www.mfat.govt.nz www.safetravel.govt.nz
Go to home page - New Zealand Ministry of Foreign Affairs & Trade.

You are here: MFAT blogs > David Taylor > Prime Minister’s visit: taking it to the next level / Kunjungan Perdana Menteri: Membawanya ke Tingkat Berikutnya

Prime Minister’s visit: taking it to the next level / Kunjungan Perdana Menteri: Membawanya ke Tingkat Berikutnya

24th May 2012 by David Taylor, Jakarta | No Comments

When Prime Minister Key met President Yudhoyono in Jakarta on 17 April, the President talked about “taking the relationship to the next level”.

Both leaders recognised that while there was much to be positive about, we were each underperforming in terms of metrics like trade and people exchanges and could do better. At the end of his visit our Prime Minister spoke of Indonesia, along with China and India, being critical for New Zealand’s future.

So how will this visit contribute to lifting the relationship several notches?

Firstly, by getting the political signaling right. The leaders’ engagements were genuinely warm and the theme of partnership and renewed efforts to build stronger links for mutual benefit resonated for both sides. They were also able to talk candidly about regional developments – including how both countries can cooperate to seize opportunities and respond to challenges – some trade challenges, the Papua situation, and a range of other topics. Second, by agreeing to keep a critical eye on progress and the state of play.

President Yudhoyono suggested we look to identify some way of taking stock of progress when leaders and Ministers meet bilaterally or at regional or international meetings. In my view, that should prove to be a very powerful tool to ensure that the officials who are the stewards of the relationship on a day-to-day basis on both sides are giving the relationship the attention it warrants, not only to explore opportunities but also to resolve any barriers that maybe encountered.

Thirdly, by rounding out a serious effort to provide a formal legal basis for key elements of the relationship. At the Government level, the visit saw the signature of four new agreements on geothermal cooperation, agriculture, environment and labour. Together with the ASEAN Australia New Zealand Free Trade Agreement which entered into force for Indonesia in January this year and education and police agreements signed last year, we now have a strong platform for taking relations forward. Each agreement provides scope for consultation and the geothermal and agriculture ones are linked to aid programme activities which will help increase Indonesia’s capacities, harnessing New Zealand expertise.

The visit also saw the conclusion of a new country strategic framework for development to guide our aid activities over the coming five years (during which time we expect to spend around$100 million on agreed development projects and scholarships).

Fourth, through a clear commitment to build Team New Zealand in Indonesia. New Zealand Trade and Enterprise announced it would appoint a full time seconded Trade Commissioner to help boost the trade effort here. Education NZ was actively engaged in planning a substantial gearing up of its promotional efforts in Indonesia for the next five years, and Tourism NZ also signaled a higher level of interest in Indonesia.

Fifth, through genuinely improved connectivity, which should prove to be game-changing. Garuda Airlines, Indonesia’s flag carrier, announced an intention to resume flights to New Zealand in 2013, this time a direct service between Jakarta and Auckland. They also signed an MOU with Auckland International Airport Limited following two years of active relationship development which will help build market interest in advance of the service commencing. Christchurch International Airport Limited also engaged with Garuda about cooperation possibilities and Air New Zealand is doing the same as it looks to commence a Bali service in June.

The airline effort opens considerable new potential for people to people engagement. Tourism, education and business flows and airfreight should all be easier and will increase in the period ahead. We’re working from relatively low bases. On education, 600 Indonesians studied in New Zealand in 2011, compared to some 16,000 going to Australia to study. On tourism, 11,450 Indonesians visited New Zealand in 2011, compared to around 124,000 travelling to Australia in the same year. Even trade is more modest than it should be. Indonesia’s middle class numbers around 30 million, one hop further away than Australia. Demand for protein and food will grow. We need to build this relationship.

Sixth, by bringing in key business people to re-gear their levels of understanding about Indonesia and the potential for mutually productive engagement. The business delegation included Fonterra, whose dairy sales represent the lion’s share of New Zealand’s exports here. CEO Theo Sperrings announced plans to invest in plant in Indonesia for the first time and hinted at the potential for more. This commitment was warmly welcomed by Indonesia and was the clearest possible signal that we are serious about partnership. Beca was also represented, having a 30 year history in Indonesia and a track record second-to-none in construction and development. They are involved in the construction of a new high rise building in Jakarta which will be among the tallest in the world. All other delegation participants engaged with counterparts, either old friends or new acquaintances, and many took their interests forward. I’m sorry that space doesn’t allow me to catalogue more fully what they did and what they aspire to.

