www.mfat.govt.nz www.safetravel.govt.nz
Go to home page - New Zealand Ministry of Foreign Affairs & Trade.

You are here: MFAT blogs > David Taylor > The Joy of Cultural Diplomacy

The Joy of Cultural Diplomacy

18th March 2014 by David Taylor, Jakarta | 2 Comments

One of the challenges in any relationship is helping the other side to understand your perspective.   Who you are.  What you represent.  Why things are one way not another. Culture can be a powerful tool.  It can connect people.  It can explain.  It can show.  And it can excite. I’ve just been in New Zealand on holiday, with the timing determined by Bruce Springsteen’s two Auckland concerts.  Yes, I’m a big fan and have been since the mid 1970s. The point of sharing this tidbit is that at both concerts, Springsteen began with a solo acoustic cover of “Royals”.  That amazing song, recorded by 17 year old New Zealand musician Lorde, was top of the Billboard US charts last year and has earned Lorde the 2014 Grammy for the best single of the year. By playing that song, and tweaking the lyric, Bruce reached out to and connected with the 80,000 kiwis who attended his two shows.  Cultural diplomacy. I want to know you  – I want to connect with you was Springsteen’s message. While I was back home, Peter Gontha’s Java Jazz Festival celebrated its 10th anniversary.  I think it’s now the world’s largest jazz festival and it has brought great joy to hundreds of thousands of concert goers over the years. I salute Peter, his daughter Dewi and his wonderful team for all they’ve done over the years, especially Paul Dankmeyer with whom we’ve worked each year we’ve helped a New Zealand artist to perform. This year the Embassy collaborated with Java Jazz to bring Bela Kalolo and her band from Wellington.  They performed high powered r’n’b and soul and played to large crowds.   Checkout her vibrant and exciting music here www.bellakalolo.com


Bella Kalolo performing

This was our effort to show that we have great talent too, artists who can excite. We hoped to develop some interest in New Zealand.  In addition to Java Jazz, an open performance at the Black Cat jazz club and at Paramadina University enabled us to reach out to a wider audience. A third current example, is the effort by kiwi Vaughan Hatch and his Indonesian wife Evie to share traditional Indonesian Gamelan music with audiences across New Zealand and Australia.  They believe that sharing this unique Indonesian cultural art form will help raise awareness about Indonesia and its culture.  I agree and wish them well.  Some examples of their work can be seen here, and here. If anyone wants to reach out to them about their plans or to support them, they can get in touch at info@balimusicanddance.com and see further information at www.balimusicanddance.com. Three shots of culture in this blog.  Each connecting, informing and exciting.  Soft diplomacy remains a useful tool to advance relationships.   Indahnya Diplomasi Budaya Salah satu tantangan dalam sebuah hubungan adalah membantu pihak lainnya untuk memahami pandangan anda. Siapa anda. Apa yang anda wakili. Mengapa beberapa hal dijalankan dengan suatu cara dan bukan dengan cara lainnya.  Kebudayaaan dapat menjadi sebuah alat yang sangat berguna. Ia dapat menjelaskan. Ia dapat menunjukkan. Ia dapat membuat orang terkesan. Saya baru saja berada di Selandia Baru untuk liburan, yang waktunya ditentukan oleh dua pertunjukan Bruce Springsteen di Auckland. Iya, saya penggemar berat dan telah menjadi penggemar beratnya sejak tahun 1970an. Maksud dari berbagi informasi ini adalah pada kedua pertunjukan tersebut, Springsteen memulainya dengan sebuah solo akustik dari lagu “Royals”. Lagu yang menakjubkan tersebut, yang direkam oleh penyanyi Selandia Baru berusia 17 tahun Lorde, memuncaki tangga lagu Billboard Amerika Serikat tahun lalu dan telah menghasilkan Piala Grammy 2014 untuk lagu terbaik tahun 2014 bagi Lorde.  Dengan memainkan lagu tersebut, dan merubah liriknya, Bruce menggapai ke dan terhubung dengan 80.000 orang Selandia Baru yang menghadiri kedua pertunjukannya. Diplomasi budaya – Saya ingin mengenal anda, saya ingin berhubungan dengan anda, adalah pesan dari Springsteen.  Ketika saya sedang ada di Selandia Baru, Java Jazz Festivalnya Peter Gontha merayakan ulang tahun ke10nya. Saya pikir Java Jazz sekarang adalah festival jazz terbesar di dunia, dan festival itu telah membawa keceriaan yang besar ke ratusan ribu penonton selama ini. Saya memberikan selamat untuk Peter, putrinya Dewi dan timnya yang sangat bagus untuk semua hal yang telah mereka lakukan selama ini, terutama Paul Dankmeyer, yang selalu bekerja sama dengan kami setiap kali kami membantu artis Selandia Baru untuk tampil di Java Jazz. Tahun ini Kedubes Selandia Baru bekerja sama dengan Java Jazz untuk membawa Bela Kalolo dan bandnya dari Wellington. Mereka menampilkan musik r’n’b dan soul berenergi tinggi dan tampil di depan penonton yang banyak. Lihat musiknya yang hidup dan mengesankan di  www.bellakalolo.com  Ini adalah upaya kami untuk menunjukkan bahwa kami juga memiliki talenta yang hebat juga, para artis yang dapat mengesankan. Kami berharap untuk membangun ketertarikan atas Selandia Baru. Selain Java Jazz, sebuah pertunjukan terbuka di jazz club Black Cat dan di Universitas Paramadina memungkinkan kita untuk meraih ke pemirsa yang lebih luas. Sebuah contoh ketiga, adalah upaya dari warga Selandia Baru Vaughan Hatch dan istrinya yang berasal dari Indonesia Evie untuk membagi musik tradisional Indonesia gamelan dengan audiens di Selandia Baru dan Australia. Mereka percaya bahwa berbagi budaya Indonesia unik ini akan membantu meningkatkan kesadaran tentang Indonesia dan budayanya. Saya setuju dan mendoakan yang terbaik untuk mereka. Lihat http://www.youtube.com/watch?v=NqmQ2j5rgRg dan http://www.youtube.com/watch?v=MjezWiX09ww  untuk beberapa contoh dari hasil karya mereka. Bila anda ingin menghubungi mereka tentang rencana-rencana mereka atau untuk mendukung mereka, mereka dapat dihubungi di info@balimusicanddance.com dan lihat info lebih jauh di www.balimusicanddance.com. Tiga bentuk budaya dalam blog ini. Masing-masing menghubungkan, menyebarkan informasi dan mengesankan. Diplomasi lunak tetap menjadi sebuah alat yang berguna untuk memajukan hubungan.

2 Responses to “The Joy of Cultural Diplomacy”

  1. Walter Ty Walter Ty says:

    New Zealand has come a long way from the period of “culture cringe” when foreign cultural imports were preferred over the home-grown equivalents. Developments since the 1970’s, with some government backing, has fostered a cultural industry that is the equivalent of other countries, be it in film, music, visual arts, et.al. Whereas literature was limited to the likes of Katherine Mansfield & Dame Ngaio Marsh, it’s now diversified.

  2. fathur rahman fathur rahman says:

    that’s amazing… (y)

Comments are moderated. Please read our terms and conditions before posting.

Leave a Reply

Our terms and conditions