significance of these new funds is crystal clear: Indonesia is one of the world’s most disaster prone countries and needs to be prepared. As President Yudhoyono said at the conference to wind-up the Fund, “We learn a lot each time we deal with a disaster, whether it is about something we’re doing wrong or something we’re doing right. That’s why we call disaster mitigation our ‘unfinished’ agenda.”

His administration’s far-sighted decision to establish the new trust funds, not only highlights a commitment to leading disaster development and recovery and being better prepared for future trials, but it’s also a financially prudent move. Speaking at the conference alongside the President, World Bank Vice-President Pamela Cox said that every dollar spent on prevention and preparation means a fourfold reduction in costs. “You have to invest now so you don’t have to spend so much in the future,” she said. “You can’t expect all this money to come in the future.”

As a close friend and partner with deep expertise in disaster management, New Zealand has sought to strengthen cooperation in this field with Indonesia since 2004. Our contribution to the Multi Donor Fund was the largest we ever made for a single disaster. We have remained active in the Fund process (acting on behalf of Ireland also). Disaster preparedness has become a central plank in our bilateral and regional aid efforts, drawing on New Zealand’s own experiences and systems. We’re working with Indonesia’s national disaster preparedness agency to strengthen their planning and the capability of their staff; crown-research institute GNS has been working to help develop plans and capacity at the provincial level; New Zealand has helped develop plans for the ASEAN Humanitarian Assistance Centre in Jakarta; and, as well as being the first donor to contribute to Indonesia’s two new funds, we are encouraging other donors to join us.

The Boxing Day tsunami was truly an horrific event, but it was the catalyst for change in Indonesia and Aceh that is ongoing. Current and future generations will benefit.

Boxing Day Tsunami: Delapan Tahun Berlalu

Saya memulai menulis blog ini pada Boxing Day (satu hari setelah perayaan Natal) 2012, mengenang dengan kesedihan yang mendalam tsunami yang menyapu Indonesia, Thailand, Malaysia, Sri Lanka dan berbagai negara lainnya pada tahun 2004.

Ketika itu saya tinggal di Seoul dan saya ingat bersama anak-anak perempuan saya mengikuti perkembangan dari tsunami tersebut di internet dan menjadi sangat sedih karena kehancuran yang disebabkan oleh tsunami tersebut dan kecepatan dari tsunami tersebut. Berhari-hari dan berminggu-minggu setelahnya, saya mengingat banyak cerita tentang kehilangan, kesedihan, keberanian dan merasakan rasa keputusasaan tentang beratnya proses pemulihan.

Indonesia adalah negara yang paling berat didera oleh bencana ini dengan sekitar 220 ribu orang tewas, sekitar setengah juta orang kehilangan tempat tinggal, 750 ribu orang kehilangan mata pencaharian dan kerusakan parah. Aceh adalah provinsi yang menerima pukulan utama dari tsunami ini – yang skala dampaknya hampir tidak terbayangkan. Pada tahun yang lalu, saya telah mengunjungi Aceh, berpartisipasi dalam sebuah konferensi tentang upaya bersama Indonesia dan donor untuk memulihkan dan membangun kembali Aceh, dan menghadiri sebuah konferensi lanjutan di Jakarta ketika Multi Donor Fund for Aceh and Nias diakhiri.

Menurut beberapa perhitungan, pemerintah Indonesia menghabiskan hampir US$7 milyar dalam fase pemulihan dan rekonstruksi. The Multi Donor Fund menyalurkan sekitar US680 juta dari 15 donor, termasuk Selandia Baru (bantuan langsung kami sebesar NZ$12 million) ke beberapa bidang yang berurusan dengan pemulihan komunitas, rehabilitasi dan rekonstruksi infrastruktur dan transport, penguatan pemerintah dan pembangunan kapasitas, dan pembangunan ekonomi dan mata pencaharian.

Upaya pemulihan sangatlah mengagumkan. Pemerintah Indonesia dan Bank Dunia, yang menjalankan Fund tersebut dan berbagai proyeknya, telah membangun kembali Banda Aceh, memperbaiki infrastruktur di provinsi Aceh dan menciptakan berbagai peluang kerja baru. Gambar-gambar sebelum dan sesudah pemulihan menekankan transformasi yang telah berlangsung. Dunia masih belajar bagaimana untuk pulih dari bencana besar dan berbagai pelajaran dari delapan tahun pemulihan di Indonesia sangat menarik dan dapat diterapkan baik di negara berkembang maupun negara maju – terutama dalam kaitannya dengan kepemimpinan pemerintah dan hubungan dengan masyarakat.

