www.mfat.govt.nz www.safetravel.govt.nz
Go to home page - New Zealand Ministry of Foreign Affairs & Trade.

You are here: MFAT blogs > David Taylor > Indonesia and disasters / Indonesia dan berbagai bencana

Indonesia and disasters / Indonesia dan berbagai bencana

15th November 2010 by David Taylor, Jakarta | No Comments

Sibaret village on South Pagai. Typical scale of damage to 80% of dwellings in the village

The world has watched in recent weeks as Indonesia has grappled with two major disasters – a tsunami that followed an undersea earthquake off the Mentawai Islands and the ongoing eruption of Mt Merapi, an active volcano near the cultural centre of Yogyakarta .

Located in the most active zone of the so-called ring of fire, Indonesia has more than its share of natural disasters.  In October alone, beyond the tsunami and volcanic eruption, there were floods and slips in other parts of the country that took lives and disrupted communities and livelihoods.

Indonesia has developed some world-class capability for dealing with disasters.  The work the government did in Aceh and Nias, with the international donor community, to rebuild after the 2004 tsunami is truly impressive.  I attended a disaster preparedness meeting recently where some before-and-after slides captured in powerful visual terms how the authorities here delivered high quality infrastructure and services in affected areas and used the process to improve systems and preparedness in the event of any future disasters.  The impact of the reconstruction effort was truly transformational.

When trouble strikes here, New Zealand has consistently been there to lend a helping hand. We made substantial contributions following the 2004 tsunami, the 2006 Yogyakarta earthquake and after the 2009 Padang earthquake that took another 200,000 lives.

This month we contributed to immediate work to deal with the devastation caused in the Mentawai Islands.  We channelled $450,000 through Surf Aid, an NGO founded by a New Zealander, which led the immediate relief effort and helped them secure all-weather boats that could get to affected communities when most others could not.  Kirk Yates, Development Counsellor at the Embassy, visited in recent days to consider further support.

We have also made a contribution of NZ$500,000 to assist with the ongoing relief effort related to the Mt Merapi eruption.  Sixty percent of this sum has gone direct to the Sleman Regency to assist people that have been displaced by the eruption, the remainder is going through the International Red Cross.  We recognise that further help may yet be required.

Earlier in the month, we offered to provide assistance following landslides in Papua. In the past week, we have had a team of experts in Jakarta working with Indonesian officials and the ASEAN Secretariat to see how New Zealand could help in the establishment of the new AHA Centre (or ASEAN coordination centre for Humanitarian Assistance), a facility that will support ASEAN governments when they grapple with major disasters.  John Hamilton from the Ministry of Civil Defence and Emergency Management, Terry Webb and Noel Trustrum from Geo-Science New Zealand have participated in an ASEAN-wide disaster simulation exercise, engaged with Indonesian officials handling the Merapi and Mentawai events, and others about how best to structure a regional body.

New Zealand was selected to assist with this work because of our excellent reputation in the disaster management space, evidenced most recently in management of the Christchurch earthquake.  But the long history we have of working with Indonesia on disaster preparedness, mitigation and response has also given us strong relationships with key people here and an understanding of Indonesia’s needs.

As Foreign Minister McCully made clear during recent foreign minister consultations, we see ourselves continuing to be a close ally of Indonesia and ASEAN in the field of disaster risk management.

We are working up aid project activity as a flagship for cooperation with ASEAN.  We are continuing to engage with Indonesia through key relationships – like the University of Gadjah Mada in Yogyakarta, with the Bureau of Reconstruction and Rehabilitation, BAPPENAS (the government’s National Development Planning Agency) – and with other partners, including the United Nations agencies involved in this space and with donors, particularly Australia which has an Australia-Indonesia Facility for Disaster Reduction.

With our work on disaster risk management and our efforts to engage as Indonesia dramatically expands its geothermal capacity, we see New Zealand as a partner of choice for Indonesia on earth sciences work. We will continue to work with our Indonesian partners and New Zealand interests to support the continued strengthening of capacity here.

Indonesia dan berbagai bencana

Dunia telah menyaksikan dalam beberapa minggu terakhir ini ketika Indonesia dilanda dua bencana besar, sebuah tsunami yang disertai oleh sebuah gempa bumi di lepas pantai Kepulauan Mentawai dan meletusnya Gunung Merapi, sebuah gunung berapi aktif di dekat pusat kebudayaan, Yogyakarta.

Terletak di zona yang sangat aktif yang dikenal sebagai cincin api, Indonesia telah mengalami banyak sekali bencana alam. Di bulan Oktober saja, selain tsunami dan letusan gunung berapi, terjadi juga berbagai banjir dan tanah longsor di beberapa daerah lain dari negeri ini yang telah mengambil jiwa dan merusak komunitas dan matapencaharian.

