www.mfat.govt.nz www.safetravel.govt.nz
Go to home page - New Zealand Ministry of Foreign Affairs & Trade.

You are here: MFAT blogs > David Taylor > Education – building communities and lasting friendships / Pendidikan – membangun komunitas dan persahabatan yang abadi

Education – building communities and lasting friendships / Pendidikan – membangun komunitas dan persahabatan yang abadi

12th October 2010 by David Taylor, Jakarta | No Comments

Education links with Indonesia represent a big opportunity for New Zealand interests and our longer term relationship with this country.

Indonesia’s government is legally committed to spend 20 percent of the annual budget on education.  That’s around NZ$ 34.1 billion (in 2010) per annum. These funds are utilised by the national authorities and by the regions for education at all levels, including scholarships for study abroad.

As Indonesia’s prosperity grows, parents are looking increasingly to identify education opportunities for their children.  English language education in a safe environment not too far from home has real attraction for many Indonesians.  Currently some 50,000 Indonesians are studying offshore, with about 67 percent of that total in Australia , the United States , United Kingdom and Canada .

New Zealand has a strong reputation for education services and the industry generates jobs and income for a wide range of New Zealanders. 

There is excellent potential to engage with Indonesia on several levels.

Institution-to-institution links.   The Auckland University of Technology recently concluded a twinning agreement with the BINUS University , a go-ahead private institution in Jakarta .  I am told this was a “first” for the education relationship as we’ve never before had an agreement to enable students to graduate with qualifications from both universities.  Victoria University of Wellington has also just concluded collaborative agreements with BINUS and with Paramadina, another highly regarded Jakarta institution.  These agreements will facilitate staff and student exchanges and collaborative research.  These recent visits are welcome examples of a general up-take in interest on the part of New Zealand universities in links with this country.

Student recruitment.  The Education Network Indonesia (ENI) has been working on behalf of several universities and polytechnics for several years to bring students to New Zealand .  Around 400 Indonesians studied in New Zealand in 2009.  The number will climb this year.  We are working with ENI, New Zealand Trade and Enterprise and individual institutions to attract more Indonesians to our universities, polytechnics and schools.

Scholarship engagement.  Through the New Zealand aid programme, we currently bring around 20 Indonesians each year to New Zealand for postgraduate (masters or doctorate) study.  As a result of Foreign Minister McCully’s announcement in July of a substantial increase in scholarship awards to ASEAN countries from 70 to 170 per annum, we should see at least a doubling of Indonesian postgraduate students in New Zealand .   This has already resonated strongly with the Indonesian authorities – I have had promising discussions with the Education Ministry here about more Indonesian government scholarship recipients studying in New Zealand .

Training in country.  We’ve seen visits in recent months by teams from Auckland University and from the crown research institute, GNS Science, to run workshops at the University of Gadjah Mada in Yogyakarta, one of Indonesia ’s top state universities.  Their work on geothermal and disaster management and preparedness is helping to build capacity here in areas of critical need.  Indonesia has the world’s largest geothermal resource and the globe’s most ambitious development plans in that sector.  The volcanic and tectonic activity that presents those opportunities also creates problems through volcanic eruptions and earthquakes.  These are areas where New Zealand has much to offer.  And training in-country is a very efficient way to develop expertise at reasonable cost.

Education investment.  New Zealand firm ACG has developed the ACG International School and a New Zealand permanent resident has established the New Zealand International School, both in Jakarta.  These schools have strong reputations locally and have growing rolls.  There are probably niche opportunities also for English-language training facilities or in fields like tourism where we have much to offer.

While there are immediate benefits from education engagement along the lines I’ve described here, there are also longer term ones.  

Education in New Zealand creates life-long friendships.  We’re fortunate that some prominent Indonesians have graduated from our universities, including Teuku Faizasyah, the current spokesperson for the President; Lutfi Rauf, the Director-General for Protocol and Consular Affairs at the Ministry of Foreign Affairs; Dr Hermanto Siregar, Vice Rector of the Bogor Institute of Agriculture (the best Indonesian agricultural university); Dr Ridwan Zachrie, Managing Director of Recapital (one of the largest investment companies in the country); and Dr William Syahbandar, the former head of post-Tsunami reconstruction on Nias. There have been around 2,000 Indonesian graduates from our tertiary institutions since 1994. 

Some 60 Victoria University alumni met the Vice-Chancellor and a team from the university at an event this week.  It was great to meet people doing well in a variety of fields, with fond and vivid memories of their time spent in New Zealand.  Some spoke of plans for their own children to follow in their footsteps – surely the best advertisement possible about the quality of the education experience in New Zealand.

