www.mfat.govt.nz www.safetravel.govt.nz
Go to home page - New Zealand Ministry of Foreign Affairs & Trade.

You are here: MFAT blogs > David Taylor > When Marty met Murray / Ketika Marty bertemu Murray

When Marty met Murray / Ketika Marty bertemu Murray

14th January 2013 by David Taylor, Jakarta | No Comments

The title of this blog owes a debt to the Jakarta Post headline the day after Indonesia’s and New Zealand’s Foreign Ministers met in Jakarta on 9 October 2012 for their annual stocktake of the bilateral relationship. 

This stocktake, the Joint Ministerial Commission (JMC), provides an opportunity to look at all aspects of bilateral ties and for an open conversation on regional and international issues of shared interest.

The 2012 meeting was the fifth JMC and it was a good one.  Ministers were able to note with satisfaction strong progress made in the bilateral relationship over the past year.  As I was unable to write this piece immediately after the JMC, I’ll use it to provide a quick summary of where I think we’ve got to by the beginning of 2013.

Relationships stand or fall on the connections maintained at all levels.  I think the Indonesia New Zealand relationship saw more Ministerial connectivity in 2012 than perhaps ever before.  In addition to the Prime Minister’s visit in April, accompanied by the Trade Minister and a top-level business and official delegation, there were a number of visits to Indonesia over the year, including by the Ministers of Foreign Affairs, Trade, Economic Development and Tertiary Education, Primary Industries, Immigration and the Minister of Civil Defence/Deputy Minister of Tourism.  Indonesia’s Trade Minister visited Wellington and Auckland.  There were also valuable senior Defence, Police and other official visits in both directions.

The architecture of the bilateral relationship was also substantially strengthened.  Four new agreements were signed during the Prime Minister’s visit: geothermal energy cooperation, agriculture cooperation, environment, and labour.  There were also new private sector agreements on geothermal energy and air services connectivity.  Work is under way on a further agreement on tourism cooperation and there is unfinished business on a working holiday scheme.

People to people links were substantially advanced.  Air New Zealand began a direct seasonal service to Bali that was highly successful and ran from June to October (the airline has announced it will be available over a slightly longer period in 2013).  Garuda Airlines also signalled it will start a direct service with New Zealand in the second half of 2013.  In education, New Zealand universities established around a dozen new cooperative agreements with Indonesian counterparts and the tempo of visits by tertiary institutions picked up substantially.  Student numbers also grew, but still off a low base.  

The trade and economic relationship continued to grow overall.  Fonterra announced plans to invest US$20 million in a packaging plant in Indonesia and has followed up.  New Zealand secured country recognition for key horticultural products allowing continued imports through the Jakarta port.  A commitment to place a seconded Trade Commissioner in the Embassy in Jakarta to promote trade and investment has been realised with the appointment of Tim Anderson.

New Zealand continued to deliver aid to facilitate Indonesia’s development, focused on areas where we have the capacity to make a real difference.  Around NZ$19 million was spent in the 2011/12 financial year.  A new partnership framework was agreed and a commitment was made to provide up to $100 million over the next five years.  Design work is well under way to enable us to deliver in geothermal energy, disaster risk management, agriculture development, education – and in Eastern Indonesia (the region most challenged).  At the first High Level Aid Consultations in some years Indonesia expressed appreciation for New Zealand’s ongoing support.

Peak body interest has developed.  The new Indonesia New Zealand Friendship Councils hosted an event during the Prime Minister’s visit and the co-chairs had subsequent engagement, leading to changed nomenclature (Indonesia New Zealand Council) and plans for further events in 2013.  The ASEAN New Zealand Combined Business Council hosted a major and well-attended seminar on Indonesia business links in November and will bring a mission to Jakarta and perhaps some other points in 2013.

But there’s still much to do – we cannot rest on our laurels.  There are real opportunities for both countries to substantially grow trade and investment links in both directions.  There is still work to do to turn around a decline in beef trade over the past two years and we’re working hard on that with the Indonesian authorities and industry on both sides.  The potential for tourism and education links to blossom is considerable and the improved connectivity with Air New Zealand and Garuda services will pave the way for that.  There is much to do to get new aid activities designed and implemented well.  And we need to continue to make the most of visits in both directions.