And finally I’d like to think the very considerable media coverage of the visit will have raised public awareness on both sides. There were 168 media items in Indonesia about the visit and we witnessed a quick bounce upwards in new Facebook friends for the Embassy page around the visit.

In a sense the hard work starts now. The Prime Minister’s visit shone a light on the relationship and provided fresh impetus. It’s now up to the team in the market, working with business and our Indonesian partners, to realise the shared vision of leaders.

Kunjungan Perdana Menteri: Membawanya ke Tingkat Berikutnya

Ketika Perdana Menteri Key bertemu Presiden Yudhoyono di Jakarta pada tanggal 17 April, Presiden berbicara tentang “membawa hubungan antara kedua negara ke tingkat berikutnya.” Kedua pemimpin mengakui bahwa walaupun banyak hal yang positif, kita masing-masing masih di bawah performa dalam bidang perdagangan dan pertukaran manusia, dan kita bisa berbuat lebih baik lagi. Perdana Menteri kita di akhir kunjungan berkata bahwa Indonesia, bersama China dan India, adalah penting untuk masa depan Selandia Baru.

Jadi bagaimana kunjungan ini berkontribusi untuk peningkatan hubungan beberapa tingkat ke atas?

Pertama, dengan menyampaikan dengan tepat pesan politik kita. Pertemuan kedua pemimpin benar-benar hangat, dan tema kemitraan dan upaya lanjutan untuk membangun hubungan yang lebih kuat untuk keuntungan bersama diterima dengan baik oleh kedua belah pihak. Kedua pemimpin juga mampu untuk berbicara jujur tentang berbagai perkembangan kawasan – termsuk bagaimana kedua negara dapat bekerja sama untuk meraih berbagai peluang dan merespons berbagai tantangan – seperti tantangan-tantangan perdagangan, situasi Papua, dan sejumlah topik lainnya.

Kedua, dengan setuju untuk tetap memperhatikan kemajuan dan situasi terkini. Presiden Yudhoyono menyarankan kita untuk mengidentifikasi jalan untuk menilai kemajuan yang ada ketika para pemimpin dan menteri bertemu secara bilateral atau pada berbagai pertemuan kawasan dan internasional. Dalam pandangan saya, hal ini akan terbukti sebagai alat yang sangat berguna untuk memastikan para pejabat yang merupakan para pengawas hubungan ini dari kedua belah pihak untuk setiap hari memberikan perhatian yang dibutuhkan oleh hubungan ini, tidak saja untuk menjajaki berbagai peluang tetapi juga untuk memecahkan berbagai halangan yang mungkin ditemui.

Ketiga, dengan mendorong sebuah upaya serius untuk menyediakan sebuah dasar hukum formal untuk berbagai elemen kunci dari hubungan ini. Pada tingkat Pemerintah, kunjungan ini menyaksikan penandatanganan empat perjanjian baru dalam bidang kerja sama panas bumi, pertanian, lingkungan, dan tenaga kerja. Bersama dengan Perjanjian Perdagangan Bebas ASEAN Australia Selandia Baru yang mulai berlaku untuk Indonesia pada Januari tahun ini, dan juga dengan perjanjian pendidikan dan kepolisian yang ditandatangani tahun yang lalu, kita sekarang memiliki sebuah kerangka kerja yang kuat untuk membawa hubungan ini ke depan. Setiap perjanjian menyediakan ruang lingkup untuk konsultasi, dan perjanjian panas bumi dan pertanian dikaitkan dengan berbagai kegiatan program bantuan yang akan membantu Indonesia meningkatkan berbagai kapasitasnya, dengan menangkap keahlian Selandia Baru.

Kunjungan ini juga menyaksikan disetujuinya sebuah kerangka kerja strategis untuk pembangunan Indonesia untuk memandu berbagai kegiatan bantuan kita selama lima tahun kedepan (dalam kurun waktu tersebut kita memperkirakan akan menghabiskan sekitar $100 juta untuk berbagai proyek pembangungan dan beasiswa).

