www.mfat.govt.nz www.safetravel.govt.nz
Go to home page - New Zealand Ministry of Foreign Affairs & Trade.

You are here: MFAT blogs > David Taylor > The Value of Summits

The Value of Summits

29th October 2013 by David Taylor, Jakarta | 3 Comments

The annual APEC Summit was held recently in Bali back to back with the East Asia Summit in Brunei.  I was talking to a journalist as we waited for the Sultan of Brunei to become available for a meeting with Prime Minister Key and we got onto the question of the value of these big regional meetings.

The journalist mentioned that any process rich in acronyms is virtually guaranteed not to get a good run in the New Zealand media.  I expressed disappointment, as a foreign service officer for whom these events are important, but agreed we needed to change the narrative.

I’ve been pondering the point and thought I’d use this blog to explain why I think these meetings are valuable.

APEC-1

New Zealand Prime Minister John Key with APEC leaders

The main point is really that relationships matter.  Finding ways for our Prime Minister and other senior ministers to spend time with counterparts from other countries has value.  It enables them to get to know each other better so they can have more forward-leaning conversations and cut to the chase around bilateral, regional or global issues a lot quicker than would otherwise be the case.  It’s a lot easier to raise a delicate subject with someone you know, than a stranger.  You’re more likely to solve a problem or take forward a new initiative with a friend than with someone you don’t know well.

The Bali and Brunei events provided the Prime Minister with time to talk substantively in formal sit-down meetings with 13 leaders (across the two summits 25 countries/economies are represented).  It’s a bit of a rush, 30 minutes here and 45 there, but it’s a very efficient way to meet partners and progress New Zealand interests.  Add to that considerable amounts of time that leaders spent together in holding rooms or seated together at conference sessions or dinners, and it’s clear that over 4.5 days the Prime Minister had unrestricted and substantial access to our top regional partners.  He worked the rooms very effectively, talking to all his counterparts.

Put another way, if Mr Key was making visits to their countries, the time involved and the cost – both directly in terms of airfares and accommodation, but also indirectly through staff time spent setting up programmes and events – would be far greater.

It’s not just about form.  On substance too, New Zealand interests were very effectively advanced.

In Bali, the Prime Minister chaired a meeting of leaders involved in the Trans Pacific Partnership (TPP) trade negotiation.  That happened because US President Barack Obama stayed home to deal with major budget issues.  It put New Zealand in the spotlight as negotiators work round the clock to close the deal.  The Prime Minister was able to push hard from the chair for the completion of a high quality deal on time.

APEC-2

A conversation with Indonesia Trade Minister Gita Wirjawan and New Zealand Trade Minister Tim Groser at APEC CEO Summit

At both summits, the Prime Minister pushed our candidature for a non-permanent seat on the United Nations Security Council in 2015-16.

Discussions with Chinese President Xi Jinping in Bali and Premier Li Keqiang in Brunei provided an opportunity to take forward a range of interests with the two top Chinese leaders and many of their Cabinet colleagues.  The discussions dovetailed nicely, demonstrating sincerity and consistency on our part, and a high degree of awareness and appreciation for the way in which the relationship is developing from the Chinese leadership.

With ASEAN leaders, the Prime Minister looked forward to our 2015 commemorative summit to celebrate 40 years of partnership.  He received clear messages about the value the ASEAN countries attached to the relationship, particularly in areas like aid, education, disaster management support and agriculture development.  That will help set up further conversations at officials level about the summit and the plan of action beyond it.

In Brunei there was an opportunity to meet with members of the New Zealand community and some Bruneians with strong New Zealand connections.  That turned into a Q and A session where people quizzed the Prime Minister on things that mattered to them.   I know it means a lot to kiwis living in out of the way places to have a chance to engage directly with a politician or an official from home.

While I’ve focused here on Mr Key’s engagement, the same holds true for the part that Foreign Minister McCully and Trade Minister Groser played in discussions in Bali.

Mr McCully was only at the event for a day, but on top of the formal meetings, he had more than two hours of conversations over dinner with his counterparts from the United States, Japan, Korea, Canada and Indonesia seated at a small round table.  Worth the price of admission alone, as the conversation traversed a wide range of subjects in which New Zealand has an interest.

Mr Groser was deeply involved in a series of meetings about the TPP that helped take that agenda forward, as well as having bilateral meetings with a range of counterparts and participating in APEC events.  He also spoke to an informed business audience about free trade processes in the region.

Through the high level presence we had at these meetings, and the substance discussed, New Zealand was able to project itself as an engaged and active member of the regional community.   We absolutely have to do this.  No one owes us anything on the wider regional stage.  What we achieve is through careful and targeted engagement.

So to sum up:  our leaders got great access, they pushed our trade agenda, advanced the United Nations Security Council campaign and followed up on many other interests that count for New Zealand and New Zealanders.