So when Marty met Murray the conclusions were positive and the trend has continued over the past couple of months.  But both Ministers were clear that there was a need to keep pressing forward because there was untapped or unrealised potential in the relationship. 

I agree, and Team NZ in Indonesia will be seeking in 2013 to try and achieve further progress for mutual benefit.

 

 

Ketika Marty bertemu Murray

Judul dari blog ini berutang ke berita utama Jakarta Post sehari setelah Menteri Luar Negeri Indonesia dan Selandia Baru bertemu di Jakarta pada tanggal 9 Oktober 2012 untuk inventarisasi tahunan hubungan bilateral.

Inventarisasi ini, the Joint Ministerial Commission (JMC), menyediakan sebuah peluang untuk melihat semua aspek dari hubungan bilateral dan untuk sebuah pembicaraan terbuka tentang isu-isu kawasan dan internasional yang menjadi minat bersama.

Pertemuan pada tahun 2012 tersebut adalah JMC kelima dan adalah sebuah pertemuan yang baik. Kedua Menteri dapat memperhatikan dengan perasaan puas kemajuan signifikan yang dicapai dalam hubungan bilateral selama setahun terakhir ini. Karena saya tidak dapat menulis artikel ini langsung setelah JMC berakhir, saya akan menggunakannya untuk menyediakan sebuah ringkasan singkat tentang di mana saya pikir kita berada pada awal 2013.

Hubungan berdiri atau jatuh tergantung dari berbagai koneksi yang dijalin pada semua tingkatan. Saya pikir bahwa hubungan Indonesia dan Selandia Baru menyaksikan keterkaitan tingkat menteri yang lebih besar pada tahun 2012 dibandingkan mungkin pada masa sebelumnya. Selain kunjungan Perdana Menteri pada April 2012, yang didampingi oleh  Menteri Perdagangan dan delegasi dunia usaha dan pejabat tinggi, terdapat beberapa kunjungan lain ke Indonesia setahun belakangan ini, termasuk kunjungan oleh Menteri Luar Negeri, Menteri Perdagangan, Menteri Pembangunan Ekonomi dan Pendidikan Tinggi, Menteri Perindustrian Dasar, Menteri Imigrasi, dan Menteri Pertahanan Sipil/Wakil Menteri Pariwisata. Menteri Perdagangan Indonesia mengunjungi Wellington dan Auckland. Juga terdapat beberapa kunjungan Pertahanan, Kepolisian, dan kunjungan resmi berharga lainnya di kedua arah.  

Arsitektur dari hubungan bilateral juga secara signifikan diperkuat. Empat perjanjian baru ditandatangani dalam kunjungan Perdana Menteri: kerjasama energi panas bumi, kerjasama pertanian, kerjasama lingkungan, kerjasasma ketenagakerjaan. Terdapat juga beberapa perjanjian swasta baru dalam bidang energy panas bumi dan keterkaitan pelayanan perhubungan udara. Pekerjaan sedang dalam proses dalam hal perjanjian lebih jauh tentang kerjasama pariwisata dan terdapat juga pekerjaan yang belum selesai dalam hal skema visa bekerja sambil berlibur.

Hubungan orang ke orang secara signifikan ditingkatkan Air New Zealand memulai sebuah pelayanan musiman ke Bali yang sangat berhasil dan berlangsung dari Juni ke Oktober (maskapai ini telah mengumumkan bahwa pelayanan ini akan tersedia dengan periode yang sedikit lebih panjang pada tahun 2013). Garuda Airlines juga telah memberi sinyal bahwa ia akan memulai sebuah pelayanan udara langsung dengan Selandia Baru di paruh kedua tahun 2013.  Dalam bidang pendidikan, berbagai universitas Selandia Baru menandatangani sekitar selusin perjanjian kerjasama baru dengan para mitra universitas Indonesia dan tempo dari berbagai kunjungan oleh berbagai institusi pendidikan Selandia Baru tersebut meningkat secara signifikan. Jumlah mahasiswa juga tumbuh, tetapi masih pada basis yang rendah. 

