www.mfat.govt.nz www.safetravel.govt.nz
Go to home page - New Zealand Ministry of Foreign Affairs & Trade.

You are here: MFAT blogs > David Taylor > Local environmental challenges and making a difference / Berbagai Tantangan Lingkungan Lokal dan membuat sebuah perubahan

Local environmental challenges and making a difference / Berbagai Tantangan Lingkungan Lokal dan membuat sebuah perubahan

18th January 2013 by David Taylor, Jakarta | No Comments

A highlight of my time in Indonesia has been the chance to visit some of the wonderful parts of this archipelago of over 17,000 islands. I’ve been struck by the physical beauty of Indonesia, the rich cultures and wonderful friendly people, and the biodiversity that’s still evident in many places. But one of the disappointments has been the impact of careless disposal of rubbish – whether in the canals and waterways of Jakarta, the beaches of Flores or the national parks, trash threatens to overwhelm many ecosystems and poses health risks.

We had a family holiday in Flores in 2011, staying at Waecicu Eco-resort and travelling to see the Komodo dragon while enjoying snorkelling along the way. The geography was magnificent, conical islands rising out of the bays around Labuan Bajo, azure waters and clear skies, and eye-catching vistas across grassy knolls featuring trees that look like something from Dr Suess’s imagination. In short, exactly the sort of place that tourists from Indonesia or abroad are attracted to.

Up close, sadly, the beaches were covered in rubbish and more swept in daily from Labuan Baju. The only counterpoint was a visit to Cunca Wulang canyon in the mountains above Labuan Bajo where the waterfalls and swimming holes and surrounding areas were pristine. When I asked the guide why there was such a difference between this beautiful spot and so many others, he responded that his village had a single source of income, the canyons, and if they were spoiled his people would suffer. That contrast in attitude has stuck with me and it’s been a talking point whenever Indonesians raise with me the challenges they face around pollution.

The fundamental challenge here is attitudinal. If people think about the consequences of throwing something away and manage waste carefully, a huge difference can be made quickly. And a cleaner environment has a host of other benefits, obviously to health but also for industries like tourism. I well recall the “be a tidy kiwi” campaign that got children on board with the notion of avoiding littering and the “take nothing but photographs, leave nothing but footprints” slogans that applied in the national parks in New Zealand. I believe that these helped produce a more sensitive approach to waste disposal in New Zealand, though I am sure there is scope for us to do even better.

So my experiences in Flores and elsewhere in Indonesia made me hope that there might be ways to help make a small difference in this country. I’m fortunate to have as one element in the aid programme with Indonesia a fund for small projects, the Head of Mission Fund. We use this to help communities with development objectives.

Alongside more mainstream development activities, in the past year or so we’ve supported a recycling programme, the KDM green project, in Jakarta which involves the recycling of waste from office buildings and residences with proceeds being used to help house, sustain and educate street children. We’ve also supported ECO-Flores, a conference designed to look to a more sustainable future for the development of Flores.

ECO-Flores was an exciting initiative to bring together individuals, businesses, NGOs and government to identify ways to work towards a sustainable future for Flores, for current and future generations. Spearheaded by Nina van Toulon, a Dutch national and businesswoman who has been visiting Flores frequently since 2010 and “lost her heart to Flores”, the meeting involved a series of working groups addressing particular development challenges facilitated by experts. Over the four day event, 155 participants discussed the health of the local environment, the well-being of its population and their interrelation. They identified barriers to sustainability in different areas and suggestions for addressing these.

There was a sense of real excitement at the meeting because people were included in discussing the issues that affect Flores and able to share their ideas for making a difference. I think there was a sophisticated understanding among those involved about the need to identify a development path for Flores that took account of the special character of that place and the particular needs of the local people. To come back to the starting point of this blog, waste management was a particular feature and has been since on the ECO-Flores Facebook page (www.facebook.com/EcoFlores)

I’ve been in regular contact with Nina since and have also discussed ECO-Flores with Dr Frans Leburaya, the Governor of East Nusa Tenggara. Nina is working to try to get the conference outcomes translated into practice, but funding remains a challenge. The Embassy is trying to help support some additional activities to promote sustainable development in Flores. I hope that this grass-roots and open initiative does lead to education about the value of the environment and attitudinal change so that Flores can blossom sustainably.

