www.mfat.govt.nz www.safetravel.govt.nz
Go to home page - New Zealand Ministry of Foreign Affairs & Trade.

You are here: MFAT blogs > David Taylor > Ramadhan – Indonesia-style / Ramadhan — Model Indonesia

Ramadhan – Indonesia-style / Ramadhan — Model Indonesia

5th September 2011 by David Taylor, Jakarta | 1 Comment

The Holy Month of Ramadhan has just ended with the Lebaran break, following the sighting of the new moon. 

For four weeks, Muslims have not taken food or drink during daytime, consistent with Islamic beliefs and practices. That takes a good deal of fortitude in Indonesia ’s humidity while also juggling normal work and family demands. 

Along with the religious significance of Ramadhan, Indonesians make a celebration of this period. 

The daily Buka Puasa (break fast) meal in the early evening provides an opportunity to get together with family, friends or colleagues. I invited the Embassy team over to my home for a Buka Puasa meal one evening, and we enjoyed sharing food and company outside the office environment. 

Another remarkable element of Ramadhan in Indonesia is the cultural practice of “mudik” (the tradition of going home during the Lebaran period). According to the local media, some 16 million people across Indonesia went home for Lebaran – including over 5 million people who left Jakarta for the break. This year some 100,000 migrant workers came home from Malaysia,  Singapore, Hong Kong and Middle Eastern countries. This family bonding is of deep significance for Indonesians and resonates strongly with me. 

On a lighter note, for those of us used to Jakarta’s famous and perpetual “macet” (traffic jam) who stayed in town, the city was like Invercargill – good open roads and no hold ups getting about! 

Another part of Lebaran that has special significance is the tradition of “open homes”. People invite relatives and friends to come over, to extend greetings, and to share food and drink together when the fasting month finishes. Indonesians greet each other with the expression, “Mohon maaf, lahir dan batin”, which means “My apologies for any wrongdoing in the year past”. 

I attended 13 open homes this year, including ones hosted by the President, Vice President, several Ministers and other significant public figures. This was a great opportunity to engage people briefly and to meet many folk. 

Food and beverages at the President's Lebaran open home

 

When I told a New Zealand friend about plans to attend open homes on the public holiday, they leapt to the conclusion that I was looking at properties for sale – the “open home” term being used mainly for this purpose in New Zealand! 

As I write this, I’m conscious that those Indonesians who went home for Lebaran are now thronging the roads, airports, seaports and train stations as they return from their respective hometowns. We’ll be back to normal again in a few days, but most people will be refreshed from the opportunity to be with family to share blessings. 

To all Indonesian friends, I say thank you for your friendship and support and extend best wishes and good fortune for the future. 

Ramadhan – Model Indonesia 

Bulan Suci Ramadhan baru saja berakhir dengan Lebaran, setelah adanya penampakan dari bulan yang baru. 

Selama empat minggu orang Muslim tidak minum dan makan dari pagi sampai sore hari, sesuai dengan ajaran dan praktik Islam. Hal ini membutuhkan keteguhan hati yang besar karena kelembaban udara Indonesia , dan juga karena harus tetap melakukan pekerjaan normal dan tuntutan-tuntutan keluarga lainnya. 

Bersamaan dengan signifikansi keagamaan dari Ramadhan, rakyat Indonesia merayakan periode ini. 

Acara berbuka puasa di sore hari menyediakan sebuah kesempatan untuk berkumpul bersama keluarga, teman-teman atau kolega-kolega. Saya mengundang Tim Kedutaan Besar Selandia Baru ke kediaman saya untuk sebuah acara buka puasa suatu sore, dan kami menikmati berbagi makanan dan saling menemani di luar lingkungan kantor. 

Elemen lain yang sangat menakjubkan dari Ramadhan di Indonesia adalah sebuah praktik kultural mudik (yaitu tradisi pulang ke kampung selama periode Lebaran). Menurut media lokal, kira-kira 16 juta orang di seluruh Indonesia pulang kampung untuk Lebaran – termasuk lebih dari 5 juta orang yang meninggalkan Jakarta untuk liburan Lebaran. Tahun ini kurang lebih 100.000 tenaga kerja Indonesia pulang kampung dari Malaysia, Singapura, Hong Hong, dan negara-negara Timur Tengah. Ikatan keluarga ini sangatlah penting untuk orang Indonesia , dan salah satu tradisi yang sangat menarik perhatian saya. 

A ministerial motorcade enters the Presidential Palace for the Lebaran open home function

 

Dalam hal yang lebih ringan, bagi kami yang terbiasa dengan kemacetan Jakarta yang terkenal dan terus-menerus dan tetap di Jakarta selama periode Lebaran, kota ini bagaikan Invercargill – jalan-jalan yang lengang dan tidak ada halangan dalam bepergian! 

Bagian lain dari Lebaran yang juga memiliki signifikansi khusus adalah tradisi open house. Orang-orang mengundang kerabat dan teman-teman untuk datang ke rumah mereka, dan untuk berbagi makanan dan minuman bersama ketikan bulan puasa berakhir. Orang-orang Indonesia saling menyapa dengan ungkapan, “Mohon maaf, lahir dan batin, untuk segala kesalahan di masa yang lampau. 

Saya menghadiri 13 acara open house tahun ini, termasuk yang diadakan oleh Presiden, Wakil President, beberapa Menteri, dan tokoh-tokoh publik penting lainnya. Ini adalah sebuah kesempatan yang sangat baik untuk bertemu orang secara singkat dan untuk bertemu dengan banyak orang. 

Ketika saya membeti tahu seorang teman Selandia Baru tentang rencana-rencana untuk menghadiri open house pada hari libur, mereka segera mengambil kesimpulan bahwa saya sedang mencari properti-properti yang sedang dijual – karena istilah open home di Selandia Baru biasanya dipakai untuk tujuan tersebut! 

Ketika saya menulis artikel ini, saya sadar bahwa orang-orang Indonesia yang mudik untuk Lebaran sekarang sedang memenuhi jalan-jalan, bandara-bandara, pelabuhan-pelabuhan, dan stasiun-stasiun kereta api untuk kembali dari kampung halaman mereka. Kita akan kembali normal lagi dalam beberapa hari ke depan, tetapi kita akan disegarkan oleh kesempatan untuk berkumpul bersama keluarga selama liburan untuk berbagi berkah. 

Untuk semua teman-teman Indonesia , saya ucapkan terima kasih untuk persahabatan dan dukungannya selama ini, dan saya doakan yang terbaik dan berkah di masa yang akan datang.

One Response to “Ramadhan – Indonesia-style / Ramadhan — Model Indonesia”

  1. Aprie Aprie says:

    What will happen to Ramadhan of 2012?
    That would be interested to hear the story from Mr.Ambassador

Comments are moderated. Please read our terms and conditions before posting.

Leave a Reply

Our terms and conditions