www.mfat.govt.nz www.safetravel.govt.nz
Go to home page - New Zealand Ministry of Foreign Affairs & Trade.

You are here: MFAT blogs > David Taylor > Volunteers making an early difference

Volunteers making an early difference

28th November 2013 by David Taylor, Jakarta | 2 Comments

I recently received from retired academic Laurie Wesley a copy of a monograph he had edited celebrating the New Zealand University Students Association Volunteer Graduate Scheme (VGS) in Indonesia. The VGS operated in Indonesia in the late 1950s and early 1960s.

Indonesia’s huge development needs in the post-independence period provided the spark for this initiative and an Australian volunteer programme that preceded the New Zealand one.

As Ivan Southall wrote in his account of the Australian scheme, Indonesian students speaking at a University Service Assembly meeting in Bombay in 1950 talked about “a nation of eighty millions of staggering illiteracy, of a mere handful of skilled administrations, of engineers and technicians and teachers numbered only in scores, of one doctor to about every 100,000 persons, of less than a hundred pharmacists, of few more than a hundred dentists, of 93 percent of the population…without education of any kind”.

New Zealand student leaders lobbied the Government to set up a volunteer scheme in Indonesia to help address these massive needs. In 1957, the Department of External Affairs conveyed to the students union approval from both the New Zealand and Indonesian governments.

Volunteers were to receive from New Zealand their travel fares, insurance, a clothing allowance and a rehabilitation allowance on return. The government also agreed to provide a bicycle and a grant for books and equipment needed for the volunteer’s work. Indonesia agreed to provide a job, local wages and accommodation and provide the same access as other public servants to subsidised rice and other goods.

There were various delays, but the first volunteers made it to Indonesia in 1959. When the scheme finished in 1962, with the establishment of the Volunteer Service Abroad, seven New Zealanders had participated.

They were Ron and Anne Kilgour, Garth Barfoot, Laurie and Barbara Weasely and John and Janys Foster. The stories shared by five of these hardy volunteers highlight the challenges the young Indonesian nation faced and the valuable contribution the kiwis made in public works, animal husbandry and English language and dental nurse teaching.

Marcus Bull, Garth Barfoot, and Ron Kilgour

Marcus Bull, Garth Barfoot, and Ron Kilgour

John Foster with PLN colleagues

John Foster with PLN colleagues

Me with the two books in my office

Me with the two books in my office.

While in Indonesia, Laurie Wesley wrote a book in Indonesian on soil mechanics which I’m told is still available for sale here as a primary text. He later returned to Indonesia and worked on the Kamojang geothermal power station supported through New Zealand’s aid programme and which began a forty year association between the two countries in the geothermal sector. As an academic at Auckland university, Laurie was closely involved in efforts to raise awareness in New Zealand about Indonesia. His story highlights the impact Indonesia has had on his life and the positive contributions he has made to the relationship between our countries.

The same is true of the other volunteers whose stories are in the book.

Much has changed for the better in Indonesia over the past 50 years, but there are still major development needs and millions of people still live in poverty (about 100 million earn less than US$2 per day). That’s why we maintain an aid programme focused on areas where we believe we can make a real difference – areas like geothermal development, quarantine and agriculture, education and disaster risk management.

Volunteers like the seven who served here in the 50s and 60s helped develop the strong relationship we enjoy today. Their stories deserve celebration.

If anyone wants to obtain a copy of the monograph, they can email Laurie at lauriewesley36@gmail.com

