www.mfat.govt.nz www.safetravel.govt.nz
Go to home page - New Zealand Ministry of Foreign Affairs & Trade.

You are here: MFAT blogs > David Taylor > When Marty met Murray (take 2)

When Marty met Murray (take 2)

9th January 2014 by David Taylor, Jakarta | No Comments

At the beginning of last year I wrote a blog on the 2012 annual meeting of the Indonesian and New Zealand foreign ministers here in Jakarta.  The latest meeting took place in Auckland on 31 October 2013, following officials talks the preceding day.

The narrative for 2013 was even better than in 2012.

marty-murray-2

The two Foreign Ministers meet in Auckland

Ministers welcomed intensified high-level engagement over the year, with 15 Ministerial visits in both directions and other senior official contact also.

New Zealand had followed through on undertakings to lift its engagement in Jakarta, including through the appointment of a resident Trade Commissioner, an Education New Zealand representative and a team of Tourism New Zealand staff.   Approvals had also been obtained to appoint an Agriculture Counsellor in 2014 to the post.  Indonesia also welcomed New Zealand’s initiative to appoint of Honorary Consuls in Surabaya and Bali (we hope these people will be confirmed in the role early this year).

Ministers pointed to progress made to implement new relationship architecture, including agreements on agriculture, education, geothermal and police cooperation.  Some further areas were highlighted for new agreements and work is proceeding on those.   Our aid programme contribution was welcomed – we spend up to NZ$20 million per year on agreed priorities, though there’s a lot of design work under way at present.

Both Ministers readily agreed we needed better connectivity between the two nations.  Air New Zealand has announced a substantial increase in capacity and a further lengthening of its seasonal service from Auckland to Bali (this helped lift New Zealand arrivals in Bali in 2012 to around 49,000 – I expect the 2013 figure will be even higher).  Discussions with Garuda about resumption of a direct Jakarta to Auckland service have continued, with CEO level discussions in Jakarta between the airline, Tourism New Zealand and Auckland International Airport soon after the Ministerial discussions.

Ministers also agreed we needed to continue to make strong progress across all areas of the relationship and will do a stocktake in future of areas outlined and what’s been achieved.  As Indonesia’s Ambassador-designate Jose Tavares observed at the time, “I’ve got my homework already”.  I share his view.  While we’ve made good progress together much remains to be done to realise the potential in the relationship.

New Zealand continued to push for stronger economic connections and to find ways to facilitate trade and investment, including repeating our suggestion that Indonesia open a trade office in New Zealand.  Indonesia sought continued New Zealand support in areas like agriculture, geothermal energy and education, as well as enhanced investment.

The metrics are moving steadily in the right direction, be they around trade, visitor arrivals in both directions, or students coming to New Zealand.  But there’s a lot more potential to be mined on both sides in this relationship.  All involved need to keep working hard.  The results mean jobs in both countries and even stronger and deeper ties.

Ketika Marty bertemu Murray (pengambilan kedua)

Pada permulaan tahun lalu, saya menulis sebuah blog tentang pertemuan tahunan 2012 dari menteri luar negeri Indonesia dan Selandia Baru di Jakarta. Pertemuan yang terakhir mengambil tempat di Auckland pada tanggal 31 Oktober 2013, setelah berbagai pembicaraan resmi di hari sebelumnya.

Narasi untuk 2013 lebih baik lagi ketimbang 2012.

Para menteri menyambut hubungan tingkat tinggi yang semakin intensif selama tahun tersebut, dengan 15 kunjungan tingkat menteri di kedua arah dan juga kontak pejabat senior lainnya juga.

Selandia Baru telah melanjutkan berbagai usaha untuk meningkatkan hubungannya di Jakarta, termasuk melalui penunjukkan seorang Komisioner Perdagangan, seorang perwakilan Pendidikan Selandia Baru dan sebuah tim Pariwisata Selandia Baru. Berbagai persetujuan juga telah didapatkan untuk menunjuk seorang Konselor Pertanian di 2014 di Kedutaan Besar ini. Indonesia juga menyambut inisiatif Selandia Baru untuk menunjuk Konsul Kehormatan di Surabaya dan Bali (kami harap orang-orang ini akan mendapatkan konfirmasi untuk peran ini di awal tahun ini).

Para menteri menunjuk pada kemajuan yang dicapai untuk menerapkan arsitektur hubungan yang baru, termasuk berbagai perjanjian di bidang pertanian, pendidikan, panas bumi dan kerja sama kepolisian. Beberapa bidang yang lain ditekankan untuk berbagai perjanjian yang baru, dan pekerjaan sedang berjalan untuk mewujudkannya. Sumbangan program bantuan kami disambut – kami menghabiskan sampai NZ$20 juta per tahun pada beberapa prioritas yang disetujui, walaupun terdapat banyak pekerjaan merancang program yang sedang berjalan pada saat ini.

Kedua Menteri telah setuju bahwa kita membutuhkan keterhubungan di antara kedua negara yang lebih baik. Air New Zealand telah mengumumkan sebuah peningkatan yang berarti dalam kapasitas dan penambahan periode dari pelayanan musimannya dari Auckland ke Bali (ini membantu meningkatkan jumlah  kedatangan orang Selandia Baru di Bali pada tahun 2012 menjadi sekitar 49.000 orang – saya perkirakan angka pada tahun 2013 akan lebih tinggi lagi). Berbagai pembicaraan dengan Garuda tentang pembukaan kembali sebuah pelayanan penerbangan langsung Jakarta ke Auckland telah berlanjut, dengan berbagai pembicaraan tingkat Direktur Utama di Jakarta antara maskapai tersebut, Pariwisata Selandia Baru dan Bandara Internasional Auckland tidak lama setelah berbagai pembicaraan tingkat menteri.

Para menteri juga setuju untuk terus membuat kemajuan yang kuat di semua bidang dari hubungan dan akan membuat inventarisasi di masa depan atas berbagai bidang kerja sama yang digarisbawahi dan apa yang telah dicapai. Seperti yang Duta Besar Indonesia yang ditunjuk Jose Tavares katakana “Saya sudah memiliki pekerjaan rumah”. Saya menyetujui pandagannya. Walaupun kita telah membuat kemajuan yang baik bersama-sama, masih banyak yang perlu dilakukan untuk mewujudkan potensi dalam hubungan ini.

Selandia Baru terus mendorong tercapainya hubungan ekonomi yang lebih kuat dan untuk mencari jalan untuk memfasilitasi perdagangan dan investasi, termasuk mengulangi saran kita agar Indonesia membuka sebuah kantor perdagangan di Selandia Baru. Indonesia mencari dukungan Selandia Baru yang berlanjut di berbagai bidang seperti pertanian, energi panas bumi dan pendidikan, dan juga investasi yang lebih baik.

Metriknya bergerak dengan tetap ke arah yang benar, baik itu di sekitar perdagangan, kedatangan pengunjung di kedua arah, atau para murid yang datang ke Selandia Baru. Semua yang terlibat perlu untuk tetap bekerja keras. Hasilnya berarti berbagai pekerjaan di kedua negara dan hubungan yang lebih kuat dan dalam.

Comments are moderated. Please read our terms and conditions before posting.

Leave a Reply

Our terms and conditions