Education in key sectors also has potentially tangible relationship benefits.  Over 150 Indonesian geothermal engineers received their training in New Zealand.  Many Indonesians working on disaster preparedness and management have been trained in New Zealand or by our people.  Some 10 academics at Indonesia ’s leading agricultural university have New Zealand degrees.

I see building education links as being of fundamental importance to my work here and the future of New Zealand’s relationship with Indonesia .   

 

Pendidikan – membangun komunitas dan persahabatan yang abadi
 
 Hubungan-hubungan pendidikan dengan Indonesia mewakili sebuah peluang besar untuk kepentingan-kepentingan Selandia Baru dan hubungan jangka panjang kita di negeri ini.
Pemerintah Indonesia menurut undang-undang diharuskan mengalokasikan 20 percent dari anggaran belanja tahunan untuk bidang pendidikan. Jumlahnya sekitar NZ$ 34.1 milyar (pada 2010) per tahun.   Dana-dana ini digunakan oleh pemerintah nasional dan oleh daerah-daerah untuk pendidikan pada semua tingkatan, termasuk untuk beasiswa-beasiswa untuk belajar di luar negeri.

Sejalan dengan kemakmuran Indonesia yang tumbuh, para orang tua semakin  aktif dalam mengidentifikasi peluang-peluang untuk anak-anak mereka.  Pendidikan berbahasa Inggris di sebuah lingkungan yang aman dan tidak terlalu jauh dari rumah memiliki daya tarik yang besar untuk banyak orang Indonesia.  Saat ini, sekitar 50.000 orang Indonesia sedang belajar di luar negeri, dengan kira-kira dari 67 persen dari total jumlah tersebut di Australia, Amerika Serikat, Britania Raya, dan Kanada.

Selandia Baru memiliki sebuah reputasi yang kuat intuk jasa-jasa pendidikan, dan industri pendidikan menghasilkan banyak pekerjaan dan pendapatan untuk berbagai kalangan orang-orang Selandia Baru. 

Terdapat potensi yang sangat bagus untuk berinteraksi dengan Indonesia pada berbagai tingkatan.

Hubungan antar lembaga. Auckland University of Technology baru-baru ini menyepakati sebuah perjanjian twinning dengan Universitas BINUS, sebuah institusi pendidikan swasta yang menjanjikan di Jakarta. Saya diberitahu bahwa ini yang pertama kali untuk hubungan pendidikan karena kita sebelumnya belum pernah punya sebuah perjanjian yang membuat para mahasiswa dapat lulus dengan kualifikasi-kualifikasi dari kedua universitas.  Victoria University of Wellington juga baru saja menyepakati perjanjian-perjanjian kerja sama dengan BINUS dan Paramadina, sebuah institusi pendidikan Jakarta yang terhormat lainnya.  Perjanjian-perjanjian ini akan memfasilitasi pertukaran staf pengajar dan mahasiswa dan penelitian bersama.   Kunjungan-kunjungan tersebut adalah contoh-contoh dari meningkatnya minat berbagai universitas Selandia Baru secara umum terhadap hubungan-hubungan dengan negara ini.

Rekrutmen mahasiswa.  The Education Network Indonesia (ENI) telah bekerja atas nama berbagai universitas dan politeknik beberapa tahun belakangan ini untuk membawa mahasiswa-mahasiwa ke Selandia Baru. Sekitar 336 orang Indonesia belajar di Selandia Baru pada 2009.  Jumlahnya akan naik tahun ini. Kami bekerja dengan ENI, New Zealand Trade and Enterprise dan masing-masing institusi pendidikan untuk menarik lebih banyak orang Indonesia ke berbagai universitas, politeknik, dan sekolah kami.

Program beasiswa. Melalui New Zealand aid programme, kami saat ini mengirim sekitar  20 orang Indonesia ke Selandia Baru untuk study pascasarjana (master dan doktoral).  Sebagai hasil dari pengumuman oleh Menteri Luar Negeri McCully di bulan Juli tentang sebuah kenaikan yang besar dalam jumlah beasiswa-beasiswa untuk negara-negara ASEAN dari 70 ke 170 per tahun, kita akan melihat paling tidak jumlah mahasiswa pascasarjana Indonesia di Selandia Baru akan meningkat dua kali lipat. Hal ini sudah mendapatkan tanggapan yang sangat baik dari otoritas-otoritas Indonesia – Saya sudah melakukan pembicaraan-pembicaraan yang menjanjikan dengan Kementerian Pendidikan di sini tentang jumlah penerima beasiswa pendidikan pemerintah Indonesia yang lebih banyak untuk belajar di Selandia Baru.