While I’ve focused here on Flores, because it has such unique features and will be highlighted internationally when Sail Flores (involving a flotilla of yachts from many countries) happens later this year, the challenges identified are experienced throughout Indonesia and wider afield too. My goal in discussing them here is not to criticise, but to inform and to encourage those who are making a huge commitment to try and achieve change to stick to it.


Berbagai Tantangan Lingkungan Lokal dan membuat sebuah perubahan

Sebuah hal penting dari waktu saya di Indonesia adalah kesempatan untuk mengunjungi beberapa daerah yang indah dari kepulauan yang terdiri dari lebih 17000 pulau ini. Saya tersentuh oleh keindahan alam Indonesia, kayanya berbagai budaya Indonesia dan orang-orangnya yang sangat baik dan bersahabat, dan juga keragaman hayati yang masih jelas terlihat di banyak temapt. Tetapi salah satu kekecewaan adalah dampak dari dibuangnya sampah secara sembarangan – apakah itu berbagai kanal dan saluran air di Jakarta, berbagai pantai di Flores atau berbagai taman nasional, sampah mengancam berbagai ekosistem dan menghadirkan berbagai resiko kesehatan.

Kami mengadakan sebuah liburan keluarga di Flores pada tahun 2011, menginap di Waecicu Eco-resort dan bepergian untuk melihat naga Komodo sembari menikmati snorkelling ketika menuju ke sana. Keadaan alamnya sungguh menakjubkan, pulau-pulau yang berbentuk kerucut di depan teluk di sekitar Labuan Bajo, lautang yang biru dan langit yang bersih, dan berbagai pemandangan yang indah sepanjang bukit-bukit yang hijau dengan berbagai pohon yang terlihat seperti sesuatu dari imajinasi Dr Suess. Pendek kata, ini adalah jenis tempat yang para wisatawan lokal dan luar negeri akan tertarik untuk melihat.

Secara dekat, sayangnya, pantai-pantainya tertutup oleh sampah dan lebih banyak lagi sampah yang terbawa dari Labuan Bajo. Satu-satunya titikbalik adalah sebuah kunjungan ke ngarai Cunca Wulang di pegunungan di atas Labuan Bajo di mana air-air terjun dan lubang-lubang untuk renangnya sangat bersih. Ketika saya tanya pemandu kami mengapa terdapat perbedaan yang sangat mencolok antara tempat yang indah ini dan tempat-tempat lainnya, ia menjawab bahwa desanya hanya mempunyai satu sumber pemasukan, ngarai tersebut, dan bila ngarai tersebut ternodai maka masyarakat desa yang akan menderita. Perbedaan perilaku ini menyentuh saya dan hal ini telah menjadi salah satu topik pembicaraan setiap orang Indonesia berbicara tentang berbagai tantangan yang mereka hadapi di sekitar polusi.

Tantangan dasar di sini adalah bersifat perilaku. Bila masyarakat berpikir tentang berbagai konsekuensi dari membuang sesuatu dan mengelola sampah dengan hati-hati, sebuah perbedaan besar dapat dibuat dengan cepat. Sebuah lingkungan yang bersih memiliki berbagai manfaat lain, secara jelas ke kesehatan tetapi juga bagi untuk berbagai industri seperti pariwisata. Saya dengan baik mengingat kampanye “jadilah orang Selandia Baru yang rapi” yang berhasil meyakinkan anak-anak dengan ide jangan membuang sampah sembarangan dan slogan “jangan ambil sesuatu kecuali ambil gambar dan jangan tinggalkan sesuatu kecuali jejak kaki” yang diterapkan di berbagai taman nasional Selandia Baru. Saya percaya bahwa hal-hal tersebut membantu menghasilkan sebuah pendekatan yang lebih sensitif terhadap pembuangan sampah di Selandia Baru, walaupun saya yakin bahwa terdapat cakupan bagi kami untuk berbuat lebih baik lagi.

