www.mfat.govt.nz www.safetravel.govt.nz
Go to home page - New Zealand Ministry of Foreign Affairs & Trade.

You are here: MFAT blogs > David Taylor > Indonesia played vital role in New Zealander’s bid to make aviation history in the 1930s / Indonesia Mainkan Peran Penting dalam Upaya Seorang Warga Selandia Baru dalam Mengukir Sejarah Penerbangan di Tahun 1930an

Indonesia played vital role in New Zealander’s bid to make aviation history in the 1930s / Indonesia Mainkan Peran Penting dalam Upaya Seorang Warga Selandia Baru dalam Mengukir Sejarah Penerbangan di Tahun 1930an

12th July 2011 by David Taylor, Jakarta | 1 Comment

Kupang, Rambang and Surabaya are not known as important stopovers for international flights these days.  But back in the 1930’s these Indonesian towns, along with Batavia (now known as Jakarta),were vital to New Zealander aviator Jean Batten in her bid to make the world’s first direct flight from England to New Zealand.

One of the most famous aviators of her time, Jean Batten successfully flew solo from England to Australia in the mid-1930s to beat the existing record and become the first woman ever to make a return flight.  In 1936, she set a world record with a solo flight from England to New Zealand.

On her four historic flights between England and Australia/New Zealand, Jean landed 10 times in Indonesia. That early connection played an important part in aviation history.

Jean Batten documents these record-breaking flights in her autobiography “My Life”.

She describes her first glimpse of Indonesia’s islands, marvelling at the towering and active volcanic peaks, intensely cultivated green fields and elaborate irrigation canals.

To her disappointment, the famous Komodo dragons were not to be seen the day she flew over the Komodo Island. “The weather cleared as I passed over the little island of Komodo, where huge lizards resembling dragons are reputed to live. A low flight over the island, however, failed to reveal any trace of the Komodo dragons, so I continued my flight over Flores Island .”

Jean Batten did see plenty of other wildlife,  including brightly coloured parakeets which flew out of the thick jungle disturbed by the noise of her plane, and crocodiles sunning themselves on river banks.

Jean Batten never stopped for long in Indonesia – sometimes it was only for a few hours, and on occasion a night – staying at a pasangrahan or rest-house in the village near the airstrip.

Her 1934 arrival in Rambang, Lombok caused “faint surprise” amongst the local Indonesians, as she dropped through the clouds to land on her first flight from England to Australia.

“I felt like a person from another world; in fact I might have landed from Mars,” she writes. None of the local people, including the refuelling agent, could understand her.

“The language problem seemed an insurmountable obstacle until the agent produced an effective solution. He walked over to the truck, and returned with a notebook in which a number of questions and answers were written in Javanese with English translations. Very soon we were carrying on a silent conversation. I would point to a question written in English and the agent would read the Javanese translation, then delightedly point to the answer.”

Despite her brief time in the country, Jean Batten met many Indonesians who gathered to either welcome or farewell her.  She was struck by their friendliness, including the Dutch Administrators who sometimes fed her and put her up for the night. But it was the refuelling agents who gave her the most help to get back up into the skies –  clearing a foggy airstrip, helping her take off in heavy rain, and on one occasion repairing a cracked air-intake pipe on her engine.

“At Rambang with the Dutch Administrator, M. Bakker, and his party.” This photograph is included in Jean Batten’s autobiography “ My Life”.

Stopovers in Indonesia, then known as the Dutch East Indies, for refuelling and rest enabled Jean Batten to fly into aviation history.

Since that time Garuda airlines developed a commercial service to New Zealand that was suspended several years ago. New Zealand and Garuda are talking about a resumption of that service in the not too distant future. That will provide excellent new opportunities for two-way tourism, education and business.

A range of New Zealand companies are also working to develop connections in the aviation sector in Indonesia.

Jean Batten’s historic record setting flights began the air services connections between Indonesia and New Zealand. I expect our ties will continue to strengthen in the years ahead.

Material for this article has been sourced from Jean Batten’ autobiography “My Life” held at the New Zealand Electronic Text Centre, Victoria University of Wellington Library . Photographs reproduced courtesy of NZETC.

Indonesia Mainkan Peran Penting dalam Upaya Seorang Warga Selandia Baru dalam Mengukir Sejarah Penerbangan di Tahun 1930an

Kupang, Rambang, dan Surabaya tidak terkenal sebagai tempat transit internasional yang penting saat ini, tapi di tahun 1930an kota-kota Indonesia ini, bersama dengan Batavia (sekarang dikenal sebagai Jakarta) sangatlah penting bagi penerbang dunia terkenal asal Selandia Baru, Jean Batten, dalam upayanya untuk mewujudkan penerbangan langsung pertama di dunia dari Inggris ke Selandia Baru.

Transit-transit di Indonesia, yang waktu itu dikenal sebagai Hindia Timur Belanda, untuk mengisi bensin dan beristirahat memungkinkan Jean Batten untuk melakukan penerbangan-penerbangan pemecah rekor dan menerbangkan dirinya ke sejarah penerbangan.

Jean Batten mencatat penerbangan-penerbangan pemecah rekornya dalam autobiografinya yang berjudul “Hidupku”.

Ia menggambarkan pandangan pertamanya atas pulau-pulau Indonesia dan takjub atas puncak-puncak gunung berapi aktif yang tinggi, padang-padang hijau yang dikembangkan secara mendalam, dan anal-kanal irigasi yang luas.