Keempat, melalui sebuah komitmen jelas untuk membangun Tim Selandia Baru di Indonesia. New Zealand Trade and Enterprise mengumumkan bahwa ia akan menunjuk Komisioner Perdagangan penuh waktu dari Selandia Baru untuk membantu mendorong berbagai upaya perdagangan di sini. Education NZ secara aktif terlibat dalam perencanaan sebuah peningkatan berbagai upaya promosi di Indonesia untuk masa lima tahun kedepan, dan Tourism NZ juga telah memberi sinyal minat yang lebih tinggi di Indonesia.

Kelima, melalui konektifitas yang ditingkatkan, yang akan terbukti sebagai sebuah pengubah permainan. Garuda Airlines, maskapai nasional Indonesia, mengumumkan sebuah keinginan untuk melanjutkan rute penerbangan ke Selandia Baru pada tahun 2013, kali ini sebuah layanan penerbangan langsung dari Jakarta ke Auckland. Mereka juga menandatangani sebuah nota kesepahaman dengan Auckland International Airport Limited setelah dua tahun pengembangan hubungan yang aktif yang akan membantu membangun minat pasar mendahului dimulainya layanan penerbangan tersebut nanti. Christchurch International Airport Limited juga berhubungan dengan Garuda tentang berbagai kemungkinan kerja sama, dan Air New Zealand sekarang juga melakukan hal yang sama, bersamaan dengan dibukanya layanan penerbangan maskapai ini ke Bali pada bulan Juni ini.

Upaya penerbangan ini membuka potensi baru yang sangat besar untuk hubungan antarmanusia. Arus pariwisata, pendidikan, dan usaha dan angkutan udara akan semua menjadi lebih mudah dan akan meningkat dalam periode di depan. Kita bekerja dari dasar yang relatif rendah. Pada bidang pendidikan, 600 orang Indonesia belajar di Selandia Baru pada tahun 2011, dibandingkan sekitar 16,000 orang yang pergi ke Australia untuk belajar. Pada bidang pariwisata, 11.450 orang Indonesia mengunjungi Selandia Baru pada tahun 2011, dibandingkan sekitar 124.000 orang Indonesia yang bepergian ke Australia pada tahun yang sama. Bahkan perdagangan lebih rendah dari apa yang seharusnya bisa dicapai. Jumlah kelas menengah Indonesia mencapai sekitar 30 juta orang, selompatan lebih jauh dibanding Australia.

Keenam, dengan mendorong pelaku bisnis utama untuk meningkatkan tingkat pemahaman mereka tentang Indonesia dan tentang potensi untuk hubungan produktif yang saling menguntungkan. Delegasi dunia usaha mencakup Fonterra, yang penjualannya mewakili bagian yang besar dari ekspor Selandia Baru ke Indonesia. Dirut Fonterra Theo Sperrings mengumumkan rencana untuk membangun pabrik di Indonesia untuk pertama kalinya dan potensi untuk membangun lebih banyak lagi. Beca juga terwakili, dengan sejarah 30 tahun di Indonesia dan sebuah rekam jejak yang tak tertandingi dalam bidang konstruksi dan pembangunan. Mereka terlibat di dalam konstruksi dari sebuah gedung tinggi di Jakarta yang akan menjadi salah satu yang tertinggi di dunia. Para peserta delegasi yang lain berhubungan dengan mitra mereka, baik itu para teman lama atau para kenalan baru, dan banyak dari mereka yang menindaklanjuti minat mereka. Saya mohon maaf bahwa terbatasnya ruang dalam tulisan ini tidak mengizinkan saya untuk menjabarkan secara lengkap apa yang mereka lakukan dan apa yang mereka cita-citakan.

Dan terakhir saya ingin berpikir bahwa liputan media yang sangat besar atas kunjungan ini akan telah menaikkan kesadaran publik di kedua belah pihak. Terdapat sekitar 168 pemberitaan tentang kunjungan ini, dan kita menyaksikan pantulan ke atas yang cepat dalam jumlah teman Facebook untuk laman Kedubes Selandia Baru dalam kurun waktu sekitar kunjungan tersebut.

Kerja keras dimulai sekarang. Kunjungan Perdana Menteri menyinari hubungan dan menyediakan dorongan yang segar. Sekarang terserah kepada tim yang ada di pasar, bekerja bersama dunia usaha dan para mitra Indonesia kita, untuk mewujudkan visi bersama dari para pemimpin kita.

Prime Minister John Key meets with President Susilo Bambang Yudhoyono

Comments are moderated. Please read our terms and conditions before posting.

Leave a Reply

Our terms and conditions