They also supported the final packages of outcomes from the APEC and East Asia Summit meetings that have been developed over the past year.   That’s perhaps another story.

 

Nilai dari Pertemuan-Pertemuan Tingkat Tinggi

Pertemuan Tingkat Tinggi tahunan APEC baru-baru ini diadakan di Bali yang langsung diikuti oleh Pertemuan Tingkat Tinggi Asia Timur di Brunei. Saya berbicara dengan seorang wartawan ketika kami menunggu Sultan Brunei untuk sebuah pertemuan dengan Perdana Menteri John Key dan kita sampai pada pertanyaan tentang nilai dari berbagai pertemuan besar tersebut.

Wartawan tersebut berkata bahwa proses yang penuh dengan singkatan pada akhirnya dijamin tidak akan mendapatkan perhatian yang baik di media Selandia Baru. Saya nyatakan kekecewaan saya, sebagai seorang pejabat dinas luar negeri yang menganggap penting berbagai acara tersebut, tetapi setuju bahwa kami perlu untuk merubah narasinya.

Saya telah berpikir dan berpendapat bahwa saya akan menggunakan blog ini untuk menjelaskan mengapa saya berpendapat bahwa berbagai pertemuan ini berharga.

Poin utamanya adalah berbagai hubungan adalah penting. Mencari berbagai jalan untuk Perdana Menteri dan menteri senior lainnya untuk menghabiskan waktu bersama berbagai mitra dari negara-negara lain memiliki nilai. Ini memungkinkan mereka untuk lebih saling mengenal sehingga mereka dapat memiliki berbagai pembicaraan yang lebih dalam dan memotong basa-basi di sekitar isu bilateral, regional atau global lebih cepat dibandingkan bila mereka tidak saling mengenal. Akan menjadi lebih mudah untuk membicarakan sebuah topik yang sensitif dengan seseorang yang anda kenal, ketimbang dengan orang asing. Anda akan lebih mungkin untuk memecahkan sebuah masalah atau menindaklanjuti  sebuah ide baru dengan seorang teman ketimbang dengan seseorang yang kurang anda kenal.

Acara di Bali dan Brunei menyediakan Perdana Menteri waktu untuk berbicara dengan dalam dalam pertemuan-pertemuan resmi sambil duduk dengan 13 pemimpin (di kedua pertemuan tingkat tinggi 25 negara/ekonomi terwakili). Sedikit terburu-buru, 30 menit di sini dan 45 menit di sana, tetapi ini adalah sebuah cara yang efisien untuk bertemu para mitra dan memajukan berbagai kepentingan Selandia Baru. Tambahkan juga banyaknya waktu yang para pemimpin habiskan di berbagai ruang tunggu atau duduk bersama di berbagai sesi konverensi atau makan malam, jelas bahwa selama kurang lebih 4.5 hari Perdana Menteri mendapatkan akses tak terbatas dan besar ke para mitra utama kawasan kami. Ia bekerja dengan sangat efektif, berbicara dengan semua mitranya.

Dengan kata lain, jika Tuan Key seandainya mengadakan berbagai kunjungan ke berbagai negara tersebut, waktu yang dibuang dan biaya yang ada – baik terkait langsung seperti ongkos pesawat dan penginapan, maupun tidak terkait langsung seperti waktu para staf yang terbuang untuk menyiapkan berbagai program dan acara – akan menjadi jauh lebih besar.

Ini tidak hanya terkait formalitas. Pada inti permasalahan, berbagai kepentingan Selandia Baru juga secara efektif dimajukan.

Di Bali, Perdana Menteri memimpin sebuah pertemuan para pemimpin yang terlibat di perundingan perdagangan Trans Pacific Partnership (TPP).  Ini terjadi karena Presiden Amerika Serikat Barack Obama tinggal di rumah untuk menghadapi berbagai masalah besar anggaran. Ini membuat Selandia Baru di bawah sorotan sejalan dengan para perunding bekerja sepanjang waktu untuk mencapai kesepakatan. Perdana Menteri berhasil untuk mendorong dengan kuat untuk tercapainya kesepakatan berkualitas tinggi tepat pada waktunya.

Di kedua pertemuan tingkat tinggi, Perdana Menteri memperjuangkan nominasi Selandia Baru untuk sebuah kursi tidak tetap di Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa Bangsa pada tahun 2015-2016.

Pembicaraan-pembicaraan dengan Presiden China Xi Jinping di Bali dan Perdana Menteri Li Keqiang di Brunei menyediakan sebuah peluang untuk membawa ke depan berbagai kepentingan dengan kedua pimpinan utama China tersebut dan juga banyak dari kolega kabinet mereka. Berbagai pertemuan tersebut saling berkaitan dengan baik, yang menunjukkan ketulusan dan konsistensi kami, dan sebuah tingkat kesadaran yang tinggi untuk jalan di mana hubungan ini sedang berkembang dari pimpinan China.