Hubungan perdagangan dan ekonomi terus tumbuh secara umum. Fonterra mengumumkan rencana untuk menginvestasikan US$20 juta untuk sebuah pabrik pengemasan di Indonesia dan telah menindaklanjutinya. Selandia Baru mendapatkan pengakuan negara untuk berbagai produk hortikultura yang membolehkan import yang berlanjut melalui pelabuhan Jakarta. Sebuah komitmen untuk menempatkan seorang Komisioner Perdagangan di Kedutaaan Besar di Jakarta untuk mempromosikan perdagangan dan investasi telah diwujudkan dengan penunjukkan Tim Anderson.

Selandia Bar uterus menyalurkan bantuan untuk pembangunan Indonesia, dengan memfokuskan bantuan pada bidang-bidang di mana kami memiliki kapasitas untuk membuat sebuah perbedaan yang nyata. Sekitar NZ$19 juta disalurkan pada tahun keuangan 2011/12.  Sebuah kerangka kerja kemitraan baru disepakati dan sebuah komitment dibuat untuk menyediakan bantuan yang dapat mencapai $100 juta dalam kurun waktu lima tahun ke depan. Pekerjaan desain sedang berlangsung untuk memungkinkan kami untuk membantu dalam bidang energy panas bumi, pengelolaan resiko bencana, pengembangan pertanian, pendidikan dan di Indonesia Timur (daerah yang paling menghadapi tantangan). Pada Konsultasi Bantuan Tingkat Tinggi yang pertama dalam beberapa tahun belakangan ini, Indonesia menghargai dukungan Selandia Baru yang terus diberikan.

Minat dari asosiasi perkumpulan telah berkembang. Dewan-Dewan Persahabatan Indonesia Selandia Baru yang baru mengadakan sebuah acara dalam kunjungan Perdana Menteri dan pimpinan bersama dari Dewan-Dewan ini melakukan pertemuan selanjutnya, yang berujung pada nomenklatur yang berubah (Dewan Indonesia Selandia Baru) dan merencanakan berbagai acara lanjutan pada tahun 2013. Dewan Bisnis Gabungan ASEAN Selandia Baru mengadakan sebuah seminar besar yang dihadiri banyak pihak tentang hubungan bisnis Indonesia pada bulan November dan akan akan membawa sebuah misi ke Jakarta dan mungkin beberapa titik lainnya pada tahun 2013. 

Tetapi masih terdapat banyak hal yang harus dilakukan – kita tidak boleh berpuas  diri dan berhenti. Terdapat berbagai peluang nyata bagi kedua negara untuk secara signifikan menumbuhkan hubungan-hubungan perdagangan dan investasi di kedua arah. Masih terdapat pekerjaan yang harus dilakukan untuk membalikkan penuruan di perdagangan daging sapi selama dua tahun terakhir ini dan kami bekerja keras dalam hal ini dengan otoritas Indonesia dan dunia usaha di kedua belah pihak. Potensi untuk hubungan-hubungan pariwisata dan pendidikan untuk tumbuh sangatlah besar dan keterkaitan udara yang semakin baik dengan pelayanan udara Air New Zealand dan Garuda akan membuka jalan untuk hal tersebut. Terdapat banyak yang harus dilakukan agar berbagai aktivitas bantuan baru dapat didesain dan dilaksanakan dengan baik. Dan kita perlu mengoptimalisasi berbagai kunjungan di kedua arah.

Jadi ketika Marty bertemu Murray berbagai kesimpulannya adalah positif dan trennya telah berlanjut selama beberapa bulan setelahnya. Tetapi kedua Menteri sadar bahwa perlu untuk terus mendorong maju ke depan karena terdapat potensi yang belum tersentuh atau terwujud dalam hubungan ini. Saya setuju dan Tim Selandia Baru di Indonesia akan berusaha pada tahun 2013 untuk mencoba untuk mencapai kemajuan yang lebih jauh lagi untuk manfaat bersama.

Comments are moderated. Please read our terms and conditions before posting.

Leave a Reply

Our terms and conditions