Yang mengecewakannya adalah, naga-naga Komodo yang terkenal tidak nampak pada hari di mana ia terbang di atas Pulau Komodo.

“Cuaca cerah ketika saya melintas di atas pulau kecil Komodo, di mana kadal-kadal besar menyerupai naga dikabarkan hidup. Penerbangan rendah di atas pulau gagal ini untuk menemukan jejak-jejak dari naga-naga Komodo, sehingga saya melanjutkan penerbangan saya di atas Pulau Flores.”

Walaupun begitu Jean Batten berhasil melihat banyak binatang lainnya, termasuk burung parkit yang berwarna sangat cerah yang terbang keluar dari hutan yang sangat lebat karena terganggu oleh suara bising dari pesawat terbangnya, dan buaya-buaya yang sedang berjemur di tepi sungai.

Jean Batten tidak pernah berhenti lama di Indonesia – kadangkala hanya untuk beberapa jam saja, dan pada lain waktu selama semalam – menginap di pasangrahan atau rumah peristirahatan di sebuah desa di dekat lapangan terbang.

Kedatangannya di Rambang, Lombok pada tahun 1934, menyebabkan sebuah kejutan di antara orang-orang Indonesia , manakala dia menukik dari awan untuk mendarat dalam penerbangan pertamanya dari Inggris ke Australia .

“Saya merasa seperti seseorang yang berasal dari dunia lain; bahkan, saya mungkin berasal dari Planet Mars,” tulisnya, karena tidak satu pun orang-orang lokal, termasuk agen bahan bakar pesawatnya, yand dapat memahaminya.

“Masalah bahasa ini terlihat sebagai sebuah halangan yang sangat besar sampai ketika agen bahan bakar tersebut membuat sebuah pemecahan yang efektif. Dia berjalan ke arah truknya, dan kembali dengan sebuah buku tulis di mana beberapa pertanyaan dan jawaban ditulis dalam bahasa Jawa dengan terjemahan bahasa Inggrisnya. Seketika kami bercakap-cakap secara hening. Saya tunjuk sebuah pertanyaan di dalam bahasa Inggris dan si agen membaca terjemahan bahasa Jawanya, lalu menunjukkan jawabannya.”

Walaupun hanya meluangkan waktu sebentar di negeri ini, Jean Batten bertemu dengan banyak orang Indonesia yang berkumpul untuk menyambut kedatangannya atau melepas kepergiannya. Dia tersentuh oleh keramahan mereka, termasuk para adminstrator Belanda yang kadang-kadang memberikan makan padanya dan memberikan tempat tinggal untuk istirahat. Tetapi, adalah para agen bahan bakar yang paling berjasa dalam membantu dia untuk bisa kembali ke angkasa, membantu dia membersihkan lapangan yang berkabut, atau lepas landas di hujan lebat, dan pada satu kesempatan memperbaiki sebuah pipa udara yang retak pada mesinnya.

Dipandang sebagai salah satu penerbang paling terkenal di jamannya, Jean Batten berhasil terbang solo dari Inggris ke Australia pada pertengahan tahun 1930an mengalahkan rekor Inggris-Australia yang sudah ada, dan menjadi perempuan pertama yang berhasil untuk melakukan penerbangan dua arah pada rute tersebut

Pada tahun 1936 Jean Batten mengukir rekor dunia untuk penerbangan solo dari Inggris ke Selandia Baru.

Dalam empat penerbangan bersejarahnya antara Inggris dan Australia/Selandia Baru, dia mendarat 10 kali di Indonesia . Hubungan awal ini memainkan sebuah peranan penting dalam sejarah penerbangan.

16 October 1936. Jean Batten welcomed home after flying England-New Zealand. Photo courtesy Auckland Sun.

Setelah era itu, maskapai penerbangan Indonesia , Garuda, mengembangkan sebuah pelayanan komersial ke Selandia Baru, yang diberhentikan beberapa tahun yang lalu. Selandia Baru dan Garuda sekarang sedang membicarakan tentang membuka kembali pelayanan tersebut, yang diharapkan dapat terwujud tidak lama lagi. Hal ini akan menyediakan berbagai peluang baru untuk pariwisata, pendidikan, dan hubungan-hubungan bisnis dua arah.

Beberapa perusahaan Selandia Baru sekarang juga sedang berusaha untuk mengembangkan hubungan-hubungan di sektor penerbangan di Indonesia (lihat artikel tentang misi penerbangan ini).

Penerbangan-penerbangan pemecah rekor bersejarah dari Jean Batten memulai hubungan-hubungan pelayanan udara antara Indonesia dan Selandia Baru. Saya harap hubungan kita akan terus menguat di tahun-tahun yang akan datang.

Bahan untuk artikel ini bersumber dari autobiografi Jean Batten yang berjudul “Hidupku” yang disimpan di the New Zealand Electronic Text Centre, Victoria University of Wellington Library . Foto-foto berasal dari NZETC.

One Response to “Indonesia played vital role in New Zealander’s bid to make aviation history in the 1930s / Indonesia Mainkan Peran Penting dalam Upaya Seorang Warga Selandia Baru dalam Mengukir Sejarah Penerbangan di Tahun 1930an”

  1. Bagus Widyanto Bagus Widyanto says:

    I think it is very interesting that during pre-war era, some Indonesian airfields played vital role to support record breaking attempt by New Zealand aviator of that era.

    The story about language barrier seemed to be unusual for me, but I believe it was a common thing of that era.

Comments are moderated. Please read our terms and conditions before posting.

Leave a Reply

Our terms and conditions