PARA SUKARELAWAN MEMBUAT SEBUAH PERUBAHAN AWAL

Saya baru-baru ini menerima sebuah salinan monograf dari pensiunan akademisi Laurie Wesley yang telah ia edit untuk merayakan Skema Lulusan Sukarelawan Persatuan Mahasiswa Selandia Baru (VGS) di Indonesia. VGS beroperasi di Indonesia pada akhir tahun 1950an dan awal 1960an..
Berbagai kebutuhan pembangunan Indonesia yang sangat besar di periode pascakemerdekaan menyediakan pemicu untuk inisiatif ini dan sebuah program sukarela Australia yang mendahului program sukarela Selandia Baru.
Seperti yang Ivan Southall tulis dalam kesaksiannya tentang skema sukarela Australia, para mahasiswa Indonesia yang berbicara di sebuah pertemuan Majelis Pelayanan Universitas di Bombay pada tahun 1950 menyinggung tentang “sebuah bangsa yang terdiri dari 80 juta orang buta huruf yang mencengangkan, dari sejumlah kecil pemerintahan yang terlatih, dari sejumlah kecil insinyur, tehnisi dan guru, dari satu dokter untuk setiap 100.000 penduduk, dari jumlah apoteker yang kurang dari 100, dari dokter gigi yang hanya sedikit lebih banyak dari 100 orang, dari 93 persen dari populasi yang tanpa pernah mengenyam pendidikan jenis apa pun”.
Para pemimpin mahasiswa Selandia Baru melobi Pemerintah untuk mendirikan sebuah skema sukarelawan di Indonesia untuk membantu menjawab berbagai kebutuhan yang besar ini. Pada tahun 1957, Departemen Luar Negeri menyampaikan ke persatuan mahasiswa persetujuan dari pemerintah Selandia Baru dan Indonesia.
Para sukarelawan akan menerima dari Selandia Baru biaya perjalanan mereka, asuransi, tunjangan pakaian, dan tunjangan rehabilitasi ketika kembali. Pemerintah juga setuju untuk menyediakan sebuah sepeda dan bantuan untuk buku-buku dan peralatan yang dibutuhkan untuk pekerjaan sukarelawan. Indonesia setuju untuk menyediakan sebuah pekerjaan, upah dan akomodasi lokal dan menyediakan akses yang sama seperti pegawai negeri lainnya untuk beras dan berbagai barang subsidi lainnya.
Terdapat berbagai penundaan, tetapi para sukarelawan pertama berhasil datang ke Indonesia pada tahun 1959. Ketika skema ini selesai pada tahun 1962, dengan dibentuknya Pelayanan Sukarelawan Luar Negeri, tujuh orang Selandia Baru telah berpartisipasi. Mereka adalah Ron dan Anne Kilgour, Garth Barfoot, Laurie dan Barbara Weasely and John dan Janys Foster. Berbagai cerita yang dibagi oleh lima dari para sukarelawan yang kuat ini menggarisbawahi berbagai tantangan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia yang masih muda dan sumbangan berharga yang orang-orang Selandia Baru buat di pekerjaan umum, peternakan dan pengajaran bahasa Inggris dan kedokteran gigi.

Ketika di Indonesia, Laurie Wesley menulis buku dalam bahasa Indonesia tentang mekanika tanah yang menurut informasi yang saya terima masih tersedia di toko-toko buku sebagai buku pengantar utama. Ia kemudian kembali ke Indonesia dan bekerja di pembangkit listrik tenaga panas bumi Kamojang yang didukung oleh program bantuan Selandia Baru dan yang memulai keterhubungan selama 40 tahun di antara kedua negara di sektor panas bumi. Sebagai akademisi di Auckland University, Laurie dulu terlibat secara erat dalam berbagai upaya untuk meningkatkan kesadaran di Selandia Baru tentang Indonesia. Kisahnya menggarisbawahi dampak yang Indonesia berikan atas hidupnya dan berbagai sumbangan positif yang telah ia berikan untuk hubungan di antara kedua negara kita.
Hal yang sama juga terjadi engan para sukarelawan lainnya yang berbagai ceritanya ada dalam buku tersebut.

Banyak hal baik yang telah terjadi di Indonesia selama lebih dari 50 tahun terakhir ini, tetapi masih terdapat berbagai kebutuhan pembangunan besar dan berjuta-juta orang masih tinggal dalam kemiskinan (sekitar 100 juta orang mendapatkan penghasilan kurang dari 2 US$ per hari). Oleh karena itu kami mempertahankan sebuah program bantuan yang menitikberatkan pada berbagai bidang di mana kami percaya kami dapat membawa sebuah perubahan nyata – bidang-bidang seperti pembangunan panas bumi, karantina dan pertanian, pendidikan dan pengelolaan resiko bencana.
Para sukarelawan seperti ketujuh orang yang melayani di sini pada tahun 50an dan 60an telah membantu mengembangkan kuatnya hubungan yang kita nikmati hari ini. Berbagai kisah mereka layak untuk mendapatkan perayaan.
Bila anda ingin mendapatkan salinan dari monograf ini, mereka dapat menghubungi Laurie di lauriewesley36@gmail.com

2 Responses to “Volunteers making an early difference”

  1. Glen Kilgour Glen Kilgour says:

    As the son of one of volunteer couples (Ron and Anne Kilgour) I appreciate you acknowledging and drawing attention to the great work of this scheme and the VSA that followed. Thank you.

  2. David Taylor David Taylor says:

    Glen, many thanks for your note and my apologies for being slow to acknowledge it. Your parents did amazing work here.

Comments are moderated. Please read our terms and conditions before posting.

Leave a Reply

Our terms and conditions