Dengan para pemimpin ASEAN, Perdana Menteri mengharapkan pertemuan tingkat tinggi untuk merayakan 40 tahun dari kemitraan. Ia menerima berbagai pesan tentang nilai yang berbagai negara ASEAN kaitkan ke hubungan tersebut, terutama di beberapa bidang seperti bantuan, pendidikan, dukungan pengelolaan bencana dan pengembangan pertanian. Ini akan membantu membangun berbagai pembicaraan pada tingkat pejabat tentang pertemuan tingkat tinggi ini dan rencana aksi setelahnya.

Di Brunei, terdapat sebuah peluang untuk bertemu dengan para anggota komunitas Selandia Baru dan dengan beberapa orang Brunei dengan keterkaitan yang kuat dengan Selandia Baru. Ini berlanjut menjadi sebuah sesi tanya jawab di mana orang-orang bertanya ke Perdana Menteri tentang hal-hal yang penting untuk mereka. Saya paham bahwa penting untuk orang-orang Selandia Baru yang hidup di luar negeri untuk mendapatkan sebuah kesempatan untuk berinteraksi secara langsung dengan seorang politisi atau seorang pejabat dari rumah.

Sementara saya telah memfokuskan di sini pada hubungan Tuan Key, hal yang sama terjadi untuk bagian yang Menteri Luar Negeri McCully dan Menteri Perdagangan Groser mainkan dalam berbagai pembicaraan di Bali.

Tuan McCully hanya ada di acara selama sehari, tetapi selain berbagai pertemuan resmi yang ia hadiri, ia menghabiskan lebih dari dua jam untuk berbicara sambil makan malam dengan berbagai mitra dari Amerika Serikat, Jepang, Korea, Kanada dan Indonesia pada jamuan makan malam meja kecil. Layak dengan harga masuknya, karena pembicaran tersebut menyentuh banyak topik di mana Selandia Baru memiliki ketertarikan.

Mr Groser terlibat secara dalam dalam berbagai pertemuan tentang TPP yang membantu membawa agenda tersebut ke depan, dan juga mengadakan berbagai pertemuan bilateral dengan berbagai mitra dan berpartisipasi dalam berbagai acara APEC. Ia juga berbicara di depan sebuah audiens bisnis tentang berbagai proses perdagangan bebas di kawasan ini.

Melalui kehadiran tingkat tinggi kami di berbagai pertemuan tersebut, dan inti permasalahan yang dibicarakan, Selandia Baru mampu menunjukkan diri sebagai sebuah anggota masyarakat kawasan yang aktif dan interaktif. Kami harus melakukan hal ini. Tidak ada yang berhutang kepada kami pada panggung kawasan yang lebih luas. Apa yang kami capai adalah melalui hubungan yang hati-hati dan direncanakan.

Jadi untuk menyimpulkan: para pemimpin kami mendapatkan akses yang sangat besar, mereka memperjuangkan agenda perdagangan kami, memajukan kampanye Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-bangsa dan menindaklanjuti  berbagai kepentingan lainnya yang penting untuk Selandia Baru dan orang-orang Selandia Baru. Mereka juga mendukung berbagai paket final dari hasil-hasil dari pertemuan-pertemuan APEC dan Pertemuan Tingkat Tinggi Asia Timur yang telah dikembangkan setahun belakangan ini. Ini mungkin adalah sebuah cerita lainnya.

3 Responses to “The Value of Summits”

  1. Vince Butler Vince Butler says:

    David,

    Thank you for this blog. Seriously good point made of getting the opportunity to “touch base” with many leaders at one time. Great was the opportunity created by Presidents Obama that allowed John Key to chair the meeting on trade negotiations for the TPP.

    We are a small country that no one owes a living. Point well made.

    Regards,
    Vince B

  2. Stephen Jacobi, NZ International Business Forum Stephen Jacobi, NZ International Business Forum says:

    Thanks for this article David. In the same way as governments business leaders appreciate opportunities like the APEC CEO Summit to make contacts, foster new relationships and dialogue with governments. The APEC CEO Summit in Bali was successful from this point of view also. We appreciated the assistance from you and your team while we were there.

  3. Roy Sparringa Roy Sparringa says:

    Great information. Mr. Ambassador David Taylor is successful ambassador. It shows from his effort in strengthening collaboration between New Zealand and Indonesia in trade and investment, especially in food sectors. I do believe that this information is of interest to people of Indonesia, New Zealand and ASEAN.

Comments are moderated. Please read our terms and conditions before posting.

Leave a Reply

Our terms and conditions