Jadi pengalaman saya di Flores dan berbagai tempat lainnya di Indonesia membuat saya berharap bahwa mungkin terdapat berbagai cara untuk membantu membuat sebuah perubahan di negeri ini. Saya beruntung memiliki sebagai sebuah elemen dari program bantuan kami dengan Indonesia sebuah dana untuk berbagai proyek kecil, Dana Duta Besar. Kami menggunakan dana ini untuk membantu berbagai komunitas dengan berbagai tujuan pembangunan.

Sejalan dengan berbagai kegiatan pembangunan utama kami, kurang lebih setahun belakangan ini, kami telah mendukung sebuah program daur ulang, proyek hijau KDM, di Jakarta yang mencakup pendaurulangan sampat dari berbagai gedung perkantoran dan perumahan yang hasilnya digunakan untuk membantu memberikan akomodasi, merawat, dan mendidik anak-anak jalanan. Kami juga telah mendukung ECO-Flores, sebuah konferensi yang didesain untuk melihat sebuah masa depan yang lebih bisa dilanjutkan untuk pembangunan Flores.

ECO-Flores adalah sebuah inisiatif yang sangat baik untuk mengumpulkan berbagai individu, perusahaan, lembaga swadaya masyarakat dan pemerintah untuk mengidentifikasi berbagai cara untuk bekerja menuju sebuha masa depan yang berkelanjutan untuk Flores, untuk generasi sekarang dan masa yang akan datang. Diujungtombaki oleh Nina van Toulon, seorang warga negara Belanda dan seorang pengusaha yang telah sering mengunjungi Flores sejak 2010 dan “kehilangan hatinya ke Flores”, pertemuan tersebut mencakup serangkaian kelompok kerja yang membahas berbagai tantangan pembangunan tertentu yang difasilitasi oleh para ahli. Selam acara empat hari ini, 155 peserta membicarakan kesehatan dari lingkungan lokal, kesejahteraan dari populasinya dan keterkaitan mereka. Mereka mengidentifikasi berbagai halangan terhadap keberlanjutan di berbagai area yang berbeda dan berbagai masukan untuk membahas halangan ini.

Terdapat rasa senang pada pertemuan tersebut karena orang-orang dilibatkan dalam pembicaran dari berbagai isu yang mempengaruhi Flores dan mampu untuk berbagi ide untuk membuat sebuah perubahan. Saya pikir terdapat sebuah pemahaman canggih di antara mereka yang terlibat tentang perlunya untuk mengidentifikasi sebuah jalur pembangunan untuk Flores yang memperhitungkan karakter khusus dari tempat ini dan juga berbagi keperluan khusus dari masyarakat lokal. Untuk kembali ke titik awal dari blog ini, pengelolaan sampah adalah fitur khusus dan sejak itu ditampikan di laman Facebook ECO-Flores Facebook (www.facebook.com/EcoFlores)

Saya telah berkomunikasi secara reguler dengan Nina sejak itu dan telah berdiskusi tentang ECO-Flores dengan Dr Frans Leburaya, Gubernur Nusa Tenggara Timur. Nina sekarang sedang bekerja untuk berusaha menerjemahkan hasil-hasil konferensi tersebut menjadi kenyataan, tetapi pendanaan tetap menjadi sebuah tantangan. Kedutaan Besar Selandia Baru sekarang sedang mencoba untuk mendukung beberapa kegiatan tambahan yang akan mendorong pembangunan berkelanjutan di Flores. Saya harap inisiatif akar rumput dan terbuka ini menuju kepada pendidikan tentang nilai dari lingkungan dan perubahan perilaku sehingga Flores dapat tumbuh secara berkelanjutan.

Walaupun saya telah memfokuskan diri ke Flores dalam tulisan ini, karena ia memiliki berbagai fitur yang unik dan akan disorot secara internasional ketika Sail Flores (yang mencakup banyak kapal layar dari banyak negara) berlangsung pada tahun ini, berbagai tantangan yang diidentifikasi dialami di seluruh Indonesia dan daerah yang lebih luas juga. Tujuan saya dalam membicarakannya di sini bukanlah untuk mengkritik, tetapi untuk menginformasikan dan untuk menyemangati mereka yang sedang berkomitmen untuk berusaha mencapai perubahan.


Comments are moderated. Please read our terms and conditions before posting.

Leave a Reply

Our terms and conditions