Terdapat sebuah museum baru yang mengesankan tentang tragedi tersebut – fasilitas ini juga dapat digunakan sebagai tempat berlindung bila ada tsunami lagi di Banda Aceh – dan para anak sekolah berlatih menghadapi tsunami dan gempa bumi.

Tetapi berbagai dampak bencana ini lebih luas. Tsunami tersebut memungkinkan pemerintah, dengan dukungan Finlandia, untuk menegosiasikan sebuah kesepakatan damai dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM), mengakhiri pemberontakan bersenjata yang telah berlangsung sangat lama. Partai Aceh (kendaraan politik para mantan anggota GAM) sekarang adalah pemerintah yang terpilih secara legal di provinsi tersebut.

Berbagai pendekatan baru terhadap transparansi dan anti korupsi yang dicoba di Aceh telah diperluas ke daerah-daerah lainnya..

Indonesia juga telah memperbaharui caranya menangani berbagai bencana di masa depan, dengan mencipatakan dua dana multi-donor yang dikelola pemerintah, yang pertama dengan dukungan Bank Dunia, yang lainnya dikelola oleh UNDP. Selandia Baru adalah donor pertama dan sejauh ini satu-satunya donor yang berkontribusi ke kedua dana tersebut dengan dasar membantu secara aktif berbagai pengaturan pemerintah dan membangun kapasitas institusional untuk berbagai peristiwa di masa depan – yang melalui hal ini mengurangi ketergantungan atas pihak-pihak luar.

Signifikansi dari dana-dana baru ini sangatlah jelas: Indonesia adalah salah satu negara dunia yang paling rawan bencana dan perlu untuk siap. Seperti yang diucapkan oleh Presiden Yudhoyono pada penutupan the Fund, “Kami belajar banyak setiap kali kami menangani sebuah bencana, apakah itu tentang sesuatu yang kami lakukan dengan salah atau sesuatu yang kami lakukan dengan benar. Oleh karena itu kami menyebut mitigasi bencana kami “agenda yang belum selesai.’

Keputusan jangka panjang pemerintahannya untuk mendirikan kedua dana baru ini, tidak hanya menekankan sebuah komitmen untuk memimpin pembangunan dan pemulihan bencana dan menjadi lebih siap untuk kejadian-kejadian di masa depan, tetapi ini adalah sebuah langkah yang hati-hati secara keuangan. Berbicara pada konferensi ini bersama Presiden, Wakil President Bank Dunia Pamela Cox mengatakan bahwa setiap dolar yang digunakan untuk pencegahan dan persiapan berarti pengurangan berbagai biaya sebesar empat kali lipat. “Anda harus berinvestasi sekarang sehingga anda tidak perlu menghabiskan lebih banyak uang di masa depan,” ujarnya. “Anda tidak dapat mengharapkan uang ini akan datang di masa depan.”

Sebagai seorang kawan baik dan mitra dengan keahlian yang dalam dalam pengelolaan bencana, Selandia Baru telah berusaha untuk memperkuat kerjasama dalam bidang ini dengan Indonesia sejak 2004. Sumbangan kami untuk the Multi Donor Fund adalah yang terbesar yang telah pernah kami berikan untuk sebuah bencana. Kami tetap aktif di proses Fund (bertindak mewakili Irlandia juga). Kesiapsiagaan bencana telah menjadi sebuah titik sentral dalam hubungan bilateral dan berbagai upaya bantuan regional kami, dengan memanfaatkan berbagai pengalaman dan sistem Selandia Baru. Kami sekarang bekerja dengan Badan Penanggulangan Bencana Indonesia untuk memperkuat perencanaan dan kapasitas mereka pada tingkat provinsi; Selandia Baru telah membantu mengembangkan berbagai rencana untuk the ASEAN Humanitarian Assistance Centre di Jakarta; dan, juga menjadi donor pertama yang berkontributsi ke dua dana baru Indonesia, kami mendorong para donor lain untuk bergabung bersama kami.

Tsunami Boxing Day adalah benar-benar sebuah peristiwa yang menakutkan, tetapi ia telah menjadi katalis perubahan di Indonesia dan Aceh yang terus berlangsung. Para generasi sekarang dan selanjutnya akan mendapatkan manfaat.

Comments are moderated. Please read our terms and conditions before posting.

Leave a Reply

Our terms and conditions