Pelatihan di Indonesia.  Kami telah melihat berbagai kunjungan di beberapa bulan terakhir oleh tim-tim dari Auckland University dan juga dari sebuah lembaga penelitian negara Selandia Baru, untuk melakukan berbagai lokakarya di Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta, salah satu universitas terbaik di Indonesia.  Kerja mereka pada bidang panas bumi dan manajemen dan kesiapan bencana membantu untuk membangun kapasitas di Indonesia di berbagai bidang yang sangat membutuhkan bantuan. Indonesia memiliki sumber panas bumi yang terbesar di dunia dan rencana-rencana pembangunan yang paling ambisius di dunia dalam sektor ini.  Aktivitas gunung berapi dan tektonik yang menghadirkan berbagai peluang tersebut juga menciptakan berbagai masalah melalui letusan-letusan gunung berapi dan gempa bumi. Ini adalah bidang-bidang di mana Selandia Baru memiliki banyak yang bisa ditawarkan. Dan pelatihan di negeri ini adalah sebuah cara yang sangat efisien untuk membangun keahlian dengan biaya yang wajar.

Investasi pendidikan. Perusahaan Selandia Baru  ACG telah membangun Sekolah Internasional ACG dan seorang penduduk tetap Selandia Baru telah mendirikan Sekolah Internasional Selandia Baru, keduanya di Jakarta. Kedua sekolah ini memiliki reputasi yang kuat di Indonesia dan memiliki jumlah pendaftaran murid yang terus bertambah.  Mungkin juga terdapat berbagai peluang khusus untuk fasilitas-fasilitas pelatihan berbahasa Inggris atau dalam bidang-bidang seperti turisme di mana kita memiliki banyak hal yang bisa ditawarkan.

Selain keuntungan-keuntungan jangka pendek dari kegiatan pendidikan yang telah saya jelaskan di sini, terdapat juga keuntungan-keuntungan jangka panjang.   

Pendidikan di Selandia Baru menciptakan persahabatan-persahabatan abadi. Kita beruntung bahwa beberapa tokoh Indonesia telah lulus berbagai universitas kita, termasuk Teuku Faizasyah, juru bicara Presiden; Lutfi Rauf, Direktur Jenderal Protokol dan Konsuler pada Kementerian Luar Negeri Indonesia;  Dr Hermanto Siregar, Wakil Rektor Institut Pertanian Bogor (universitas pertanian terbaik di Indonesia); Dr Ridwan Zachrie; Direktur Utama Recapital (salah satu perusahaan investasi terbesar  di negeri ini); Dr William Syahbandar, mantan kepala Badan Rekonstruksi PascaTsunami Nias. Terdapat kira-kira 2000 orang Indonesia yang lulus dari berbagai institusi pendidikan tersier kita sejak 1994.

Sekitar 60 alumni Victoria University  bertemu dengan Rektor dan tim dari universitas tersebut pada sebuah acara. Sangatlah menyenangkan untuk bertemu orang-orang yang telah berhasil dalam berbagai bidang, dengan ingatan-ingatan yang penuh cinta dan terang tentang waktu yang telah mereka lalui di Selandia Baru. Beberapa menyatakan bahwa ada rencana-rencana untuk anak mereka mengikuti jejak mereka — ini jelas adalah iklan terbaik tentang kualitas dari pengalaman pendidikan di Selandia Baru.

Pendidikan dalam beberapa sektor kunci juga memiliki keuntungan-keuntungan hubungan yang nyata. Lebih dari 150 insinyur panas bumi Indonesia menerima pelatihan mereka di Selandia Baru.  Banyak orang Indonesia yang berkecimpung dalam bidang kesiapan dan manajemen bencana telah dilatih di Selandia Baru atau oleh orang kita. Sekitar  10 akademisi pada sebuah universitas pendidikan pertanian ternama Indonesia memiliki gelar-gelar pendidikan Selandia Baru.

Saya melihat pembangunan hubungan-hubungan pendidikan sangatlah penting secara mendasar untuk pekerjaan saya di sini dan untuk hubungan masa depan Selandia Baru dengan Indonesia.

 

Comments are moderated. Please read our terms and conditions before posting.

Leave a Reply

Our terms and conditions