www.mfat.govt.nz www.safetravel.govt.nz
Go to home page - New Zealand Ministry of Foreign Affairs & Trade.

You are here: MFAT blogs > David Taylor > New Zealand and Indonesia : Natural Partners in the Geothermal Sector / Selandia Baru dan Indonesia: Mitra Alami di Sektor Panas Bumi

New Zealand and Indonesia : Natural Partners in the Geothermal Sector / Selandia Baru dan Indonesia: Mitra Alami di Sektor Panas Bumi

16th December 2010 by David Taylor, Jakarta | 1 Comment

The Indonesia/New Zealand geothermal logo (Mahameru with Kowhaiwhai Koru), produced by UGM academic Pri Utami (assisted by Agus Rasyd). Mahameru is a mighty volcano in the ancient Indonesian legend. It provides natural resources, including geothermal energy. Kowhaiwhai Koru is taken from the Maori wisdom to symbolise the harmony between different elements: the harmony between those involved in geothermal collaborations / Logo geothermal Indonesia/Selandia Baru (Mahameru dengan Kowhaiwhai Koru), karya cipta pengajar UGM Pri Utami (yang dibantu oleh Agus S. Rasyd). Mahameru adalah sebuah gunung berapi besar dalam legenda Indonesia kuno. Ia menyediakan sumber daya alam yang melimpah, termasuk energi panas bumi. Kowhaiwhai Koru diambil dari kearifan Maori untuk menggambarkan keselarasan antara berbagai elemen: keselarasan antara mereka yang terlibat dalam kerja sama geothermal.

Hot rocks – full steam ahead!

Indonesia has the world’s largest number of active volcanoes and many have been rumbling in recent months, with tragic consequences.

While the recent activity highlights the dangers of volcanic activity, it is also being harnessed. Indonesia has the world’s largest geothermal resource, estimated to be about 28,112 MW, a substantial geothermal electricity capability now, and ambitious plans for development. President Yudhoyono has outlined plans to add an additional 4,000 MW geothermal generating capacity by 2015.

Rapid development of its geothermal resource will help Indonesia as its rapidly expanding economy grows. The use of renewable resources will make a substantial contribution to efforts to reduce greenhouse gas emissions. And there will be new business opportunities.

That’s where New Zealand comes in. We are Indonesia’s natural partner in the geothermal sector.

For over 50 years we have cooperated with Indonesia in the development of its resource and its capabilities. Through the aid programme we built Indonesia ’s first geothermal power plant, Kamojang, which was commissioned in 1982. We also built the smallest plant in the Flores islands through the aid programme. At Auckland University around 160 geothermal engineers have been trained. And a range of New Zealanders and New Zealand companies have been involved in just about every aspect of the geothermal industry in this country.

We celebrated our strong connections in November. Together with Auckland University and with support also from the Institute of Geological and Nuclear Sciences (GNS Science), we focused on geothermal connections through a series of meetings with key Indonesian agencies and officials to explore ways we can contribute to the next phase of this country’s geothermal development. We also had an event that brought together leading players in the geothermal process here and a large number of alumni of the geothermal programme at Auckland University, with the Auckland University geothermal team and some New Zealanders working in the sector in Indonesia.

We are focusing on cooperation in the following areas:

i Environmental impact analysis;

ii Assisting in development of a national-standard tender process for local and regional governments;

iii Advising on power industry structure;

iv Education, either for university students, officials or private sector employees.

There was a very positive response from key agencies and officials and we are working now to identify specific activities to pursue in the near term. We will be negotiating a geothermal cooperation arrangement with Indonesia. We will also be supporting the training of more Indonesian geothermal engineers to staff new facilities (we reckon they need close to 1000 more trained people and New Zealand is strongly placed to assist). We will also be looking for niche opportunities for New Zealand business to engage in the exciting new developments here and we will continue to explore the contribution our aid programme can make in a targeted way.

Hot rocks, full steam ahead – indeed!

Read the Ambassador’s blog post on education for more information about the two country’s educational links.

Selandia Baru dan Indonesia: Mitra Alami di Sektor Panas Bumi

Batu-batu panas – maju dengan kecepatan uap penuh!

Indonesia memiliki jumlah gunung berapi aktif terbesar di dunia dan banyak dari gunung-gunung api tersebut telah bergemuruh dalam beberapa bulan terakhir, dengan akibat-akibat yang tragis.

Meskipun aktifitas akhir-akhir ini menekankan bahaya dari aktifitas vulkanis, aktifitas ini juga dapat dimanfaatkan. Indonesia memiliki sumber panas bumi yang paling besar di dunia, diperkirakan sebesar 28.112 MW, sebuah kapabilitas listrik sumber panas bumi yang besar, dan rencana-rencana ambisius untuk pengembangan. Presiden Yudhoyono telah menjabarkan rencana-rencana untuk menambah sebuah kapasitas pembangkit panas bumi 4.000 MW paling lambat 2015.

Pembangunan yang cepat dari sumber daya panas bumi akan membantu Indonesia saat ekonominya yang sedang berkembang cepat tumbuh. Penggunaan dari sumber-sumber daya yang terbarukan akan memberikan sebuah sumbangan yang sangat besar untuk berbagai upaya untuk mengurangi emisi gas rumah kaca. Dan akan terdapat berbagai kesempatan usaha baru.