Indonesia telah mengembangkan beberapa kapasitas kelas dunia untuk menghadapi berbagai bencana. Kerja yang pemerintah telah lakukan di Aceh dan Nias, dengan komunitas donor internasional, untuk membangun kembali setelah tsunami 2004 sangatlah mengesankan. Saya menghadiri sebuah pertemuan kesiapsiagaan bencana baru-baru ini di mana beberapa slide presentasi menunjukkan secara jelas bagaimana pemerintah telah menyediakan layanan dan infrastruktur kualitas tinggi di daerah-daerah yang terkena dampak bencana dan menggunakan proses ini untuk memperbaiki sistem dan kesiapsiagaan untuk menghadapi bencana di masa depan. Dampak dari upaya rekonstruksi ini benar-benar transformational.

Ketika masalah menyerang, Selandia Baru telah secara konsisten hadir untuk menawarkan bantuan.

Kami memberikan sumbangan yang cukup besar setelah tsunami 2004, gempa bumi Yogyakarta 2006, dan setelah gempa Padang 2009 yang mengambil 200.000 nyawa lainnya.

Bulan ini kami memberikan sumbangan untuk kegiatan tanggap darurat untuk menghadapi kehancuran yang terjadi di Kepulauan Mentawi. Kami menyalurkan $450.000 melalui Surf Aid, sebuah lembaga swadaya masyarakat yang didirikan oleh orang Selandia Baru, yang memimpin kegiatan tanggap darurat dan membantu mereka mendapatkan perahu cuaca yang dapat mencapai komunitas-komunitas yang terkena dampak bencana ketika hamper semua yang lain tidak dapat. Kirk Yates, Konsular Pembangunan di Kedutaan Besar, berkunjung baru-baru ini untuk mempertimbangkan bantuan selanjutnya.

Kami juga telah memberikan sumbangan sebesar NZ$500.000 untuk membantu kegiatan tanggap darurat yang masih berlangsung terkait letusan Gunung Merapi. Enam puluh persen dari sumbangan ini telah disalurkan langsung ke Kabupaten Sleman untuk membantu orang-orang yang telah mengungsi karena letusan tersebut, sisanya disalurkan melalui Palang Merah Internasional. Kami memaklumi bahwa bantuan lebih jauh mungkin akan dibutuhkan lagi.

Di awal bulan, kami menawarkan untuk menyediakan bantuan setelah kejadian tanah longsor di Papua.

Minggu yang lalu, kami kedatangan sebuah tim para ahli ke Jakarta yang bekerjasama dengan pejabat Indonesia dan Sekretariat ASEAN untuk melihat bagaimana Selandia Baru bisa membantu dalam pembentukan Pusat AHA yang baru (atau pusat koordinasi ASEAN untuk Bantuan Kemanusiaan), sebuah fasilitas yang akan mendukung pemerintah-pemerintah ASEAN ketika mereka dilanda bencana. John Hamilton dari Kementerian Pertahanan Sipil dan dan Manajemen Darurat, from the Ministry of Civil Defence and Emergency Management, Terry Webb dan Noel Trustrum dari Geo-Science Selandia Baru telah berparsipasi dalam sebuah latihan simulasi bencana ASEAN yang lebih luas, bertemu dengan pejabat Indonesia yang menangani kejadian Gunung Merapi dan Kepulauan Mentawai, dan pihak-pihak lain tentang bagaiman sebaiknya menyusun sebuah badan kawasan.

Selandia Baru dipilih untuk membantu kerja ini karena reputasi baik kami dalam bidang manajemen gempa, yang dibuktikan baru-baru ini dalam manajemen gempa Christchurch . Tetapi sejarah panjang yang kami miliki dalam kerja sama dengan Indonesia dalam kesiapsiagaan bencana, pengurangan dampak bencana, dan respons telah memberikan kami hubungan-hubungan yang sangat kuat dengan tokoh kunci di negeri ini dan sebuah pemahaman tentang kebutuhan-kebutuhan Indonesia .

Sepertinya yang telah dijelaskan oleh Menteri Luar Negeri McCully dalam konsultasi-konsultasi tingkat menteri luar negeri, kami melihat diri kami sebagai sekutu dekat Indonesia dan ASEAN dalam bidang manajemen resiko bencana.

Kami mengembangkan proyek bantuan kami sebagai sebuah program utama untuk kerjasama dengan ASEAN.  Kami tetap menjalin hubungan dengan Indonesia melalui hubungan-hubungan kunci – seperti dengan Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta, Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi, Bappenas (Badan Perencanaan Pembangunan Nasional) – dan dengan berbagai mitra lain, termasuk beberapa lembaga Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan dengan donor, terutama Australia yang memiliki sebuah fasilitas Australi-Indonesia untuk Pengurangan Bencana.

Dengan kerja kami dalam bidang manajemen resiko bencana dan upaya-upaya kami untuk bekerjasama seiring Indonesia meningkatkan kapasitas panasbuminya secara signifikan, kami melihat Selandia Baru sebagai mitra pilihan Indonesia untuk kerjasama di bidang ilmu-ilmu bumi. Kami akan tetap bekerja dengan para mitra Indonesia kami dan kepentingan-kepentingan Selandia Baru untuk mendukung penguatan kapasitas di sini.

Comments are moderated. Please read our terms and conditions before posting.

Leave a Reply

Our terms and conditions