www.mfat.govt.nz www.safetravel.govt.nz
Go to home page - New Zealand Ministry of Foreign Affairs & Trade.

You are here: MFAT blogs > David Taylor > Cambodia as ASEAN Chair / Kamboja Sebagai Ketua ASEAN

Cambodia as ASEAN Chair / Kamboja Sebagai Ketua ASEAN

16th May 2012 by David Taylor, Jakarta | 1 Comment

Last year, the ASEAN chair was occupied by the regional Goliath, Indonesia. This year sees the first of three David’s take on the role. Cambodia holds the tiller in 2012, Brunei in 2013 and Myanmar in 2014.

Heading into this year, ASEAN watchers wondered whether these small countries could pull off regional leadership given the complexity of the agenda, their own limited human resources and the challenges of hosting major meetings.

I recently visited Pnomh Penh to meet the Cambodian team responsible for running ASEAN and associated meetings, including the East Asia Summit this year.

At the policy level, the Cambodians seem to be ready. They have picked up the forward agenda they inherited and are trying to progress it, recognising that this will always be a work in progress. Maintaining momentum on the internal ASEAN agenda remains top priority, looking ahead to the 2015 target date for the establishment of the ASEAN Community. The 20th ASEAN Leaders Summit held in March showed Cambodia’s focus on narrowing development gaps among ASEAN member states, strengthening mechanisms for ensuring financial stability in the region, progressing implementation of ASEAN’s Connectivity Master Plan and continuing to enhance relations with neighbours in the region.

In terms of regional issues, Cambodia is clear about the need to try to make progress on a Code of Conduct for the South China Sea. They want ASEAN to find common ground and begin engaging China soon. They want to recognise the positive progress made in Myanmar and continue to encourage more, while also promoting the lifting of sanctions and new economic and investment engagement there.

To ensure they deliver, the Cambodian government has been drawing in officials to the 2012 team. They see this as something of a coming out process – a chance to show their own people, the region and the world that Cambodia has emerged and is ready to contribute substantially to the ASEAN and regional agenda.

While there are always many challenges associated with regional leadership, the logistics of hosting the East Asia Summit in November will be a real test. Making arrangements for 18 leaders, including leaders from the United States, China, the Russian Federation and South Korea, is no walk in the park. Pnomh Penh’s hotels and infrastructure will be tested with the influx of as many as 7000 people, the challenges of security and motorcade management. I wish them well.

Proof positive of Cambodia’s leadership performance is still half a year away, but to this point they deserve credit for a well-managed ASEAN Leaders Summit and a focused approach to the wider agenda for 2012. I hope all involved take time to recognise and respect the Cambodian commitment and the challenges they are working hard with limited resources to manage.

Kamboja Sebagai Ketua ASEAN

Tahun lalu, ketua ASEAN diduduki oleh Goliat kawasan ini, Indonesia. Tahun ini menyaksikan satu dari tiga Daud mengambil peran pimpinan. Kamboja memegang tampuk pimpinan pada 2012, Brunei pada 2013, dan Myanmar pada 2014.

Menuju tahun ini, para pengamat membayangkan apakah negara-negara kecil ini dapat memegang kepemimpinan kawasan mengingat rumitnya agenda, terbatasnya sumber daya manusia mereka, dan berbagai tantangan untuk menjadi tuan rumah berbagai pertemuan besar.

Saya baru-baru ini mengunjungi Pnomh Penh untuk bertemu tim Kamboja yang bertanggung jawab untuk menjalankan ASEAN dan berbagai pertemuan terkait, termasuk Pertemuan Tingkat Tinggi Asia Timur tahun ini.

Pada tingkat kebijakan, orang-orang Kamboja sepertinya sudah siap. Mereka sudah mengerti agenda kedepan yang mereka warisi dan sedang berusaha untuk meneruskannya, menyadari bahwa ini akan selalu menjadi perkerjaan yang berkesinambungan. Menjaga momentum dari agenda internal tetap menjadi prioritas utama, melihat target 2015 kedepan untuk pembentukan Komunitas ASEAN. Pertemuan Tingkat Tinggi Pemimpin ASEAN ke 20 yang diadakan pada bulan Maret menunjukkan perhatian Kamboja pada pengurangan jurang pembangunan di antara para anggota ASEAN, memperkuat berbagai mekanisme untuk menjamin stabilitas keuangan di kawasan ini, memajukan implementasi dari Rencana Utama Konektifitas ASEAN, dan melanjutkan untuk meningkatkan berbagai hubungan dengan para tetangga di kawasan ini.

Dalam hal masalah-masalah kawasan, Kamboja sikapnya jelas tentang kebutuhan untuk mencoba dan membuat kemajuan dalam sebuah Aturan Main untuk Laut China Selatan. Mereka ingin ASEAN menemukan sikap dasar yang sama dan mulai mendekati Cina dalam waktu dekat. Mereka ingin mengakui kemajuan positif yang dibuat di Myanmar dan melanjutkan untuk mendorong kemajuan yang lebih jauh, sembari juga mendorong dibukanya berbagai sanksi dan hubungan ekonomi dan investasi baru di sana.

Untuk memastikan mereka dapat mendapatkan hasil yang baik, pemerintah Kamboja telah menarik para pejabat ke dalam tim 2012. Mereka melihat ini sebagai proses pemunculan keluar – sebuah kesempatan untuk menunjukkan ke masyarakat mereka sendiri dan dunia bahwa Kamboja telah bangkit dan siap untuk berkontribusi besar ke ASEAN dan agenda kawasan.

Walaupun selalu terdapat banyak tantangan terkait kepemimpinan kawasan, logistik dari kegiatan menjadi tuan rumah Pertemuan Tingkat Tinggi Asia Timur pada bulan November akan menjadi sebuah ujian yang sebenarnya. Membuat berbagai persiapan untuk 18 pemimpin, termasuk pemimpin dari Amerika Serikat, China, Federasi Rusia, dan Korea Selatan, bukanlah sesuatu yang mudah seperti jalan-jalan di taman. Hotel-hotel dan infrastruktur di Pnomh Penh akan diuji dengan arus masuk sampai sebanyak 7000 orang, berbagai tantangan keamanan, dan pengelolaan konvoi. Saya mendoakan yang baik untuk mereka.

Bukti positif dari kinerja kepemimpinan Kamboja masing harus dibuktikan setengah tahun ke depan, tetapi sampai titik ini mereka layak mendapatkan pujian untuk sebuah Pertemuan Tingkat Tinggi Pemimpin ASEAN yang terkelola dengan baik dan sebuah pendekatan yang fokus untuk agenda yang lebih luas untuk 2012. Saya harap semua yang terlibat mengambil waktu untuk mengakui dan menghormati komitmen Kamboja dan berbagai tantangan yang mereka hadapi melalui kerja keras dengan sumber daya yang terbatas.

Cambodia's ASEAN Logo

NZ Ambassador to Indonesia and ASEAN David Taylor meets with the Cambodian Minister of Commerce, HE Mr Prasidh Cham

One Response to “Cambodia as ASEAN Chair / Kamboja Sebagai Ketua ASEAN”

  1. Aprie van Baturaja Aprie van Baturaja says:

    Reading this post carefully, I come up with the opinion that Cambodian has strong motivation. This would be good. They have compass where to go. It is bit horrible to know they have to take a care of about 7.000 official guests, I could imagine this will be big challenge. perhaps they need to cooperate with the neighbor countries to assure the security and other issues related the East Asia Summit in November.

Comments are moderated. Please read our terms and conditions before posting.

Leave a Reply

Our terms and conditions