Di sinilah di mana Selandia Baru masuk. Kami adalah mitra alami Indonesia di sektor panas bumi.

Selama lebih dari 50 tahun, kami telah bekerja-sama dengan Indonesia dalam pembangunan sumber daya dan kemampuan-kemampuannya. Melalui program bantuan, kami membangun pembangkit listrik tenaga panas bumi Indonesia yang pertama, Kamojang, yang diresmikan pada 1982. Kami juga membangun pembangkit listrik terkecil di Kepulaun Flores melalui program bantuan Selandia Baru. Di Universitas Auckland, sekitar 160 insinyur panas bumi telah dilatih. Dan beberapa orang Selandia Baru dan perusahaan Selandia Baru telah terlibat dalam hampir semua aspek dari industri panas bumi di negeri ini.

Kami merayakan hubungan-hubungan kuat kami pada bulan November. Bersama dengan Universitas Auckland dan dengan dukungan dari Institut Ilmu Geologi dan Nuklir Selandia Baru (GNS Science), kami fokus pada hubungan-hubungan panas bumi melalui serangkaian pertemuan dengan berbagai lembaga dan pejabat kunci Indonesia untuk mengeksplorasi cara-cara di mana kami dapat menyumbang untuk fase selanjutnya dari pembangunan panas bumi di negeri ini. Kami juga mengadakan sebuah acara yang menyatukan para pemain utama di proses panas bumi di sini dan sejumlah besar alumni dari program panas bumi di Universitas Auckland, dengan tim panas bumi Universitas Auckland dan beberapa orang Selandia Baru yang bekerja di sektor ini di Indonesia.

Kami fokus pada kerja sama di sektor berikut:

i Analisa dampak lingkungan;

ii Bantuan dalam pengembangan dari proses tender berstandar nasional untuk pemerintah-pemerintah lokal dan daerah;

iii Masukan pada struktur industri tenaga listrik;

iv Pendidikan, baik untuk mahasiswa, pejabat atau pegawai sektor swasta.

Terdapat sebuah respons yang sangat positif dari berbagai lembaga dan pejabat kunci, dan kami sekarang bekerja untuk mengidentifikasi aktifitas spesifik untuk dikerjakan dalam waktu dekat. Kami akan menegosiasikan sebuah pengaturan kerja-sama panas bumi dengan Indonesia. Kami juga akan mendukung pelatihan dari lebih banyak lagi insinyur panas bumi Indonesia untuk mengawaki berbagai fasilitas baru (kami perkirakan mereka memerlukan kurang lebih 1000 orang terlatih lagi dan Selandia Baru memiliki posisi kuat untuk membantu). Kami juga akan mencari berbagai peluang tertentu untuk dunia usaha Selandia untuk terlibat di berbagai perkembangan baru di sini, dan kami akan terus mengeksplorasi sumbangan yang program bantuan kami dapat berikan secara terarah.

Batu-batu panas, maju dengan kecepatan uap penuh — pasti!

Baca blog Duta Besar tentang pendidikan untuk info lebih lanjut tentang hubungan pendidikan kedua negara.

Kamojang, Indonesia's first geothermal power plant, built through NZ's aid programme / Kamojang, pembangkit listrik tenaga panas bumi pertama Indonesia, dibangun melalui dana bantuan Selandia Baru

The Auckland University's Dean of Engineering, Prof Michael Davies, delivers a speech at an alumni function in Jakarta in October 2010 / Dekan Fakultas Teknik Universitas Auckland, Prof Michael Davies, menyampaikan ceramah di acara alumni di Jakarta pada Oktober 2010

 

Some of the graduates of the Auckland University's geothermal programme / Beberapa alumni dari program panas bumi Universitas AucklandThe Indonesia/NZ geothermal graphic (Mahameru with Kowhaiwhai Koru), produced by UGM academic Pri Utami (assisted by Agus S. Rasyid). Mahameru is a mighty volcano in the ancient Indonesian legend. It provides resources, including geothermal energy. Kowhaiwhai Koru is taken from the Maori wisdom to symbolise the harmony between elements: the harmony between those involved in geothermal collaborations / Logo Panas Bumi Indonesia/Selandia Baru (Mahameru dengan Kowhaiwhai Koru), yang diciptakan oleh pengajar UGM Pri Utami (dibantu oleh Agus S Rasyd). Mahameru adalah gunung berapi besar dalam legenda kuno Indonesia. Ia menyediakan berbagai sumber daya, termasuk energi panas bumi. Kowhaiwhai Koru diambil dari kearifan lokal Maori yang menggambarkan keselarasan antara berbagai elemen: keselarasan antara semua yang terlibat di kerja sama panas bumi.

One Response to “New Zealand and Indonesia : Natural Partners in the Geothermal Sector / Selandia Baru dan Indonesia: Mitra Alami di Sektor Panas Bumi”

  1. James Lowrey James Lowrey says:

    Good to see NZ leading debate and assisting the development of this crucial sector in Indonesia, from a technical, management and education perspective. I concur with the Ambassadors perspective – geothermal energy in Indonesia presents such an abundant, and to date largely untapped, source of much needed energy. The private sector is also keen to see further development in this area. I would be pleased to become involved in any further discussion or initiatives related to the energy sector, bringing a financiers perspective to such discussion. Regards James

Comments are moderated. Please read our terms and conditions before posting.

Leave a Reply

Our terms and conditions